Keindahan Dibalik Kacamata Violin

Keindahan Dibalik Kacamata Violin
Part 26 - Kondisi yang mengejutkan


__ADS_3

Margaretha masih menemani cucunya. dia tidak mau meninggalkan junior sedetikpun. dia tidak mau melewatkan perkembangan cucunya.


Violin datang ke klinik dengan membawa makanan yang sudah dia masak. kebetulan sekali klinik tempat Junior di rawat dekat dengan pasar swalayan sehingga kemarin dia sebelum kembali ke villa sempat membeli beberapa bahan masakan.


"Permisi Bu Boss. saya bawakan sarapan. semoga masakan saya cocok dengan selera Bu bos." violin meletakkan box makanan di atas meja.


"violin. panggil saya eyang saja. saya dengar dari Rian kalau kamu adalah teman masa kecil junior. dan kamu memanggilnya dengan sebutan ...," Margaretha mengingat-ingat apa nama panggilan junior dari violin.


"Jun atau juju." seru Violin.


"Nah, Iyah benar. jadi menurut saya. kamu panggil saja saya eyang Margaretha. jangan panggil sama Bu Boss. lagi pula saya bukan bos mu." Margaretha tersenyum.


"saya cicipi masakan kamu ya." Margaretha mengambil box yang ada diberikan oleh violin.


Margaretha langsung mencicipi masakan buatan tangan seorang gadis desa. saat Margaretha mencicipi wajahnya langsung berubah seketika.


"maaf, kenapa bu?" tanya violin yang melihat perubahan ekspresi dari nenek sayang sahabat.


"Hem... kamu pintar sekali memasak violin. nasi nya aromatik dan ayamnya juga kaya akan rempah-rempah. saya tidak menyangka kamu ternyata pintar memasak. eh, tadi saya dengar kamu panggil saya ibu lagi." protes Margaretha setelah memuji violin.


"ma-maaf eyang. saya hanya belum terbiasa." ujar violin dengan gugup.


"violin. jangan terlalu kaku. saya akan menganggap kamu seperti cucu saya sendiri." Margaretha melirik ke arah violin.

__ADS_1


biarin senang karena ternyata Margaretha menyukainya dan mau menganggapnya sebagai cucu.


saat sedang asyik menyantap makanan buatan violin ternyata Junior menggerakkan salah satu anggota tubuhnya.


"eyang, Junior menggerakkan jari-jarinya."Violin dengan cepat memberitahukan Margaretha.


jalinan Margaretha langsung menghampiri Junior.


"Junior Apa kamu sudah sadarkan diri? apa kamu mendengar suara eyang?" tanya Margaretha kepada Junior.


"aku panggilkan dokter dulu."


biarin langsung berlari keluar ruangan dan mencari keberadaan dokter.


dokter dan violin kembali masuk ke dalam ruangan junior. dokter memeriksa kondisi Junior dengan membuka satu persatu mata dan menyenternya. ternyata benar tidak lama kemudian Junior membuka matanya.


"syukurlah kamu sudah sadarkan diri."dokter tersenyum ke arah Junior.


Violin dan Margaretha langsung bernapas lega. mereka sangat senang mendengar kalau ternyata Junior sudah sadarkan diri.


"eyang sangat mencemaskanmu Junior."Margaretha menunjukkan wajah kecemasannya kepada cucunya.


Junior hanya tersenyum. namun dia tidak berbicara apapun.

__ADS_1


"dokter apakah cucu saya tidak mengalami hal yang buruk?"tanya Margaretha kepada dokter yang memeriksa cucunya.


"tidak Bu cucu anda dalam kondisi yang sehat walafiat. anda tidak perlu khawatir. karena kondisinya memang baik-baik saja."


Margaretha kembali menghela nafas lega.


"maaf kalian ini siapa ya?" tanya Junior ketika dokter sudah keluar dari ruangannya.


"junior. kamu tidak mengenali eyang?" Margaretha memasang wajah paniknya.


"Jun, apa kamu tidak mengenaliku?" tanya violin yang juga sangat cemas.


"maaf saya tidak ingat."


violin langsung menangis di susul oleh tangisan pecah dari Margaretha. melihat kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya menangis histeris junior tidak tega.


"Eyang, violin. sudah jangan menangis lagi. aku hanya bercanda." junior langsung tertawa kecil.


Margaretha dan violin langsung mendelik tak percaya. ternyata Meraka sedang di ke



rjain pasien klinik.

__ADS_1


__ADS_2