
violin mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara kejutan yang akan dia buat untuk sahabat baiknya itu. mereka berdua sudah seperti kakak beradik. Lia dan Violin saling melengkapi satu sama lain. mereka sangat kompak dalam segala hal dan saling terbuka satu sama lain.
"sudah selesai. pasti Lia akan suka melihat semua ini." violin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sisi rumahnya yang sangat kecil.
Semua sudah siap. dekorasi ruangan, hidangan makan malam dan juga lilin aromaterapi yang dinyalakan agar suasana terlihat semakin romantis meski ini adalah makan malam antar sahabat.
"semua sudah siap. tinggal aku membersihkan diri dan menunggu kepulangan Lia."
Violin melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk mandi setelah selesai menyiapkan kejutan sendirian.
...****************...
junior kembali ke rumah eyang Margaretha. sesampainya dia di rumah ternyata pamannya sudah berada di sana juga. Rudi menyambut kedatangan keponakannya dengan ramah begitupula dengan Desi. mereka berdua memasang wajah terbaiknya untuk membuat keponakannya percaya kalau mereka adalah orang baik dan dapat di percaya sebagai seorang saudara.
"hai junior. bagaimana perjalanan kamu? paman dengar kamu beberapa hari ini bepergian. maafkan paman karena tidak tahu kalau kamu ternyata sudah ada di Indonesia sejak satu Minggu lalu." Rudi merangkul junior dengan akrab dan menepuk bahu keponakannya itu.
tidak apa paman. aku juga minta maaf karena tidak sempat menghubungimu sejak kepulanganku dari Jerman. maafkan aku juga sudah meninggalkan tugasku sebagai seorang pemimpin perusahaan beberapa hari ini." junior bicara sambil mengerahkan kedua tangannya menahan emosi.
Junior mengetahui sesuatu hal tentang pamannya yang membuatnya geram. dia mengetahui semua yang telah diperbuat oleh orang yang selama ini menurutnya tulus dan sangat membantunya.
"bagaimana perjalananmu? apa sangat menyenangkan?" tanya Rudi kepada junior sambil duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"perjalanan yang sangat menyenangkan." ujar junior.
"syukurlah. jika memang kamu punya waktu. teman paman ingin mengenalkan putrinya kepadamu." Rudi menatap junior.
"Tidak, boleh! junior masih sangat lelah dan mama tidak mau junior di jodohkan oleh siapapun. biar dia sendiri yang menentukan pilihan kemana hatinya akan berlabuh." Eyang Margaretha langsung menyela pembicaraan Rudi putra tirinya dengan cucunya.
"Mama!" pekik Rudi.
__ADS_1
Margaretha tidak setuju dengan rencana Rudi. dia tidak mau cucu sahnya dimanfaatkan oleh Rudi. anak yang selama ini dia besarkan.
Margaretha mengetahui kalau suaminya memiliki anak dari wanita lain dan karena ibu dari anak itu meninggal dunia. maka Margaretha merasa iba dan merawatnya seperti putranya sendiri.
Rudi juga mengetahui kalau dia adalah anak haram dari papanya. dia sangat menyayangi Margaretha sebagai seorang ibu. hanya saja timbul iri dihatinya ketika kakaknya yang menjadi pemimpin perusahaan.
"Mah, tapi Rudi sudah berjanji akan mengenalkan mereka berdua. hanya perkenalan saja. jika mereka tidak saling suka satu sama lain maka kami pihak orang tua tidak akan memaksa." Sambung Rudi.
"tidak Rudi. mama sudah memiliki wanita lain untuk keponakanmu. jadi mama tidak mengizinkan wanita manapun di perkenalkan kepadanya. biar urusan pasangan keponakanmu menjadi urusan mama!" tegas eyang Margaretha sambil duduk di bangku khususnya.
Rudi hanya bisa mematung. dia tidak menyangka kalau ternyata mamanya sudah memiliki. wanita untuk dijodohkan kepada keponakannya itu.
"junior kamu istirahat saja. perjalanan kita cukup melelahkan tadi dan kamu juga masih terlihat tidak enak badan. eyang tidak mau kamu sakit." perintah Eyang Margaretha kepada junior.
baik eyang. Paman, bibi. aku izin kembali ke kamar." junior berpamitan dengan sangat sopan meski tahu kejadian yang sebenarnya di masa lalu.
...****************...
"surprise." teriak violin ketika lampu rumah di nyalakan oleh Lia.
"Violin!" teriak girang Lia yang melihat sahabatnya sudah ada di rumah mereka berdua.
"Its me." violin merentangkan kedua tangannya dan menyambut kedatangan Lia.
Lia langsung turut memeluk sahabatnya itu. dia sangat senang melihat violin kembali. rasanya rindunya sudah terbayarkan hanya dengan melihat wajah violin.
"apa Lo baik-baik saja?" Lia memutar tubuh violin untuk memastikan kalau sahabatnya dalam kondisi prima.
"gue baik-baik saja dan gue bahkan sudah menyiapkan makan malam romantis untuk kita berdua." violin memperlihatkan menu hidangan yang sudah dia buat sendiri sejak menginjakkan kakinya di rumah.
__ADS_1
"wah, Lo emang tau ajah kalau gua udah laper beber. si nenek lampir itu hari ini bikin kerjaan gue padat banget. Untung Bu Alita bilang gue boleh pulang cepat." serunya.
"Iyah, itu karena gue minta ke Jun supaya Lo diperbolehkan pulang lebih awal. gue kangen banget tau sama Lo. bahkan jarang tidur nyenyak sangking kangennya." violin memasang wajah sendunya.
"ah, boong. buktinya Lo kagak ingat sama gue. telepon gue ajah enggak." sungut Lia.
"sorry deh. abis gue kalo telepon Lo nanti malahan jadi tambah kangen." tandasnya.
"ok ... ok. sekarang mendingan kita makan. udah kerucukan nih perut." ujar Lia sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit.
Lia dan Violin nampak senang dengan pertemuan mereka lagi. violin membagikan semua hal yang dia dan junior lakukan selama perjalanan mereka. violin menceritakan dengan penuh semangat. Lia sangat senang sebab sahabatnya sudah bisa kembali menemukan sahabat lamanya. Lia lihat kalau violin matanya berbinar-binar saat menceritakan junior. bos di perusahaan mereka berdua bekerja.
"sepertinya, sedang ada yang jatuh cinta. menceritakan pria sebegitu antusiasnya." ledek Lia
"apaan sih Lo. siapa juga yang jatuh cinta. orang gue ini lagi seneng banget tau gak sih. gua seneng karena ternyata Junior sudah mengingat semua kenangan masa lalunya. lagian kenangan masa lalu dia juga bukan hanya tentang gue kan?" violin berusaha menyembunyikan rasa yang dia miliki.
violin takut jika suatu hari nanti perasaannya terungkap. junior malah akan menjauh darinya. sejak dulu mereka murni bersama sebagai seorang sahabat dan selalu menjaga persahabatan mereka.
"sudah lanjut makannya. setelah itu kita. nonton drama Korea kesukaan kita." teriak violin dengan bersemangat.
"benar kita harus nonton drama Korea kesukaan kita. udah enam hari gue enggak nonton sebab Lo pergi sama si bos." Lia menyantap dengan cepat makanan yang sudah dibuatkan violin untuknya.
Violin dan Lia berbincang-bincang kembali setelah makan. violin dan Lia melepas rindu mereka yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu. Violin senang bisa kembali pulang kerumah dan bercengkrama dengan sahabatnya.
"jun, mengajak kita untuk pulang kampung nanti. apa Lo mau ikut?" tanya violin.
"wah, seru banget itu. tentu mau lah. siapa yang enggak mau pulang kampung. itu adalah salah satu impian gue. setelah lama tidak pulang ke sana." Lia langsung menyetujui ajakan violin.
mereka sudah lama sekali tidak pulang kampung. meski Lia lahir di Jakarta tetap saja salah satu orang tuanya berasal dari kota yang sama dengan violin. makanya mereka sangat akrab dan saling melindungi.
__ADS_1