Kekasih Dari Alam Mimpi

Kekasih Dari Alam Mimpi
Part 31 end


__ADS_3

"Hentikan petter, apa keuntunganmu melakukan semua ini, semua yang kau inginkan sudah aku berikan padamu" Kata Zayn dan berjalan mendekati kami.


"Hey sahabat lama ku, tidak ada keuntunganya buat ku, tapi aku hanya tidak rela jika hanya keluargaku yang mati ditanganmu, dan hanya aku yang menderita, aku ingin kau pun juga merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu, kau masih ingat kan"


"Kau berengsek petter, semua itu karna ulahmu sendiri bukan karna aku"


"Diam kau bajingan"


Doooorrr!! Petter menembak kaki kiri Zayn dan Zayn langsung tersimpuh menahan sakitnya.


"Zayyyyn"teriak ku.


"Kau lihat Zayn, kau itu lemah dihadapan nya Zayn, maka aku akan membuat mu semakin lemah saat kau melihatnya mati bersama ku hahahahahha! ".


Zayn memperhatikan waktu di Bom itu hanya tersisa 3 menit lagi, dan mulai memikirkan sesuatu dan mengodeku agar berdiri, dan aku mengikutinya.


" Dia tidak akan mati kau lah yang akan mati sendirian".


Zayn lari dengan sisa tenaganya karna kakinya yang tertembak, dan langsung menembaki tubuh petter yang penuh Bom hingga waktunya berjalan lebih cepat.


Zayn berlari kearah ku langsung memeluk tubuhku dan melompat kan tubuh kami kebawah, dan seketika bunyi ledakan pun terdengar.


Duaaaarrrrr!!! Bom ditubuh petter meledak menghancurkan tubuhnya.


Dan, BRUUUUUUGGGGH!!


Tubun ku dan tubuh Zayn jatuh tepat diatas truk berisi pasir didasar gedung, aku terlentang dengan tangan Zayn masih memeluk ku, sedang kan Zayn dalam posisi telungkup.


Aku bangun, dan membangun kan Zayn namun dia tidak bangun-bangun.


"Zayn, bangun Zayn, kita selamat Zayn, aku masih hidup bangun Zayn" Aku menangis terisak membangunkan nya.


Tiba-tiba tubuh Zayn bergerak dan Zayn. Merentangkan tubuhnya.


"Salma, kembali lah, aku sudah bisa melepasmu pergi sekarang, terlalu berbahaya jika kau disini, kembalilah pada dunia nyatamu, dan kenanglah aku hanya sebagai mimpi mu, uhuuuuk uhuuukk" Zayn batuk berdarah.


"Zayn tidak Zayn, tahan Zayn , aku akan turun dan memanggil dokter untukmu Zayn, bertahan Zayn,"


Aku ingin turun mencari pertolongan, namun Zayn mencegahnya dan memegang tangan ku.


"Aku bilang pulang lah"


"Tapi Zayn bagaimana dengan mu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu sepertin ini Zayn".


"Pulanglah Salmaku, karna kopi manis yang kuteguk Kemarin sudah menjadi daging dalam tubuhku, dan menjadi kenangan tentang manisnya kisah kita"


Pandangan ku pada Zayn mulai redup lagi, namun aku masih belum ingin pergi darinya.


"Tidak, tidaaaak, tidaaaaaak, Zayn aku tidak bisa pergi seperti ini Zayn, Zayyyyyn"

__ADS_1


Zayn tetap tergeletak diam, dengan tatapanku yang semakin samar dengan nya, dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.



Aku menarik nafas panjang dan membuka mataku, yang terlihat ada Juna sedang menelpon, dan saat melihat ku sedang menatapnya, Juna langsung menutup telpon dan menghampiriku.


"Heeey, Salma sayang kamu sudah bangun sayang, sejak kapan bangun, maaf aku tidak tahu, sebentar aku panggil dokter ya" Juna langsung menelpon dokter untuk ku.


Aku hanya terdiam menatap nya, namun aku teringat akan Zayn yang entah bagaimana nasibnya sekarang, hingga aku meneteskan air mataku sederas-derasnya.


"Hey sayang, kenapa kamu menangis, aku ada apa sayang?" Tanya Juna yang heran, dan Menyeka air mata ku, sementara aku tetap diam.


Dokter kaluarga datang memeriksa ku, dan ada ayah dan bik Ijah juga, yang terlihat begitu khawatir saat itu.


"Bagaimana kondisi Salma dok, apa dia baik-baik saja?" Tanya ayah ku pada dokter.


"Kondisinya baik-baik Saja, mungkin dia hanya bingung dengan keadaan sekarang, wajar kan karna dia sudah tidur hampir satu minggu, kalian terus saja merangsang memori nya, dan motorik nya, agar tidak terlalu kaku nanti saat dia mau bergerak".


"Baik dok terimakasih atas bantuan nya" Ayah ku mengantar dokter keluar, dan Juna tetap menemani ku.


Aku terngiang-ngiang wajah Zayn, saat kami jatuh bersama, wajah serius yang sangat yakin dalam mengambil tindakan meskipun tabu resiko nya adalah kematianya, wajah seorang pria yang memperjuangkan wanitanya meskipun nyawa taruhan nya. Namun memikir kan itu, batin ku justru terasa sangat sakit, jantung dan hatiku terasa pedih sekali, hingga aku meringkuk, dan menangis sejadi-jadi nya, dan membuat Juna semakin bingung.


"Hey sayang, apa yang membuatmu menangis, aku semakin bingung, katakan sayang" Juna merayuku dan mengusapi rambutku namun aku hanya diam.


Setiap hari, ku habis kan dengan duduk ditaman atap Rumah, dan dikamar sambil melamun, semua orang pun binging dengan keadaan ku hingga memeriksakan ku ke pskiater, tapi katanya aku normal hanya perlu sering sering diajak bicara agar tidak melamun lagi.


Hari ini, aku tetap Berdiam diri dirumah, bayanganku tentang Zayn pun sduah mulai memudar, seiring berjalan nya waktu, tapi aku masih enggan kemana-mana dan berinteraksi dengan siapapun.


Aku mendengar suara Juna datang kerumah.


'Kenapa Juna datang pagi sekali'. gumamku


"Pagi bik Ijah, Salma nya ada? " Tanya Juna ke bik Ijah.


"Seperti biasa Tuan, ada dikamar masih diem, tolong ya Tuan, cepet disembuhin" Mohon bik Ijah pada Juna.


Juna hanya mengangguk dan segera kekamarku.


"Hay sayang, apa kabar hari ini, sudah mandi" Sapa Juna.


Aku hanya mengangguk saja, dan sedikit menoleh padanya.


"Hey, sayang, hari ini aku wisuda, kamu tidak memberi selamat padaku, padahal aku sudah setampan ini, tapi tetep aja dicuekin jahat banget"


Juna berusaha merayuku dan menggodaku agar tersenyum namun aku hanya diam saja duduk menekuk lutut dan meletak kan wajahku diatasnya.


"Aku sebenernya pengen kamu ikut acara wisuda jadi pendamping aku, tapi kayaknya kamu ngga mau, yaudah ngga papa, kamu dirumah aja ya, do'ain yang terbaik buat aku, aku pergi dulu".


Juna pamit dan sempat mengelus kepalaku, namun tiba-tiba aku nerubah fikiran dan ingin ikut dengan nya.

__ADS_1


" Aku ikut" Jawabku sambil memegang tanganya dan menahan nya keluar.


"Serius mau ikut, nanti pusing? "


"Ngga kok, aku ganti baju dulu" Jawabku.


"Oke aku tunggu diluar ya"


Aku hanya mengangguk meng'iyakan.


Beberapa menit kemudian aku siap. Dan langsung turun menghampiri Juna yang sudah menunggu, aku menggunakan dress putih bergambar bunga dengan warna abu-abu, panjang dibawah lutut dan lengan sepanjang siku. Riasan sederhana dengan rambut disanggul. Juna terpana melihat penampilan ku saat itu.


"Sayang kamu cantik banget"ucapnya.


" Makasih, yuk kita berangkat nanti kesiangan"ajak ku.


Kami berangkat tanpa banyak berbicara, karna Juna tahu persis kondisi ku saat ini, hingga akhirnya tiba dikampus yang sudah sangat ramai dipadati wisudawan dan wisudawati.


Aku turun dari mobil dan langsung disambut oleh Vita, Dia yang sangat rindu padaku langsung memeluk ku danenciumi pipi ku.


"Ya allah Maaa, gue kangen banget ama elu ma, lu sehat-sehat aja kan ma,?" Tanya Vita.


"Ya gue sehat, Vit, mana yang lain? "


"Udah pada masuk, yuk masuk, lu ada dibagian paling depan, disesuai'n sama peringkat Juna yang cumlaude"kata Vita.


Aku pun perlahan masuk dan mencari tempat duduk yang dimaksud.


Acara dimulai Sambutan demi sambutan diucapkan hingga akhir nya nama Juna disebutkan.


"Dan untuk predikat cumlaude dipersembahkan oleh mahasiswa bernama ARJUNA BRAMANTYOPArt dengan predikat sangat memuaskan" Ucap pembawa acara.


Juna langsung maju dan memberikan ucapan terimakasih.


"Terimakasih sebelumnya kepada pembawa acara, pada kepala universitas, para dosen yang sudah membimbing saya hingga saya bisa mencapai perolehan seperti sekarang, terimakasib untuk orang tua yang sudah mendidik, dan memberikan saya motivasi untuk tetap semangat kuliah, dan terutama untuk tunanganku tersayang FATIHAH SALMA ASYILA, karna kamu aku bisa kuat, karna kamu aku bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, iya tentunya, karna selesai wisuda kita akan menikah"


Sontak semua menyoraki Juna.


"Salma, jika bukan karna kamu, mungkin aku sudah jadi badboy yang males kuliah, cuma pengen nongkrong ngabisin duit orang tua, tapi, karna kamu lah aku semangat menyelesaikan pendidikan ini, karna kamu berjanji selepas aku wisuda kita akan segera menikah, dan sekarang. Aku bukti kan itu, aku sudah menyelesaikan study ku, aku sudah sarjana, dan dapat gelar S. Akun sekarang, dan gelar kedua yang paling aku ingin kan selanjutnya adalah gekar sebagai suamimu, mau kah kamu menikah denganku? "


Aku tertegun, dan tiba-tiba air mataku mengalir, aku berdiri dan berlari turun memeluknya saat itu, tersadar olehku, bahwa Juna memang benar-benar memperjuangkan ku, dan sekarang aku harus menghargainya sepenuh hatiku.


Enam bulan kemudian kami menikah, orang tua kami mengadakan pesta mewah untuk ku dan Juna, dengan dekorasi serba putih kami menjadi Raja dan Ratu sehari saat itu bahagia tak terhingga bagi kami berdua.


Namun ditengah-tengah kemeriahan pesta sosok itu muncul lagi terlihat sangat jelas olehku yang sedang berdiri disamping kursi pelaminan.


Ya, sosok Zayn menggunakan setelah Jass hitam begitu gagah saat itu, aku melihatnya dengan tertegun sejenak, sosok Zayn yang kala itu sedang memegang gelas minuman menatap ku dengan senyum manisnya, dan mengangkat gelasnya mengembangkan senyum ramahnya padaku pertanda memberi selamat, air mataku mengalir namun berusaha kuat untuk mengikhlaskan semuanya, aku mengambil gelas minuman yang ada disampingku dan membalas Zayn dengan mengangkat gelasku dengan senyum lebar ku meskipun air mata ku mengalir.


Senyum Zayn semakin lebar, namun pandanganku semakin memudar padanya, selamat tinggal Zayn, semoga kamu baik-baik saja disana,semoga hidupmu menjadi semakin manis setelah kepergian musuh terbesarmu saat itu, semoga hidup mu manis semanis kopi yang kau taburkan kisah kita didalamnya.

__ADS_1


__ADS_2