Kekasih Dari Alam Mimpi

Kekasih Dari Alam Mimpi
PArt 24


__ADS_3

Hari yang telah ditunggu akhirnya tiba. Adalah hari pertunangan juna dan salma yang meriah penuh rasa bahagia antar kedua keluarga yang ada, meski saat itu salma masih harus menahan segala rasa emosi dalam hatinya. Apalagi jika bukan perkara tante rina yang positif menjadi tersangka dalam kematian sang mama, dan justru saat ini menjadi penanggung jawab atas pertunangan salma.


"Sayang, bagaimana? Sudah seperti yang kamu mau?" tanya tante rina begitu lembut saat itu.


"Udah, Tan, cakep. Tapi salma minta hiasan lampunya ditambah, boleh? Supaya lebih meriah," saran salma dengan apa yang ia perhatikan kali ini.


Tante rina mengangguk dan menyanggupi semua permintaan salma. Namun ketika ia membalik badan untuk mengambil semua perlengkapan, justru salma mencegah dan menawarkan diri untuk membantunya sembari mengambil beberapa dress untuk ia pakai esok hari.


Tante rina mengangguk lagi, berpesan agar salma mengambilnya pada supir tante rina yang ada di mobil mereka dan memintanya membawakan beberapa barang yang diperlukan. "Oke," jawab salma yang langsung berlari kecil meninggalkan tante rina ditempatnya.


"Ini kesempatan buat ngorek info."


Didepan sana, salma langsung menyapa pak dito supir tante Rina yang sedang duduk santai dengan rokok ditangannya. Ia salah seorang kepercayaan tante rina yang siap mengantarnya kemana saja.


" Pak, maaf saya mau ambil dress katanya dimobil," sapa salma padanya..


"Oh iya, Non, biar saya ambilkan," jawabnya ramah dan sigap.


"Pak, bapak udah berapa lama kerja sama tante Rina?" Tanya salma.


"Kalo ngikut ibuk, saya udah 30 tahunan dari saya masih kecil. Dulu yang jadi supir bapak saya nyetirin almarhum papanya  nyonya. Lah sekarang saya nyetirin anaknya, si nyonya itu." Pak dito menjawab semua sembari terus bekerja dengan apa yang salma minta padanya.


" Oh gitu, ngomong-ngomong tante Rina katanya trauma nyetir lagi, emang kenapa pak?"sambung salma.


"Ehm, itu dulu kayaknya 20tahun yang lalu, nyonya pernah numbur ibu-ibu, terus ibunya meninggal. Itu karna dia emosi tunanganya selingkuh, jadi pulang ngebut dia," jawab santai pak dito. Wajar, karena ia tak tahu jika yang dia maksud adalah ibu salma kala itu.


Jantung salma langsung berdetak kuat, tapi ia harus tetap menaha tenang agar semua rencana tak berantakan karena emosi yang ada.

__ADS_1


"Lah terus, ngga ketahuan apa, ngga ketangkep gitu? Kan kriminal,"


" Ya elah, namanya anak orang kaya,  Non. Sogok sana sini Mah bebas, ampe lari bertahun-tahun keluar negeri, aman tuh ampe sekarang." Pak dito yang memang ringan, akhirnya buka suara atas apa yang ada. Salma semakin terpancing emosi mendengar semuanya.


"Oh oke, makasih ya Pak, udah mau ngobrol. Saya pergi dulu," pamit salma membawa beberapa barang ditangannya.


Ia  langsung pergi dengan perasaan hancur saat kenyataan ternyata mendekati dugaan, bahwa tante Rina pelakunya, tapi sekali lagi salma harus tetap tenang. Kemudian salma  langsung masuk ke kamar, dan memberi tahu Juna info yang ia dapat barusan.  Juna menerimanya dan terus menguatkan kesabaran salma saat itu.


Hingga malam tiba, acara pun akan segera dimulai karna tamu undangan sudah  berdatangan. Salma masih sibuk dirias oleh MUA dari Wo tante Rina.


"Ya allah, anak bibik udah dewasa, udah mau jadi istri orang." Bik Ijah melihat salma dengan mata berkaca-kaca.


"Lho kok bibik sedih? Kan harusnya seneng, kok malah nangis sih bik?" Tanya salma padanya.


"Bibik ndak nangis, cah ayu, bibik bahagia. Gadis kecil yang bibik rawat dari bayi, ternyata sudah dewasa, bentar lagi mau tunangan terus nikah." Bibik mengusap air mata yang tumpah dipipinya. Salma meraih bik ijah dan langsung memeluk  menenangkannya.


Tangis bik Ijah makin pecah. Tapi hanya sebentar, karna salma angsung menyeka air matanya.


"Salma, ayo keluar Juna dan keluarganya sudah datang." Ayah memanggil dari luar, karena ia tak ingin merusak moment mereka berdua disana. Salma menjawab dan kembali bersiap merapikan diri untuk keluar saat itu juga untuk semua acara yang ada.


Pov Salma.


Diluar sudah ramai, aku makin deg-deg'an saat ku langkahkan kaki keluar menemui Juna dan keluarganya.


Aku melangkah seanggun mungkin, dengan menggunakan kebaya gold yang sederhana namun bernuansa mewah, dengan kain hitam dibagian bawah, dengan make up natural, karna aku tidak suka berlebihan. Aku pun melihat Juna memandangi ku saat itu, Juna yang tampan menggunakan setelan jas serba hitam, karna aku sangat suka saat Arjuna ku memakainya.


Aku duduk di altar yang sudah disediakan didampingi Vita sahabat ku, dan menyaksikan rangkaian demi rangkaian acara, hingga akhirnya sampai di acara inti.

__ADS_1


"Fatihah Salma Asyila, dengan datangnya aku kemari adalah untuk meminang mu untuk menjadi tunanganku, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu, tapi semua akan kita lalui bersama, itu lah janji ku padamu, mau kah kamu menjadi calon istriku." Juna bersimpuh dan memakai kan cincin kami saat itu.


Aku hanya tersenyum bahagia, dan mengangguk setiap dia mengatakan rayuanya.


Setelah cincin terpasang, semua orang bersorak gembira merestui kami berdua, bahagianya saat itu. Tapi satu hal cukup Menggangu mata ku yaitu tante Rina yang selalu menempel pada ayah.Ingin sekali aku menegurnya, tapi sekali lagi aku harus sabar menunggu waktu yang pas.


Acara selesai semua berguyur pulang, hanya keluarga kami yang masih tersisa karna membicarakan masalah pernikahan yang juga sebentar lagi diselenggarakan. Kami tidak perduli, juna membawa ku kelantai atap rumah, dan kami kencan disana, membahas tentang bagaimana kedepannya, dan bik Ijah pun  memanggil.


"Non, dipanggil ndoro tuan, "


"Iya bik bentar lagi turun" Jawabku.


"Hadeeeh bik ijah terooos, gangguin mulu dia sih heran." Juna kesal dan memasang muka masam saat itu juga.


" Udah ih, yok kebawah. Kali aja ada yang penting."  Aku langsung menariknya.


"Sayang, ayo sini, duduk. Kami mau bicara," panggil tante vio pada salma, dan juga juna didekatnya.


Lagi-lagi aku terfokus pada tante Rina lagi yang duduk disebelah Ayah. Ia kesal, ingin rasanya menarik tangan wanita itu dari sana dan menyeret agar menjauh dari ayahnya.


"Ada apa, Ma?" tanya juna disana.


"Mengenai pernikahan kalian, kami sudah memutuskan agar lebih cepat diadakan, bagaimana?" Jawab ayah.


Deeg!! Jantungku berdegup, sebenarnya aku belum siap, karna aku masih terbelenggu oleh Zayn, namun bagaimanapun rencana untuk membongkar kejahatn tante Rina harus segera dilaksanakan,.


"Baik Yah, aku menuruti saja, bagaimana baiknya." Jawab Juna, dan aku mengangguk saja dengan segala keputusan yang ada.

__ADS_1


__ADS_2