
Junior pergi ke bandara ditemani asisten pribadinya. Dia pergi untuk perjalanan bisnisnya. Dia juga pergi untuk memastikan sesuatu di sana yang berkaitan dengan ingatannya yang tidak kunjung kembali.
"Semua sudah siap, pak. kita segera naik ke pesawat." Rian mempersilahkan Junior untuk naik ke pesawat.
Junior terasa berat untuk melangkah naik, tapi jika dia tidak naik. Maka tidak bisa untuk melihat masa lalunya dengan jernih. Dia ingin kembali mengingat semuanya. dia ingin kembali mengenang siapa dirinya.
"aku harus pergi. aku tidak boleh terbawa suasana. aku tidak mengingat siapa dia. jadi aku tidak boleh percaya kepadanya seratus persen." Junior duduk di kursinya.
Rian melihat kalau bosnya sedang dalam posisi banyak pikiran.
"Diminum dulu." Rian memberikan sebotol minuman.
"Terima kasih."
Pesawat segera lepas landas. Junior dan Rian bersiap untuk terbang ke Jerman.
...****************...
Violin bersiap untuk berangkat terapi ditemani oleh Lia. Kaki violin semakin membaik setelah di bawa ke dukun patah tulang.
__ADS_1
"Semoga setelah ini kami gue sembuh total ya, Li. udah pegel banget nih kaki. rasanya nih kaki dah pengen lari sama manjat ajah." Violin nyerocos sepanjang perjalanan mereka.
"Emangnya kali udah sembuh boleh apa lari sama manjat. ada-ada saja." Lia tertawa geli.
"itu namanya improvisasi, Li. kenapa dianggap serius banget sih?" Violin menaikkan salah satu ujung bibirnya.
"Iyah ngerti gue juga. Ish, dia juga sendiri terlalu anggap serius omongan orang."
Mereka berdua kembali tertawa bersama sebelum turun dari angkot.
Violin dibantu Lia turun dari angkot. Violin sudah tidak menggunakan tongkat untuk menopangnya berdiri dan berjalan. dia sudah bisa berjalan hanya saja masih tertatih.
"Iyah ini juga udah pelan sih. bawel banget udah dibantuin juga." Lia malah sewot akibat temannya itu selalu protes setiap kali jalan dari depan gang menuju rumah dukun patah tulang.
"permisi." Lia masuk ke dalam rumah dukun patah tulang bersama violin.
"Masuk, neng." seorang pria paruh baya menyuruh mereka masuk ke dalam.
Violin dan Lia masuk dan mereka duduk di bangku yang sudah di sediakan. violin sendiri di bantu Lia duduk di bangku khusus pasien patah tulang.
__ADS_1
dukun patah tulang datang dengan membawa peralatan medisnya untuk mengobati violin.
"tahan ya neng."
violin langsung tutup mata ketika sudah mendengar aba-aba dari Mbah dukun. Lia sendiri meringis saat dia melihat kaki Violin sudah di pegang oleh Mbah dukun dan siap untuk di obati ala dukun patah.
"Aaaaah." teriakan violin terdengar dan Lia menutup telinganya rapat-rapat.
"udah buka matanya. udah selesai. coba gerakan kakinya. pasti udah jauh lebih enteng dan lebih enak dipakai jalan. asal jangan dipake lari atau aktivitas berat dulu ya." Dukun patah memperingati violin agar tetap hati-hati.
Violin mencoba untuk menggerakkan pergelangan kakinya dan juga kaki kirinya. ternyata benar. rasanya sudah jauh lebih nyaman dari yang tadi. dia sudah bisa berjalan normal tanpa ada rasa sakit lagi.
"gimana, Vi?" tanya Lia.
"udah enak, Li. ini sih besok bisa masuk kerja lagi." Violin langsung berdiri dan menari kecil sangking bahagianya.
"jangan keganjenan deh. baru sembuh udah petakilan." Lia mulai memarahi violin.
mendengar perkataan Lia, violin langsung berhenti dan duduk kembali dengan tertib.
__ADS_1