
"Salma ku sayang, tahu kah kamu betapa ayah sayang kamu nak? Tapi pekerjaan ayah memaksa kita untuk tidak terlalu dekat sayang. bahkan ayah terpaksa harus menyembunyikan mu dari dunia ayah karna ayah takut akan terjadi sesuatu padamu seperti yang terjadi pada Ibu mu dulu. Dan ayah pun sekuat tenaga harus bersikap dingin padamu agar kamu tidak terkejut saat sesuatu nanti terjadi pada ayah, maafkan ayah Salma."
Ayah bergumam dan melamun setelah kepergian putrinya. Memang persis seperti apa yang digambarkan oleh om bram, bahwa ayah begitu menyayangi salma sepanjang hidupnya. Namun semua begitu terbatas karena adanya misi yang di embannya saat ini untuk menguak kematian sang istri.
Memang begitu lambat jika sudah 20tahun misi itu belum terpecahkan juga. CCTV, dan semua bukti hilang seketika seperti sudah direncanakan sebelumnya, atau ketika mereka memanfaatkan moment sedihnya ayah yoga dengan semua rasa kehilangan yang ada.
"Maaa, bangun ma. udah siang nih, ngebo lu jadi cewek!" ketuk dan pekik juna dari luar kamar yang salma inapi malam ini.
"Iyaaaaa, aku mandi dulu bentar!" balas salma yang kemudian berlari meraih handuk dan segera mandi. Dan juna tak membalas apapun setelah dan hanya pergi menunggunya di meja makan bersama yang lain.
Sepanjang mengguyur tubuhnya Salma melamun. Ia merasa aneh karena malam ini tidur dengan begitu lelap tanpa kehadiran zayn sama sekali dalam mimpi.
"Apa yang salah? Padahal aku begitu merindukannya saat ini. Apa ada sesuatu yang membuatnya tak datang?" gumam salma ditengah kucuran air yang mengguyur tubuhnya.
Ia kemudian mengganti pakaian dengan yang tenta vio pinjamkan padanya. Tak begitu tampak tua dipakai salma, karena tante vio juga begitu modis dandannya.
"Eeeh Salma sudah bangun sayang? Ayo sini kita sarapan sama-sama, abis itu berangkat kuliah dianter sama Juna ya?" ramah tante vio padanya.
"Iya Tan, enak ya Tan tidur disini? Suasana nya aku suka, apalagi rame karna ada Om dan Tante."
Tante hanya tersenyum ceria sembari menyendokan nasi di piring salma dan tiba-tiba Om Bram menyaut dari arah belakang menjawab ucapan salma.
" Kamu bisa tinggal disini terus Salma. Apalagi nanti, saat kamu sudah menikah dengan Juna, ya ngga Jun?" ledek om bram pada putranya.
"Uhuuuuk uuuhuuuk!" Juna terkejut dan refleks batuk hingga tenggorokannya perih. "Papaaaa, udah deh jangan ngeledek terus. Nanti Salma jadi ngga mood makan lagi loh. Malah berasa ngga nyaman disini baru tau rasa," balas juna.
Sementara salma masih termenung memikirkan zayn yang semalam tak hadir dalam mimpinya. Zayn masih memenuhi fikiran salma saat ini.
"Loh, yang papa bilang kan beneran. Bahkan kami sudah merencanakan pertunangan kalian segera,"
"Aaapaaaaaa?!!" Salma dan juna kompak terkejut dengan semua pernyataan yang ada.
"Tapi, ayah ngga ada bilang, apapun tentang pertunangan Om. Aaah tapi memang Ayah tidak akan pernah butuh pendapat salma," balasnya penuh rasa kecewa.
"Kalian tunggu saja, nanti kita akan bicarakan lagi semuanya. Yang pasti perjodohan ini akan terjadi." Om bram kembali menegaskan semuanya. Untuk apalagi ditunda? toh mereka juga bukan kalangan biasa yang masih harus memikirkan bagaimana masa depan berdua. Dan mengenai cinta, semua kan datang pada waktunya sejalan ketika mereka sering bersama.
Juna yang tahu bagaimana salma, dengan cepat tahu jika gadis itu tengah dalam perasaan tak nyaman saat ini. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan diantara mereka dan bahkan membawa salma untuk segera pamit pergi dari mereka semua
"Eh iya Ma, udah mau siang nih. Kita berangkat yuk, nanti telat dan tugas juga harus cepet dikumpul kan?" ajak juna padanya.
"Iya," jawab salma seadanya, seakan ia lelah hanya untuk bicara dan mengeluarkan suara. Setelah pamit dan mencium tangan mereka aku segera melangkah menaiki mobil Juna dan segera berangkat.
Sepanjang jalan salma hanya diam. Bukan memikirkan pertunangan melainkan memikirkan Zayn kembali, karena hanya Zayn yang ada dikepalanya saat ini meskipun seorang pria yang tak kalah tampan pun duduk manis disebelahya ssembari sesekali mengarahkan pandanganya kewajah salma.
"Salma,"
"Hah? Iya, Zayn kenapa? Oops!" Salma segera menutup mulut dengan jemarinya.
__ADS_1
"Zayn? Siapa dia? Ngga pernah denger nama itu?" tanya juna yang mulai penasaran.
"Ngga kok, bukan siapa-siapa. Kenapa Jun? "
"Ehm, sebenernya aku mau nanya kamu tentang perjodohan kita. Aku cuma pengen tau, jawaban kamu yang sebenernya Ma. Karena sebenarnya aku bingung dengan sikapmu, Ma. Meski kamu berusaha untuk bersikap biasa saja, tapi aku yakin ada sesautu yang kamu sembunyikan saat ini. Tapi aku ngga tahu itu apa,"
Salma hanya bisa kembali diam merenungkan semua ungkapan perasaan juna padanya. Ia hanya menganggap juna sebagai sahabat terbaik dan juga kakaknya, dan begitu sulit untuk menerima juna sebagai calon suami dadakan untuk saat ini. Apalagi dengan semua rencana diam-diam sang ayah untuk keduanya tanpa bertanya terlebih dulu para mereka berdua.
Terutama ketika salma justru berada dalam bayang-bayang Zayn yang ia masih tak tahu bagaimana. Tapi bersama zayn semuanya terasa tenang dan bahagia meski ia harus tidur untuk bertemu dengannya. Apakah ini semacam penyakit karena salma hanya ingin menghindari kehidupan nyatanya yang pahit?
"It's oke. Seperti yang aku bilang bahwa aku akan terus menunggumu," balas juna dengan ekspresi yang begitu tenang dengan wajah galau salma padanya.
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di kampus dan turun bersama. Entah kenapa lelah sekali perasaan dan tubuh salma saat ini meski ia belum melakukan apa-apa. Apalagi hanya karena bayangan zayn dan rasa penasaran yang terus menggelanyut dikepalanya.
"Zayn mulu, iiih!" geram salmasembari memukuli kepalanya. Untung saja saat itu vita segera datang menghampiri hingga salma seketika menghentikan aksinya.
"Eeeeh Oneng! Ngapain lu ngomong sendirian? Mukulin kepala gitu, sakit entar lu. Eh iya, motor lu udah jadi noh, diparkiran. Ongkos nya Juga udah dibayarin Juna. Ouuouh Juna sang pangeran tampan, kaya raya, baik hati, pokoknya paket kumplit." Vita tak hentinya memuju juna didepan salma.
"Loe ngomongin gue sakit? Elu nya halu ngomongin calon angan gue_ Oooops keceplosan!" Salma seketika menutup mulutnya.
"Whaaaat!! Elu sama Juna mau tunangan? Kapan, kok bisa? Salmaaaaa!!" Vita spontan teriak, dan salma juga spontan segera menutup mulutnya.
" Eeeeeeeh... Jangan keras-keras, entar semuanya denger.."
"Ouh, oke-oke, jadi gimana? "
"Ini rencana Ayah sama ortu nya Juna, dan lu tau posisi gue, gue pastinya ngga akan bisa nolak meskipun berat nerima nya, yaudah gue jalanin aja"
"CINTA? Entah lah.... gue juga ngga tau. Semoga cinta itu memang tumbuh seiring berjalanya waktu," harap salma dengan segalanya.
"Terus, kapan rencana pertunangan kalian?"
"Gue ngga tau, gue kan cuma boneka bokap gue. Ya, gue Ikutin aja. Kalian tunggu aja infonya ya,"
Vita hanya mengangguk mendengar ucapan salma padanya. Ia kasihan pada sahabatnya itu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, ia amat mendukung jika salma benar-benar bersama juna dan berharap cinta mereka bersemi secepatnya.
Usai dengan semua mata kuliah yang ada, Salma segera pamit untuk pulang. Ia khawatir bik ijah mencemaskan dirinya saat ini meski ia tahu bahwa anak asuhnya itu menginap ditempat juna.
"Haaaah, apa, kok bisa elu nginep disono?" kaget vita lagi dengan kabar salma.
Tapi salma hanya mengedikkan bahunya. Ia tak membalas lagi ucapan vita dan hanya membereskan semua barang masuk kedalam tas yang ia kenakan. Itu saja tas juna yang ia pakai, isinya pun beberapa buku milik juna. Salma membawanya hanya untuk formalitas, daripada tampak tak membawa apa-apa dipundaknya.
Salma berangkat meninggalkan vita, dan ia memilih pulang membawa motornya. Hingga mendadak juna datang mencari calon tunangannya itu, namun sudah terlanjur jauh pergi darinya.
"Ta, salma mana?"
"Laaaah, barusan pulang bawa motor tadi. Kenapa? "
__ADS_1
"Aduuuuuuh! Itu motor belum Bener rupanya, Rem nya masih blong. Soalnya kemaren sekalian gue servisin biar bagus semua. Gawat!" Juna cemas memikirkannya. Salah ia juga buru-buru menerima motor itu sete
"Haaah, apa? Astaga, dia udah berangkat. Cepetan sono susulin, daripada kenapa-napa." Vita juga tak kalah cemas dengan juna saat itu.
"Oke gue pergi dulu".
Dengan cepat Juna melajukan mobilnya mengejar salma saat itu juga. Ia menaiki mobil dan menyetir dengan begitu paniknya.
Salma berjalan santai awalnya. Tapi entah karna diselingi lamunan, dan dengan cuaca yang gerimis tiba-tiba gas motor salma tertarik sedikit kencang. Ia lepas kontrol, hingga tiba-tiba ada sebuah mobil berlawanan pas didepan matanya. Ia tidak bisa mengelak lagi saat ini.
"Astaghfirullah, Rem nya blong! Aaaaaarrrrrrrgggghhh!!!" pekik salma sekuat tenaga.
Brakkk!! Motor salma menabrak mobil, dan ia terguling sekitar 2 meter dari lokasi motornya berhenti, dan darah mengucur dari kepalanya kerena helm yang lupa ia kancingkan terlepas. Derasnya hujan semakin menambah kucuran darah dari kepala salma saat itu juga.
"Salmaaaaaaa!" teriak juna yang langsung keluar dari mobilnya. Ia segera mendekati salma, meraih dan langsung memeluknya dangan tangisan.
"Maaa, Salma sayang ayo bangun ma. Jangan begini ma, maafin aku Ma," bujuk juna dalam tangisnya.
"Maaf, pak saya tidak sengaja. Tiba-tiba mba nya udah didepan saya dan Rem motor itu seperti nya blong. Ayo kita bawa ke Rumah sakit aja," ucap pria pengendara mobil itu, menawarkan bantuan untuk salma.
Juna segera mengangkat tubuh salma ke mobilnya, sementara pria itu tadi mengikuti terus dari belakang untuk memberi pertanggungjawaban atas apa yang terjadi. Meski semua adalah sebuah ketidaksengajaan diantara mereka.
Tak selang beberapa lama, mereka tiba di Rumah sakit. Dengan sigap Para dokter dan perawat memberikan pertlongan pertama pada salma disana. Karena Juna pun tidak boleh masuk ke ruang tindakan, akhirnya Juna keluar untuk menelpon ayah salma dan memberi kabar keadaan putrinya. Sampai saat nya asalma dipindahkan ke ruang perawatan dan juna lah yang mendampinginya, meskipun pakaianya basah dan berlumuran oleh darah salma.
"Juna, bagaimana keadaan Salma?" tanya ayah. Ia sudah datang bersama bik Ijah yang langsung menangis.
Juna lantas menjelaskan semua kronologis kejadian itu hingga semua terjadi. Bahkan menangis dengan segala rasa penyesalan yang ada dihatinya
"Oke Juna, ini semua ngga sengaja. Om tahu itu, sabar ya..." Ayah yoga menepuk bahu juna untuk menyabarkannya. Meski hati sendiri begitu cemas saat ini.
"Papa sama mama ngga bisa kesini Om. Oma di Australy mendadak sakit, jadi mereka pulang mendadak kesana,"
"Okey, Juna... Ngga papa." Mereka saling menyabarkan diri saat ini.
Hingga akhirnya Dokter datang dan menghampiri keduanya. Ia memberitahu tentang perkembangan salma dan keadaannya saat ini, bahkan mempersilahkan jika mereka ingin masuk meski harus bergantian dan tetap tenang. Pasalnya salma butuh istirahat yang cukup dengan lukanya, dan masih tidur dengan begitu pulas saat ini.
" Apa kami boleh masuk dok?" tanya Juna.
" Boleh... Tapi ingat, bahwa pasien butuh istirahat dan jangan dulu di ganggu." Dokter mengingatkan.
"Iya dok, terimakasih." Ayah menjawab kemudian menggandeng juna masuk ke dalam ruangan.
Juna dan ayah serta bik Ijah masuk ke ruangan, bik Ijah menangis melihat kondisiku yang koma saat itu.
"Ya allah nduk, cah ayu... Cepetan sadar nduk, ayah sam bibik disini nungguin kamu." Isak Ijah. tangis bik ijah pecah.
Juna hanya memandang salma dengan begitu menyesal, hingga akhirinya ia memilih keluar untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Tuhaaaan!! Kenapa gue ceroboh banget sih, ampe Salma kecelakaan gitu? Coba aja gue bisa cepet nyusul tadi, pasti ngga akan begini. Bego banget gue," sesal Juna sambil menjambak-jambak rambutnya.
Penyesalan demi penyesalan bergejolak dalam diri Juna, setiap hari menyalah kan diri nya sendiri, karna ora g yang dia sayangi harus celaka karna kecerobohanya.