Keindahan Dibalik Kacamata Violin

Keindahan Dibalik Kacamata Violin
Part 20 - Rasa khawatir


__ADS_3

Violin memapah junior untuk berjalan sampai ke sebuah gajebo yang disediakan untuk para pengunjung.


"duduklah di sini dulu. kita istirahat sebentar." Violin dan Junior duduk di bibir gazebo yang hanya di plester dengan semen tanpa dikeramik.


"apa kepalamu sesakit itu? apakah ini efek dari kamu tidak meminum obat itu? jika memang menyakitkan lebih baik dikonsumsi saja lagi." violin tidak tega melihat junior yang meringis kesakitan.


"meminum obat itu memang meredakan rasa sakit ini. namun, jika aku meminumnya lagi maka hatiku lah yang menjadi sakit." Junior menatap violin.


kedua pandangan mata mereka bertemu. warna merah menyembul di sekitar area pipi violin.


hanya dengan saling memandang saja Violin sudah bisa salah tingkah. apalagi jika Violin tahu apa penyebab sakit hati yang dirasakan oleh Junior.


"udah makan sampai dengan beristirahat sebentar rasa sakit ini akan menghilang. apalagi jika ditemani olehmu." Junior merebahkan tubuhnya di dinding gazebo.

__ADS_1


Violin ikut merebahkan tubuhnya juga di samping Junior. mereka berdua saling menatap langit-langit gazebo.


"menyenangkan rasanya bisa berjalan-jalan kembali bersamamu. selama ini aku terus mencarimu. Aku bahkan sampai ke Jakarta. tanpa kusangka ternyata seorang pimpinan yang tidak pernah ku temui sebenarnya adalah dirimu. hingga suatu hari aku diminta untuk mengantar box kosmetik ruangan mu."


Violin menolehkan wajahnya ke arah Junior yang masih menatap langit-langit gazebo.


"saat Kamu memanggilku Jun dan Juju. aku ada merasa aneh, tapi rasanya panggilan itu sangat familiar di telingaku. sehingga aku meminta kepada Ryan untuk menyelidiki dirimu. Rian akhirnya mengetahui siapa dirimu sebenarnya. sehingga aku ini berada di samping, meski dengan ingatan yang belum belum pulih."


Junior menoleh ke arah Violin dan tatapan mereka kembali menyatu.


Violin sejak awal berteman dengan Junior sudah menyimpan rasa. dia sempat ingin mengutarakan rasa itu, tapi kini ketika mengetahui segalanya Dia mengurungkan niatnya. Violin sadar bahwa dia dan Junior ternyata berbeda kasta. mereka berdua bagaikan bumi dan langit. perbedaannya sangat jauh. Violin yang hidup serba kekurangan dan sederhana sedangkan Junior adalah seorang pemimpin perusahaan yang sangat diagung-agungkan oleh para pebisnis lainnya.


"violin. Apa kamu sudah memiliki pacar?"tanya Junior secara tiba-tiba.

__ADS_1


"pacar? mana sempat aku memikirkan pria dan mana sempat juga aku berpacaran. waktuku sudah habis untuk bekerja dan setelah bekerja aku habiskan untuk beristirahat agar otakku tetap waras dan tubuhku tetap sehat."Violin menyerocos panjang lebar.


Junior tertawa mendengar kejujuran dari violin.


"jadi sahabatku ini tidak punya pacar? atau sudah menunggu seseorang untuk dijadikan pacarnya?"Junior tampak sedang mengecoh sahabatnya.


"menunggu? siapa yang aku tunggu dan siapa yang mau menungguku? untuk saat ini aku tidak tertarik untuk berpacaran. aku hanya fokus dengan pekerjaanku dan untuk hidupku kedepannya. mungkin Jika aku sudah mapan sudah bisa dibilang sebagai seorang manusia. aku akan mencari pasangan."Violin menatap kembali langit-langit gazebo.


"hei kau ini manusia dan untuk Apa Lagi kamu menjadi manusia?"tanya Junior yang bingung.


"bagi orang kecil seperti kami. kami ini belum menjadi manusia. karena banyak di luar sana yang tidak memanusiakan kami. banyak di luar sana yang memanusiakan orang lain berdasarkan pencapaiannya, hartanya dan jabatannya. maka mereka baru bisa disebut manusia." Violin menghela nafas


"pernah dengar istilah 'Aku ingin jadi orang'? mungkin perkataanku tadi bisa menjelaskan konsep 'Aku ingin jadi orang atau manusia'"tanya Violin dan Junior menggeleng.

__ADS_1


"mau melanjutkan jalan-jalan?"tanya Junior kepada violin.


__ADS_2