
Tuuutt!! Tuuut!!
Suara monitor dimeja rawat berbunyi, Juna yang melihat keadaan itu panik langsung memanggil dokter yang tengah berjaga di posnya. " Dokterrrr, dokteeeer!"
Salma membuka matanya dalam keadaan menangis, dan ia melihat Juna sedang panik disampingnya menggenggam tangan salma begitu erat. "Juna," panggil salma dengan suara lirihnya.
"Salma, kamu udah bangun? Sabar ya, bentar lagi dokter datang ya. kamu jangan banyak gerak dulu," pinta juna padanya. Salma saat itu hanya menganggukkan kepala. Ia memperhatikan dokter dan perawat yang datang mengecek statusnya.
Saat itu dokter menyatakan jika salma telah sadar sepenuhnya, mereka juga segera melepas alat yang salma pakai dan menyisakan oksigen untuk membantu pernapasan karena kemugkinan belum stabil sepenuhnya.
"Dokter, bagaimana keadaan salma?"
"Pasien baik-baik saja, kondisi nya sudah berangsur normal. Tapi, jangan diajak ngobrol terlalu banyak karna dia masih butuh banyak istrirahat untuk masa pemulihan," terang dokter padanya.
Juna menganggguk dan akan menuruti semua yang dokter ucapkan padanya. Ketika dokter dan perawatnya pergi, juna segera menghampiri salma dan menggenggam tangannya. Tak terkira perasaan juna saat ini, bahkan ia tak mampu berucap sebagai tanda rasa bahagaia hingga hanya meneteskan airmatanya saja.
__ADS_1
Salma ikut tersenyum melihat ketulusan juna padanya. "Juna, ayah mana?" tanya salma.
"Ayah sebentar lagi datang. Tadi aku sudah menghubunginya, kau rindu?" balas juna, dan salma mengangguk menjawabnya.
"Juna, aku haus, tolong ambilkan aku minum." Juna dengan sigap menuruti permintaan salma, bahkan membantunya duduk untuk meneguk air putih menggunakan pipet yang tersedia.
Hingga tak kelang beberapa lama, terdengar suara langkah kaki berlari cukup cepat dan berhenti tepat di depan ruangan salma. Bahkan tangisan bik ijah terdengar jelas ditelinganya seakan tak sabar untuk segera masuk. Sayangnya bik ijah harus menahan diri agar ruangan itu tak terlalu ramai seperti permintaan dokter.
"Salma?" panggil ayah yang langsung mendekat dan memeluk putri kesayangannya.. Ia begitu rindu, dan hanya pelukan hangat yang menjadi luapan perasaannya saat ini. Bahkan sesuatu yang langka, ketika sang ayah menangis didepan mata putrinya.
"Salma sudah sadar sayang? Maafkan ayah ya yang selama ini jahat sama kamu, ayah menyesal." Dan lagi-lagi salma hanya bisa mengangguk memberikan jawaban pada sang ayah.
Benar-benar tak ada zayn, bahkan ia tak bermimpi sama sekali mengenai siapapun dalam mimpinya. Salma tanpa sadar meneteskan airnata yang mengalir kedahinya.
"Salma, kamu kenapa?" Ayah langsung cemas dan segera mengusap air matanya. Ia kemudian membantu salma untuk sedikit merubah posisinya dengan setengah duduk brsandar bantal yang ada.
__ADS_1
" Juna dimana?" Pertanyaan pertama yang salma lontarkan pada ayahnya.
Juna beli minuman diluar. Ia baru saja beranjak setelah tenang bahwa kamu sudah benar-benar siuman, sayang. Dia bahkan tak pulang hanya untuk menunggu kamu disini," timpal sang ayah. Dan itu memang kenyataan, bukan sekedar pujian agar salma megikuti apa maunya selama ini.
Salma diam. Ia merenung sejenak menatap sang ayah dengan segala aktifitasnya disana, membersihkan wajah salma dengan tisu basah, dan bahkan menghubungi juna untuknya. Ia melihat apa yang Om bram katakan padanya selama ini, jika ayah benar-benar menyangi salma dalam diamnya.
"Yah?" panggil salma dan ayah langsung menoleh padanya.
"Ya, Sayang, ada apa? Mau sesuatu?" tanya ayah dengan penuh perhatian.
Salma tampak menghela napasnya beberapa kali, memang masih sedikit sesak meski ia masih menggunakan selang oksigen dihidungnya saat ini, tapi tak perlu menambah jumlah oksigen yang ia butuhkan.
"Salma mau, tunangan sama juna."
" Apakah itu benar, Sayang? Kamu baru sadar, tunda saja semuanya hingga kamu benar-benar sehat. Ayah tak mau membebani fikiran kamu saat ini." Ayah kembali mengusap rambutnya, namun salma justru menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Salma serius, Yah. Juna yang terbaik buat salma, dan dia yang selalu ada untuk salma."
Ayah mengatupkan bibirnya. Ia tertunduk, air matanya bahkan menetes lagi saat ini mendengar pernyataan salma. Ia bahagia, tapi bukan karena salma akhirnya patuh pada semua perintahnya, tapi ia bahagia karena salma mengambil keputusan berdasarkan kenyataan yang ada dan yang ia rasakan selama koma. Dan memang benar, hanya juna yang selalu menunggunya disana.