
Violin, Eyang Margaretha dan Junior berada di dalam satu meja yang sama.
"silakan Violin kamu pilih menu apa yang ingin kamu makan malam ini. semua hidangan di sini kami persiapkan khusus untukmu. dalam rangka penyambutan dirimu."
lagi-lagi Violin mengernyitkan dahinya. dia benar-benar bingung apa yang sedang terjadi saat ini. Dia hanya bisa menuruti perintah yang Margaretha untuk makan malam dan menunggu keterangan Eyang Margaretha setelah makan malam usai.
"Violin, apakah kamu sebelumnya pernah berpikir untuk menikah muda?"
hampir saja Violin tersedak Untung saja makanannya sudah berhasil ia telan.
dengan wajah penuh tanya dan kebingungan violin menatap wajah Eyang Margaretha dan Junior secara bergantian.
"kenapa kamu diam violin? kamu terkejut dengan pertanyaan eyang?"Dua pertanyaan sekaligus dilontarkan Eyang Margaretha kepada violin.
bagaimana dia tidak bingung dan bertanya-tanya. Dirinya yang tidak pernah terpikirkan untuk menjalin hubungan dengan pria. membuatnya menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"maaf eyang. Aku tidak pernah terpikirkan hal itu. bahkan belum terbesit sedikitpun di dalam benakku untuk memiliki seorang kekasih ataupun dekat dengan seorang pria dan menjalin hubungan serius dengannya. Aku Masih memikirkan bagaimana caranya aku memaafkan diri dan memantaskan diriku jika suatu hari nanti ada seorang pria yang mendekatiku." violin menjawab setelah dirinya berpikir keras.
"eyang, sudah biar nanti junior saja yang menjelaskan kepada violin mengenai rencana kita. sebaiknya kita sekarang makan dulu. aku takut cacing-cacing di perut violin sudah memberontak." junior tertawa kecil meledek sahabatnya.
Violin langsung jadi malu akibat penuturan junior.
...****************...
Di depan rumah eyang Margaretha sudah ada mobil yang melaju dan memarkirnya di halaman rumah. Pria bertubuh tegap, berambut agak ikal dan memiliki kumis tipis. melangkahi anak tangga satu persatu dan langsung.
dengan keangkuhan yang sangat tinggi dia masuk tanpa membalas sapaan para penjaga.
Sifat Arogannya sangat terlihat. Dia tidak pernah mau bicara kepada para bawahan kecuali memang dia membutuhkan mereka dan untuk urusan pekerjaan. Sikap nya tertanam sejak kecil.
"Ada tamu rupanya." Dia buka suara ketika tahu mamanya sedang berada di ruang makan.
__ADS_1
"Kamu kemari Rudi?" tanya eyang Margaretha.
"Ya, ada yang ingin Rudi sampaikan mengenai rencana pertunangan junior dengan anak temanku." Ungkapnya sambil menarik kursi dan mendudukinya.
"Mama sudah pernah katakan, kalau tidak ada rencana perjodohan. Mama akan menikahkan junior dengan wanita yang dia sukai bukan dengan paksaan." Tegas eyang Margaretha.
Rudi tidak terima dengan penuturan mamanya. dia sudah bicara kepada temannya perihal perjodohan dan tidak mau menjilat ludahnya sendiri.
"Mah, siapa yang akan dia nikahi? jangan-jangan gadis kampungan seperti mamanya dulu. dia gadis yang sudah membuat kita terpisah lama dengan junior." Tuturnya.
"Dia bukan memisahkan kita dengan junior. dia hanya ingin melindungi harta satu-satunya yang dia miliki atas peninggalan suaminya. yaitu kakakmu." Eyang Margaretha terlihat tidak senang dengan kata-kata putra nya itu.
"Paman, maaf. mungkin hal ini akan menyakiti hati paman dan membuat rencana paman tidak terlaksana. Aku tidak ingin menikah dengan siapapun kecuali dengan wanita yang aku cintai selama ini. yaitu violin." Dengan sangat lantang dan gagah berani dia menolak rencana pamannya dan mengikrarkan perasaannya secara tidak langsung.
violin terkejut sebab selama ini ikatan rasa diantara mereka seharusnya hanya atas nama persahabatan bukan karena cinta lawan jenis.
__ADS_1