
Violin dan Lia pergi ke pasar bersama. Mereka berdua sangat senang dengan hanya berjalan keliling pasar saja. Mereka memang dia orang yang sangat sederhana. Benar kata orang bahagia itu sederhana.
"Seru ya, Vi. jalan begini ajah udah seneng kita." Lia tersenyum.
"Seneng ya, Li."
Meski masih merasakan kakinya sakit berjalan namun Violin tetap berjalan menyusuri pasar. melihat hiruk-pikuk suasana pasar, membuat Violin semakin bersemangat dan merasa bersyukur. hidupnya yang lebih baik daripada mereka memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lebih tetap. daripada mereka yang menjadi tukang parkir serabutan, tukang panggul dan tukang ojek payung.
di pasar Violin tidak hanya melihat mereka yang berdagang dan bekerja menjadi pekerja kasar. di sana dia juga melihat banyaknya pengemis di antara para pedagang dan juga para pembeli.
melihat hal itu membuat Violin menjadi tambah iba dan tambah mensyukuri kehidupan.
Lia mulai melakukan transaksi tawar-menawar. dia menawar harga jengkol yang sedang melambung tinggi.
"nggak bisa neng. jengkolnya lagi viral. lagi naik daun." seorang penjual menolak harga yang diminta oleh Lia.
"Mang udahlah. saya cuma mau setengah kilo doang nih, boleh ya harga segitu." lihat terus menawar tanpa pantang menyerah.
__ADS_1
melihat sahabatnya terus melakukan tawar-menawar membuat Violin terkekeh. Lia memang sangat suka dengan jengkol. kalau sudah makan dengan jengkol dia bisa menghabiskan nasi satu bakul.
"Li, udahlah beli aja. daripada nawar melulu nggak ada habisnya. lagian lu juga doyan." Violin memberikan jalan tengah.
akhirnya ia mengikuti perkataan violin. dia membeli jengkol setengah kilo dengan harga yang ditawarkan oleh si pedagang.
"terima kasih ya mang." Lia mengambil kantong plastik dan membayarnya.
mereka kembali berjalan menuju pedagang ikan asin.
"Li belikan nasi dulu dong beli jambal roti dan ikan peda." pintar violin.
"habis ini kita belanja apa lagi, Vi?" tanya Lia kepada violin.
"kayaknya udah deh Li. kaki gue juga udah capek banget nih jalan. mana pakai tongkat kayak gini lagi." keluh violin.
...****************...
__ADS_1
Junior memakai jasnya. dia memancingnya dan keluar dari dalam kamar.
"kamu sudah mau berangkat Junior?"tanya eyangnya.
"benar. Hari ini aku ada meeting penting dengan salah satu klien yang akan bekerja sama dengan cabang kita yang ada di Bandung." Junior melihat jam yang melekat di pergelangan tangannya.
"kalau begitu kamu hati-hati. tapi tunggu dulu kamu seperti orang yang kurang tidur?"tanya eyangnya kemudian melihat dengan jelas wajah Junior.
"apa kamu kurang tidur?"tanyanya penasaran karena melihat wajah cucunya yang lesu.
"tidak apa-apa eyang. aku pergi ke kantor dulu." junior langsung pergi. dia tidak mau eyangnya bertanya lebih lanjut.
Dia yang tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mimpi buruknya semalam. Junior tidak mau eyangnya menjadi kepikiran tentangnya. dia juga tidak mau eyangnya menjadi khawatir kepadanya sebab dia tidak mengkonsumsi obat-obatan itu.
"ada apa dengan dia? kenapa dia bertingkah aneh dan seakan menghindar dariku."
Margaretha yang rasa ingin tahunya tinggi. langsung menaruh curiga kepada cucunya itu. baru kali ini dia bersikap acuh. biasanya sangat hormat dan ingin berbincang lama dengannya.
__ADS_1
Margaretha naik ke lantai dua. dia mencoba membuka pintu kamar junior. namun, sayangnya pintu kamar terkunci