Kekasih Dari Alam Mimpi

Kekasih Dari Alam Mimpi
Part 9


__ADS_3

Salma tetap terlelap, meskipun ia mendengar apa yang mereka bicarakan tehtangnya. Saat mereka bilang rindu, sayang padanya dan terdengar jelas suara tangis bik Ijah dan Juna sesekali pun salma mendengar suara rintihan Ayah mencoba membangunkannya. Namun, itu semua serasa percuma karena salma terlanjur nyaman berada di alam bersama Zayn. Bahkan ia ingin selamanya disana bisa.


##


Sudah beberapa hari salma berada dirumah Zayn. Istana yang tenang, tanpa masalah, meskipun beberapa pertanyaan tetap menggelayut difikirannya. Ditambah lagi dengan penuturan Naya yang semakin menambah rasa penasaran salma saat ini.


Ada tempat ternyaman dirumah itu, saat ia bebas dari para pengawal Zayn. Yaitu taman diatap rumah yang cukup indah dan luar. Sejak ia disana taman itu salma rawat hinga  semakin bersih dan nyaman, dan ia suka menghabiskan waktunya membaca buku disana.


Hingga dering hp membuyarkan konsentrasi salma dengan bukunya. Ia melihat zayn mengirim pesan, mengabarkan jika ia akan segera pulang dan bertemu dengannya. Saat itu salma tak membalas pesan itu, ia justru segera berlari turun untuk membenahi dirinya. Berdandan, dan bahkan sedikit memakai lipstik untuk mempercerah penampilannya saat itu agar lebih menarik dimata zayn.


"Nyonya perlu bantuan?" tanya seorang maid yang datang mendadak mengagetkan salma.


"Eh, Kak nina. Aku cuma dandan dikit aja nyambut zayn. Gimana? Aku udah cantik belum?" tanya salma memamerkan penampilannya.


"Sempurna. Rupanya Nyonya pandai berdandan," puji sang maid pada penampilan salma. Dan itu seketika membuat gadis itu tersipu malu dan wajahnya memerah bagai kepiting cabe setengah masak.


"Terimakasih," jawab salma menyingkirkan anak rambutnya kebelakang telinga.


Salma mendengar samar-samar mobil berhenti. Ia segera berlari dan turun menyambut zayn yang bahkan belum turun dari mobilnya.


"Salma, aku udah sampai!" panggil zayn yang langsung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk salma.


Pluk! Dekap erat salma padanya.


"Segitu rindu nya ya?" colek zayn dihidung bangir salma.


"Rindu Zayn, rasanya lama sekali pergi nya," balasnya dengan manja. Padahal zayn hanya dua hari pergi meninggalkannya.


Salma mendongakkan kepala menatap wajah zayn yang mempesona. Yang meski tampak lelah, tapi tak melunturkan ketampanannya sama sekali. Bahkan, bau maskulinnya semakin terasa menembus kemeja yang ia pakai saat ini.


" Eh, iya... Mandi dulu sana. Aku mau ajk kamu ngobrol setelah ini," pinta salma padanya.

__ADS_1


"Okey... Aku juga gerah sebenarnya. Tunggu, ya? Aku mandi dulu." Salma meraih tas zayn dan membawakannya ke ruang kerja.


Salma menunggu disana, melamun sejenak hingga tak lama kemudian zayn datang menghampirinya.


"Salma, mau ngobrol apa? Sepertinya ada sesuatu yang serius,"


"Tapi kamu jawab jujur kan, kalau aku tanya?"


"Ya selagi ada jawabanya pasti aku jujur. Apa?"


"Kemarin Naya kerumah. Dia menemani aku berkeliling sebentar ke seluruh rumah ini, tapi ada sesuatu yang dia katakandan mengganggu fikiranku." Salma mulai menceritakan semuanya.


"Hah, apa itu? Tak usah terlalu dihiraukan, Salma. Mungkin dia hanya mengetes bagaimana perasaanmu pada ku,"


"Tapi menurutku tidak. Dia bilang, bahwa dia khawatir jika kita terlalu dekat, karna takut aku akan menjadi kelemahanmu nanti."


"Kenapa dia bilang begitu padamu. sudahlah, jangan dengarkan dia. kamu memang kelemahan ku, aku menjadi semakin lemah jika kamu tidak disampingku."


"Aku memang sempat bertanya-tanya. Tapi aku yakin, kamu tak akan pernah mengecewakan aku,"


Zayn meraih kepala salma dan disandarkan dibahu nya. Ia salma tahu dia saat itu memikirkan sesuatu, hanya saja tak menceritakan nya pada salma. Dan salma memilih diam dan tak akan terlalu banyak bertanya.


"Oh ya Salma, kamu senang membaca buku? Buku apa yang kamu baca sekarang?" Zayn melirik buku salma dan melihat sampulnya.


"Ini buku aku temukan diperpustakaan atas kemarin malam. Aku suka membaca nya, tentang kisah cinta romantis."


"Kamu suka sesuatu yang romantis?" tanya zayn dengan senyuman manisnya.


"Iya suka," angguk salma.


"Bagaimana romantis itu menurutmu?"

__ADS_1


"Entah lah, aku pun sampai sekarang belum pernah merasakan hal yang romantis itu. Aku bahkan belum pernah punya pacar selama hidupku,"


"Benarkah? Eeehm... Tapi, aku tak ingin pacaran Salma. Aku ingin langsung menikah, bagaimana dengan mu? "


"Haaaah menikah, dengan siapa?"


"Menurutmu?" Zayn kembali meraih salma, mendekatkan wajah salmanl ke wajahnya. Bahkan ia semakin lama makin mendekatkan bibirnya. Salmabhanya terpejam merasakan sensasi apa yang terjadi pada diri saat itu.


Salma Akhirnya merasakan bibir Zayn mulai berada tepat didepan bibirnya. Perlahan makin dekat, dan makin dekat, hingga tiba-tiba seorang datang membuka pintu tanpa mengetuknya.


Cekrek!


"Boss, maaf ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Oooooopss!" Roy segera membalikkan tubunya membelakangi mereka berdua.


Salma yang terkejut hebat, tanpa sadar langsung melempar buku. Ia juga angsung melepas pelukan Zayn, dan pura-pura mencari buku yang jatuh dibawah sofa.


" Aiiiish Rooyy!" geram zayn lirih sembari mengusap wajahnya.


"Maaf Boss. Saya belum terbiasa ada nyonya disini, sehingga saya  keluar masuk tanpa mengetuk pintu!"


"Eeeh anu... Iya, mas Roy nggapapa. Kami ngga lagi ngapa-ngapain, kok. Oke saya keluar dulu bantuin bi ningsih siapin makan malam. Permisi," pamit salma berlalu pergi dengan muka merahnya.


"Iya nyonya, maafkan saya." Roy kembali membalasnya.


"Oke Roy, Kita bertemu diruang lain ya? Aku segera menyusulmu kesana," pinta zayn padanya. Mereka harus masuk ke ruangan yang lebih terutup dan lebih rahasia, hingga mungkin salma tak akan mencarinya hingga kesana.


"Siap boss..." angguk roy lalu pergi darinya.


Salma benar-benar ke dapur. Ia salah tingkah sendiri, regetan jika teringat kejadian tadi. Ia sebenarnya bahgia tapi ia juga malu pada roy dan takut menganggapnya aneh pada bos mereka.


" Ooooh... Aku malu, jika nanti anak buah Zayn mentertawakan ku. Bagaimana ini??" Salma bergumam sembari terus menepuki kepalanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2