Keindahan Dibalik Kacamata Violin

Keindahan Dibalik Kacamata Violin
Part 13 - Bantu aku mengingat semuanya


__ADS_3

Junior sangat senang bisa berbincang langsung dengan violin. ternyata wanita di hadapannya ini sangat menyenangkan.


Sejak tadi dia sampai di gang depan rumah violin. Sakit kepala sebenarnya menyerangnya. Namun, entah mengapa saat bersama violin rasa sakit itu bukan hanya berkurang, tapi tidak terasa sama sekali.


"Violin, maukah kamu membantuku? Aku ingin mengingat seluruh masa laluku. Aku ingin kembali mengetahui siapa aku sebenarnya dan kenapa aku bisa menjadi seperti ini." Junior meminta bantuan violin.


Violin dengan pelan menganggukkan kepalanya. Dia dengan senang hati akan membuat ingatan Junior kembali.


"Tenang saja, akan aku pastikan..ingatan itu kembali. Aku tidak suka melihat dirimu yang kaku ini." Violin mengerucutkan bibirnya lalu tertawa.


Junior juga ikut tertawa. Mereka langsung terlihat sangat akrab. Dari balik jendela seseorang sedang memperhatikan Violin serta Junior.


" Kalau begitu, aku pamit dulu. Kita bertemu lagi setelah kepulanganku dari Jerman." Junior bangkit dari duduknya.


"Kamu mau ke Jerman?" tanya Violin.

__ADS_1


"Benar, ada urusan bisnis di sana dan aku juga harus bertemu seseorang untuk mendukungku dalam menemukan jati diri ini," kata Junior.


"Berapa lama kamu akan pergi?" tanya violin.


"Mungkin satu bulan. Banyak hal yang harus aku ketahui tentang amnesia yang aku derita ini."


Baru saja mereka bertemu setelah sekian lama berpisah. Namun, ternyata waktu kembali memisahkan mereka. Junior harus pergi ke Jerman untuk urusan bisnis dan pengobatannya. Sedangkan violin di Indonesia dengan keadaannya yang belum normal.


"Aku harap kamu sehat dan selamat sampai di tujuan. Semoga apa yang kamu cari di sana bisa kamu temukan." Violin menyunggingkan senyuman termanis untuk sahabatnya itu.


Mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Junior. Membuat Violin senyum-senyum sendirian. Warna merah merona menyembul keluar dari pipinya. Terlihat sekali raut wajah senang dan malu-malu.


"Hmm ... hmm ... yang abis temu kangen sama sahabat masa kecil. Sahabat ketemu gede mulai terlupakan kayaknya nih?" sungut Lia.


"Yee, apaan sih Lo Li. mana mungkin lah gue bisa ngelupain Lo. secara Lo itu sahabat terbaik gue." Violin memeluk Lia dengan satu tangannya.

__ADS_1


"Serius nih? masih berlaku tuh predikat sahabat terbaik buat gue?" Lia kembali mempertanyakan posisinya di mata sahabatnya itu.


"udah, ah. Lo paling tahu isi hati gue. jadi enggak perlu gue kabarin panjang lebar posisi lo di hati gue."


Violin dan Lia masuk ke dalam rumah setelah mereka berdua mengantar Junior sampai ke pintu pagar.


Raut bahagia masih tercetak jelas di wajah violin. Dia bahagia karena Junior menemuinya dan mau kembali menjadi sahabatnya. Meski ingatannya kosong tentang persahabatan mereka, tentang waktu yang telah mereka habiskan bersama di setiap momennya. Violin tidak menyerah. Dia malah semakin bersemangat dan memikirkan cara bagaimana bisa membawa kembali ingatan sahabatnya itu.


"Bagaimana caranya aku membuat ingatannya kembali?" tanya Violin sambil melamun.


"Ajak saja dia ketempat dimana kalian memiliki banyak momen indah dan penting. Ajak juga dia ke panti asuhan tempatnya dulu di besarkan." Dengan cepat Lia memikirkan beberapa cara.


"Bener juga. Pinter juga lo Li." puji violin.


"Iyah lah. makanya sering-sering nonton drama Korea. biar cepet pinter mencari solusi." Tawanya.

__ADS_1


Violin dan Lia langsung tertawa lepas bersama. Violin bersyukur sekali ada Lia sahabat yang menjadi tempatnya berkeluh kesah.


__ADS_2