Keindahan Dibalik Kacamata Violin

Keindahan Dibalik Kacamata Violin
Part 6 - Laporan


__ADS_3

Violin duduk di kursi mobil yang sangat nyaman dengan tenang. Sedangkan Lia terus menerus tak bisa tenang dan mengagumi dalam mobil.


Melihat Lia sungguh violin sangat kesal. Namun, dia tak menghiraukannya. Dia lebih asik dengan pikirannya sendiri.


"Aku yakin. Dia adalah Jun atau Juju sahabat kami. Aku harus menghubungi Anggita untuk memastikannya lagi." Violin terus membatin di dalam hati.


"Li, duduk yang diem kenapa sih." Violin akhirnya menegur Lia yang sejak tadi duduk ya seperti orang ambeien. Baru duduk enggak lama bangun lagi.


"Vi, bangkunya empuk. Enggak kayak bangku angkot."


Noraknya Lia semakin terlihat. Sopir pun yang sedang mengemudi dengan fokus bisa tertawa juga mendengan kata-kata sahabat violin itu.


"Li, please. Jangan norak deh. Pusing gue liat lu kayak orang ambeien tau enggak." Violin memijat keningnya.


Lia pun segera duduk manis dan tidak bergerak sedikitpun. Dia tidak mau melihat sahabatnya pusing dengan kelakuannya.


Mereka tak lama sampai di mana violin tinggal.


"Pelan-pelan." Lia membantu violin turun.


Kaki violin masih terasa nyut-nyutan. Dia tidak bisa berjalan sendiri dan masih terus harus menggunakan tongkat sampai kakinya normal berjalan kembali.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pria yang berpakaian hitam khas sopir.


"Tidak, Pak. Kami bisa melakukan semua halnya sendiri. Terima kasih sudah bersedia mengantar kami pulang."


Violin mengucapkan terima kasih kepada sang sopir dan dia memapah violin masuk ke kamar.


"Vi, apa sudah tanyakan ke Bu Alita tentang uang yang masuk ke akun bankmu?" tanya Lia yang menyimpan rasa penasaran sejak tadi.


"Sudah, tapi belum ada jawaban darinya," sahut Violin.


"Vi, gue mandi dulu ya. Kayaknya perjalanan tadi membuat berkeringat dan ...," Lia mencium aroma tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Gimana enggak gerah. Kalo duduk ajah di mobil pecicilan." Celetuk violin sambil membenarkan posisi duduknya agar nyaman.


"Jangan begitu lah. Lo kan tau sendiri. Gua enggak pernah naik mobil semewah itu. Aneh ya, kok bisa kita naik mobil semewah itu?" Lia terus mengoceh.


"Sudah. Syukuri saja. Mungkin ini rezeki kita. Rezeki'kan tidak selalu berupa uang. Nasib mujur pun itu rezeki."


"Au, ah. Mau mandi." Lia berjalan keluar dan violin tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya.


*****


"Apa dia sudah sampai di rumahnya?" tanya Junior kepada Rian.


"Sudah, Pak. Sopir sudah mengabarkan kalau mereka tiba di rumah dengan selamat." Rian memberikan informasi.


"Kamu cari tahu siapa wanita itu. Setiap kali dia bertemu denganku pasti memanggilku dengan sebutan Juju atau Jun. Aku penasaran sekali dari mana dia mengenalku."


Rian yang mendengar perintah bosnya langsung mengangguk.


"Benar. Wanita itu selalu merasa mengenal pak Junior. Apa perlu aku selidiki tentang wanita itu?"


Setelah mendapatkan perintah dari seorang wanita yang di hubunginya. Rian langsung melaksanakan perintah wanita itu.


Rian menghubungi beberapa anak buahnya untuk menyelidiki violin dan asal usulnya.


*****


"Kalian semua. Bergeraklah, aku ingin secepatnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada cucuku tiga tahun yang lalu sehingga membuatnya kehilangan ingatan." Winani memberi perintahnya.


"Baik,Bu. Kami akan segera mencari tahu tentang gadis itu."


Winani menggigit ujung jari jempolnya. Dia selama ini masih belum menemukan bukti apapun tentang kecelakaan yang


Setiap kali dia ingin mencari pembuktian. Pasti ada saja halangannya seakan ada yang ingin menutupi kebenarannya.

__ADS_1


"Kali ini. Aku tidak akan kehilangan bukti itu. Aku akan terus mencarinya meski ke ujung dunia." Winani mengepal satu tangannya.


Sebagai seorang nenek yang cucunya sudah tiga tahun mengalami amnesia dan tidak mengingat apapun kecuali keluarga dekatnya. Namun, beberapa hal ingatan tentang konflik keluarga dia lupakan. Padahal itu sangat penting. Karena beberapa keluarga ada yang ingin berusaha mengincar perusahaan maupun menghancurkannya.


*****


"Li, Lia." Panggil violin kepada sahabatnya yang menemaninya di rumah.


"Apaan?" jawab Lia seraya masuk ke dalam kamar.


"Li, laper." Keluh violin kepada Lia sambil memegangi perutnya yang rata.


"Iyah, ini juga aku sedang membuat makanan. Tenang saja. Aku adalah perawat hebat." Lia membanggakan dirinya sendiri.


Violin senang sekali dikala dia sakit. Ada Lia yang menjaga dan mengurusnya. Ditambah perusahaan juga memberikan kompensasi kepadanya.


"Uang yang kemaren di kirim. Itu kompensasi dari perusahaan." Violin bicara sebelum menyuap makanannya.


"Ooh, ya? Serius? Wiiih keren banget dong. Ternyata perusahaan kita." Lia matanya berbinar.


Suara pesan masuk terdengar dari ponsel Lia. Dia langsung menyambar ponselnya. Dan matanya langsung terbelalak kaget.


"Kenapa sih?" tanya violin.


"Vi, liat nih." Lia langsung menghampiri violin.


Kini gantian mata violin yang terkejut melihat angka yang masuk ke rekening sahabatnya.


"Serius? Dapet setengah gaji?" Violin tak percaya.


"Jadi kita berdua sama-sama dapet kompensasi?" tanya violin yang masih tak percaya.


"Bukan cuma kompensasi. Di sini juga dapet email kalau gue dapet libur selama tiga hari untuk menjaga Lo. Jadi besok kita libur. Yeeeay." Lia memeluk violin dengan riang gembira.

__ADS_1


__ADS_2