Keindahan Dibalik Kacamata Violin

Keindahan Dibalik Kacamata Violin
Part 32 - Ungkapan cinta


__ADS_3

Violin masih tidak bisa percaya kalau ternyata junior menaruh hati kepadanya. Dia benar-benar tidak tahu selama ini ternyata junior tidak hanya menganggapnya sebagai sahabat. Selama mereka berteman dulu, Junior memang sangat perhatian dan selalu melindungi violin. Dia bahkan sering kali menolong violin dari beberapa anak yang merundungnya karena mengenakan kaca mata sejak kecil.


"Jadi dia suka? cinta? sayang gitu sama Lo? dan Lo sama sekali enggak sadar akan hal itu? ya tuhan Vi, Lo tuh enggak peka apa oon sih?" kesal Lia yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama cerita teman dekatnya itu.


"Ya mana gua tau, gua ajah sama dia tuh udah temenan dari kecil dan biasa ajah gitu hati ini. Ya sebenernya juga gua suka sama dia. cuma gua pikir itu cuma cinta monyet doang dulu bukan beneran. Sampe sekarang bahkan gue masih mikir ini tuh cuma rasa biasa." Tutur violin.


"Haduh tuhan, kenapa kamu ciptakan wanita seperti dia? dia bahkan tidak pernah menyadari apa yang tersirat di dalam hatinya sendiri, jadi bagaimana dia bisa tahu perasaan orang lain terhadapnya? pantesan ajah dia tuh manut ajah kalo di suruh-suruh sama si nenek lampir itu." Lia bicara sambil bertolak pinggang.


violin tertawa melihat tingkah teman dekatnya. dia sedikit mengembangkan tawa.


"udah lah enggak usah dipikirin lagi ke oonannya gue itu. Sekarang mendingan kita tidur, besok siap-siap kerja biar enggak di omelin nenek lampir itu."

__ADS_1


Violin menarik selimutnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Lia juga melakukan hal yang sama. mereka tidur dalam satu ruangan yang sama.


Violin yang matanya sudah terpejam tidak membuat dirinya terlelap. Dia hanya memejamkan matanya dan di dalam gelapnya dia membayangkan dirinya yang memberikan jawaban atas pernyataan cinta dari teman masa kecilnya.


Violin terkadang senyum sendiri saat membayangkan kekonyolannya saat berhadapan dengan junior. Dia sangat malu untuk menyatakan perasaannya.


...****************...


Violin sudah membuka matanya dan bersiap untuk membersihkan diri. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan berkaca.


"Apa yang dia suka dariku? untuk wajah tentu saja pas-pasan, pintar tidak terlalu, pekerjaan bahkan aku hanya sebagai karyawan packing saja di pabriknya. ah, aku belum menemukan jawaban sehingga sulit memberikan kepastian kepadanya. Apa aku tolak saja? dia itu boss, Pemiliki pabrik dan kantor dimana aku bekerja. Tidak mungkin wanita rendahan sepertiku bersanding dengan seorang pria setinggi langit."

__ADS_1


timbul rasa khawatir setelah dia bangun dari tidurnya. padahal saat dia memejamkan matanya tadi malam dia sudah merasa yakin untuk menerima pernyataan cinta junior.


Hati manusia memang kerap kali berubah tergantung situasi hati mereka. Manusia memang kerap kali sering plin-plan saat akan menentukan pilihannya. Begitu banyak hal yang dipertimbangkan oleh violin atas pernyataan cintanya junior.


Tol Tok Tok


"Vi, Lo pingsan ya di dalam? kok enggak selesai-selesai sih mandinya? gua udah kebelet nih. jadi tolong dong buruan dikit." Lia dari luar mengetuk pintu dan meneriaki violin yang sudah hampir satu jam berada di dalam toilet sambil memandangi bayangannya di dalam cermin.


Violin keluar dari dalam kamar mandi dan dengan cepatnya Lia mendorong tubuh violin sangking sudah tidak tahannya menahan hajat.


"Kebiasaan deh. Makanya bangun pagi biar enggak rebutan kamar mandi." Violin meneriaki sahabatnya yang sudah nongkrong di toilet.

__ADS_1


__ADS_2