
Sepanjang jalan pulang, didalam mobil salma terus memeluk tangan Juna, dan ia hanya diam menikmati perjalanan itu.
"Eh, ini tumben daritadi peluk-peluk terus, kenapa sih?" Tanya Juna heran.
"Nggapapa, enak aja, terus begini ya, Jun, jangan pernah berubah, apapun yang terjadi" sahut salma padanya.
Tangan yang ia peluk sejak tadi berubah posisi menjadi memeluknya erat, terasa hangat sekali untuknya.
"Eh iya sayang, besok papa sama mama dateng, kamu yang jemput ya dibandara? Aku ada ujian soalnya. Agak siang kok, jadi ngga usah buru-buru."
"Hmm, iya besok aku jemput." Salma tak bicara banyak karna masih dalam posisi nyaman berada dalam dekapan Juna, hingga mobil berhenti tepat didepan teras rumah, Juna merayu salma untuk segera turun, tapi rasanya enggan untuk melepas pelukan itu.
" Sayang, udah nyampe ayo turun," rayu juna pada kekasihnya
"Ehm, ngga aaah masih nyaman begini" Ttolak salma padanya.
"Eh, nanti tau-tau Bik Ijah dateng lagi loh, mau dipelototin lagi." Mendengar nama bik Ijah spontan salma melepaskan pelukan itu, dan ia angsung pamit turun dari mobil. Apalagi juna banyak jadwal untuk besok hingga ia tidak mampir dan langsung pulang.
Salma segera mesuk masuk dan disambut bik Ijah yang sudah menunggunya sejak tadi.
" Lah, kok tumben ngga kemaleman lagi?"
"Engga, Bik. Cuma fiting baju aja, ayah belum pulang?" tanya salma dengan segelas air putih ditangannya.
"Ayah non tadi pulang sebentar, ambil pakaian, kata ya mau nginep diluar kota, karna mau ada pertemuan besok." Salma menghela nafas kesal, karna ternyata ayah masih belum berubah sepenuhnya. Tapi tak apa, setidaknya Dia mulai memperhatikan putrinya sekarang.
" Yaudah, aku masuk kamar dulu ya bik? A.ku langsung tidur aja, tadi udah makan malem" Salma lantas melaju pergi dan segera naik ke kamarnya.
"Ealah, ngga anak ngga ayah nya kok sama aja, pulang cuma buat tidur!" Omel bik Ijah.
Salma sudah tak perduli lagi, kegiatan seharian sudah sangat membuatku lelah, dan ia ingin istirahat, agar besok bisa menjemput calon mertuanya di Bandara.
Dan tentunya, salma ingin segera tidur dan bertemu dengan zayn disana.
*Pov Juna.
"Sebenarnya apa yang ada dalam hatimu sekarang Salma, siapa yang sedang kamu cari, mengapa begitu penasaran kamu dengan sosok itu?" Juna bertanya-tanya sepanjang jalan, mempertanyakan sikap Salma belakangan ini, yang menurutnya berubah.
Memang bahagia, namun masih ada yang mengganjal dalam hatinya.
Juna mengatahui menganai mimpi salma saat itu. sakit, dan bahkan ia bisa saja melepaskan salam dengan kebahagiaan itu jika nyata. Namun semuanya tak akan bisa, karena itu tugas juna untuk membangunkan salma yang kerap terjebak dengan pria di alam mimpinya. Ia tahu salma tak sakit, maka dari itu ia tak membawa salma ke dokter jiwa seperti apa yang ia fikirkan selama ini.
Juna bersikeras menyembuhkan salma dengan caranya sendiri, dan dengan segala cinta yang ia miliki. Yakin perlahan jika salma akan sembuh dari semuanya. Ia terus merenung sembari terus menyetir pulan ke rumah besarnya. Ia meyakinkan diri, setidaknya ia menang sejak awal dari pria yang ada di alam mimpi salma, dan bahkan salma akan menjadi istrinya. Baru juna mempertegas apa yang salma alami saat ini.
Pov Salma.
Aku terbangun dalam duniaku pada zayn, salah satu moment yang paling aku nanti kan dalam hidupku bersama nya meskipun sesaat. Mungkin aku egois, karna aku mempermainkan perasaan Juna, tapi dengan Juna pun aku tulus, setidaknya dia tidak tahu tentang dunia dalam mimpi ku ini.
Aku membuka mata, samar-samar aku melihat Zayn masih terlelap tidur, dan posisiku saat ini, aku berada tepat tidur disamping tubuhnya dengan tangan kirinya sebagai bantal tidur ku. Aku terkesima melihat wajah tampan nya saat tidur. Begitu karismatik, aku semakin ingin memeluknya saat ini dan tangan berusaha menggapai tubuhnya dengan erat, tapi sayangnya aku lupa kalau Dia masih terluka sehingga tanganku mendarat tepat di lukanya.
"Aarghh, auuuu!" Zayn refleks berteriak.
"Oh maaf Zayn aku tidak sengaja. Sakit kah? Aku hanya ingin memelukmu tadi, tapi aku lupa dengan lukamu?" Aku langsung duduk dan mencari lukanya segera ingin ku obati, namun Zayn malah melerai tanganku.
__ADS_1
"Tidak usah Salma, aku tidak apa-apa, aku hanya terkejut, kemari biar aku yang memelukmu." Ajak Zayn, sambil berusaha duduk, namun masih memegangi perut yang luka.
Akupun kembali menghampirinya, namun saat Dia akan memeluk ku bik Ningsih datang membawa sarapan. untuk kami berdua.
"Tuan, ini sarapanya"
"Ya bi, taruh dulu disana, aku belum lapar,"
" Baik, Tuan." Bik Ningsih meletak kan makanan dimeja tepat disampingku duduk dan segera meninggal kan nya.
"Makan, Zayn, kamu butuh tenaga," bujukku padanya.
"Aku belum lapar, Salma, perutku pun masih sakit, aku hanya ingin bersama mu sekarang." Ku raih makanan tadi, dan seketika ku suapkan ke mulutnya yang sedang berbicara, hingga akhirnya Zayn Menlan makanan itu namun masih tetap menatap ku.
"Kan kalau kayak gini dimakan. Inget ya Zayn, meskipun ingin bersamaku tapi kamu harus tetap makan, bagaimana kamu akan punya tenaga melindungi ku jika tubuhmu, lemah, dan bagaimana kamu akan punya tenaga untuk menunggu ku jika kamu kekuranga nutrisi, ingat sebelum kamu menjaga ku, kamu harus lebih du menjaga diri kamu sendiri".
Aku berbicara panjang lebar, dengan tangan terus menyuapi nya sampai makanan habis, Zayb tetap diam menurut sembari menatapku yang sedang mengocehinya.
"Ternyata kalau kamu sedang bawel, camtik juga." Godanya tersenyum, dan mengedip kan matanya.
"Iiiish apaan, sakit masih aja suka ngegombal" Aku langsung tersipu, dan refleks ingin mencubit perutnya, untung langsung ditangkis.
"Eeh, eeeeh, ini sakit, kebiasaan suka nyubit seenaknya"
"Oooh, iya maaf maaf" Aku kaget, dang langsung menutup mulut ku.
Selesai makan aku langsung memberska semuanya dan meletak kan nya didapur, sepulang dari dapur, aku melihat Rou sedang membuka baju Zayn, berniat mengelap tubuhnya agar segar.
"Aaauuuwwh, maaf, maaf, ngga sengaja". Aku langsung menutup muka melihat Zayn yang tidak berbaju saat itu.
" Bagaimana keadaan diluar Roy? "
"Keadaan sedikit memanas, aku takut jika salma akan menjadi incaran mereka berikutnya, karna mereka tahu Dia kelemahan terbesarmu sekarang"
"Baik lah, jagan Salma baik-baik selama Dia disini, terus ikuti dia kemanapun dia pergi, dan jangan bicara tentang bahaya ini padanya, aku takut dia cemas".
" Tapi, maaf bos, Dia sudah tahu pekerjaan kita".
"Astaga, Roy, kenapa kamu memberi tahu nya" Zayn menahan marah dengan terus memegangi perutnya yang sakit.
"Maaf bos, hanya saja, aku berfikir agar dia pun bisa mengantisipasi keadaan ini sendiri, dan tidak mudah percaya pada siapapun" Jelas Roy mencoba memberi Zayn pengertian.
"Baik lah, ku hargai keputusan mu, namun jangan terlalu buat dia terkekang".
" Baik" Jawab Roy.
Selesai dengan aktifitasnya, Zayn menghampiriku diruangan sebelah.
"Salma, maaf lama menunggu, untung nya kamu tidak langsung pergi ya" Ucap Zayn.
"Baru sebentar aku disini Zayn, kamu ingin aku segera pergi lagi?"
"Aah tidak, justru aku ingin kamu selamanya disini"
__ADS_1
Zayn mendekati ku, dan duduk disebelahku dengan tangan masih terus memegangi perut nya.
"Bagaimana keadaanmu, sudah membaik? " Tanya ku.
"Ya, seperti yang kau lihat, dan mungkin sebelum luka ini sembuh aku akan terluka lagi disisi lainya" Jelas Zayn.
Aku seketika menutup buku yang ku baca, dan melemparkan pandangan kearahnya.
"Tak bisa kah semua ini dihenti kan Zayn, tak bisa kah kamu hentikan peperangan ini demi aku, aku ingin kamu selamat Zayn" Aku merayu.
"Kenapa harus demi kamu Salma, bahkan aku tak kan pernah bisa memperjuangkan mu untuk bersama dengan ku disini, selamanya, ya jelas itu tidak bisa" Jelas Zayn.
Aku hanya bisa diam, meratapi takdir yang aku hadapi saat ini.
"Andai kan bisa Zayn" Lirihku.
Zayn langsung meraih wajahku yang tertunduk sedih, dan mengarah kan kehadapanya.
"Heyyy, kenapa sedih, kenapa harus menangis, ini yang harus kita jalani sekarang, tidak usah disesali" Ucap Zayn sambil menyeka air mata ku.
"Maaf Zayn, aku tidak bisa melakukan apapun untuk memperjuangkan hubungan kita Zayn".
"Begini lah takdir kita Salma" Zayn menenangkan ku, dam memeluk ku.
"Aku hanya takut kamu terluka lagi, sudah banyak sekali bekas luka ditubuhmu Zayn, aku melihatnya tadi".
" Hey, kamu diam-diam mengintip ku" Kata Zayn mentertawakan ku.
"Aku bilang aku hanya melihatnya sedikit, bukan sengaja mengintip mu"..
" Tapi kamu tertarik kan, hayoo jujur" Ledek Zayn.
"Iiih apaan sih Zayn,".
" Eiiits jangan cubit masih sakit" Lerai Zayn.
"Iya tau, eeeh iya Zayn, beberapa lama nanti aku mungkin akan jarang menemui mu, karna aku sedang banyak urusan, tidak apa kan?" Tanya ku.
"Yaaa, yaaaa, seperti ini lah jalan cerita hidup ku, yang di datangi dan tibahtiba ditinggalkan begitu saja" Sesalny.
"Zayn, aku hanya"
"Yasudah lah, tidak perlu banyak Menjelaskan aku akan terus menunggu mu, sampai aku.... "
"Huust, jangan pernah ucapkan kata-kata itu, didepanku" Seketika aku menutup mulutnya dengan jariku.
'Maaf Zayn, aku harus berbohong padamu' sesalku dalam hati.
Kami melanjutkan percakapan dengan bergurau, tanpa terasa, bayanganya mulai samar dimataku.
"Zayn maaf aku harus pergi".
Tanpa mendengar sepatah kata oun dsri nya, Dia sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
Dan aku kembali.