
Junior dan violin turun dari pesawat. mereka berdua berjalan menuju ke villa yang sudah dipersiapkan oleh asisten pribadi junior.
"Violin. apa nama panggilanmu dulu adalah comel?" tanya Junior setelah mereka sampai di depan pintu villa.
Junior memutar anak kunci dan pintu terbuka. mereka masih berdiri di depan. Junior menunggu jawaban dari violin. sedangkan violin kaget karena junior mengetahui panggilan kecilnya.
"apa kamu sudah mengingatnya?" tanya violin.
"aku belum mengingatnya. hanya saja saat tadi aku tertidur di pesawat dan aku memimpikan seseorang yang hampir jatuh dari sepeda. disana aku terlihat sangat khawatir dan memanggil satu nama yaitu comel." cerita junior.
"jadi tadi kamu gelisah dan mengigau karena hal itu?" tanya violin dengan tatapan tak percaya.
Violin terkejut dan cemas sekali saat tadi di pesawat. junior gelisah dan mengeluarkan keringat dingin. violin berusaha membangunkan junior saat itu. ternyata dia baru tahu kalau junior bermimpi tentang dirinya. dan saat di pesawat dia tidak sempat bertanya tentang apapun. sebab saat junior sadarkan diri pesawat sudah landing.
"Sudah masuk. Nanti aku ceritakan."
Violin dan junior masuk ke dalam villa. Junior meletakkan kopernya dan begitu juga dengan violin.
__ADS_1
dia mengajak violin untuk duduk di sofa. junior mulai menceritakan apa saja yang ada di dalam mimpinya. violin terkadang tertawa dan menangis. dia tidak menyangka kalau sedikit demi sedikit junior mulai mengingat semuanya.
"syukurlah. kamu sudah bisa mengingatnya sedikit demi sedikit. aku senang. semoga perjalanan kita ini bisa membuatmu mengingat siapa dirimu sebenarnya." violin tersenyum.
...****************...
Margaretha sangat khawatir dengan kondisi junior. dia menghubungi Rian untuk mengetahui dimana cucunya berada. sebab dia sejak tadi menghubungi junior, tapi tidak diangkat.
"Rian, kamu harus pastikan junior tidak kenapa-kenapa. saya sejak tadi menghubunginya, tapi tidak dia angkat juga."
Margaretha menunggu kabar dari Rian. Rencananya dia akan menyusul Junior yang sedang berlibur bersama dengan violin.
telepon genggam milik Margaretha berdering dan dia langsung buru-buru mengangkatnya.
"halo Rian bagaimana? apa ada kabar?"tanya Margaretha dengan terburu-buru.
"eyang ini aku Junior bukan Rian."ujar Junior
__ADS_1
"maafkan eyang sayang. yang terlalu panik dan sejak tadi menunggu kabar dari Rian jadi eyang kira kamu adalah Rian."eyang Margaretha memang tidak sempat melihat lagi siapa yang meneleponnya tadi. dia terburu untuk mengangkat panggilan dari telepon genggamnya.
"aku baik-baik saja eyang. eyang tidak perlu khawatir. doakan saja aku bisa secepatnya mengingat semuanya."
"mengingat semuanya apa maksudnya?"tanya eyang Margaretha dengan penuh tanda tanya.
"aku pergi menyusuri tempat-tempat yang pernah aku kunjungi dengan Violin dan teman-teman lainnya. berharap ingatanku akan kembali pulih."jelas Junior kepada eyangnya.
"Junior apakah kamu baik-baik saja? apakah tidak ada rasa yang kamu rasakan seperti sakit kepala?" tanyanya penuh rasa khawatir.
"yang tidak perlu khawatir tidak ada rasa sakit sedikitpun yang aku rasakan."Junior berbohong demi kebaikan.
Junior tidak mau etabgnya tahu betapa sakitnya yang dia rasakan setelah lepas dari obat-obatan yang selama ini dia konsumsi.
"Eyang sudah dulu teleponnya. aku dan violin akan pergi ke suatu tempat."
Junior dan ea Margaretha menyudahi panggilan telepon mereka berdua. hati Margaretha kini terasa lega karena tahu kondisi cucunya baik-baik saja.
__ADS_1