
Aku membuka mata, namun terasa berat untuk bangun, aku hanya ingin bertanya pada Zayn alasan apa hingga dia menyuruh ku pergi saat itu, aku hanya takut sesuatu yang berbahaya sedang mengincarnya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, karna semua bukan lah hal yang bisa aku rencanakan.
Dengan terpaksa ku buka mata, karna teringat semua rencana ku dan Calon mertuaku untuk membuka kedok Tante Rina, ya itu harus secepatnya, aku laksanakan.
Aku ambil hp ku dan menelpon Juna yang kata nya sedang ujian skripsi.
"Halo sayang, tumben pagi-pagi nelpon?" Tanya Juna.
"Hay, kamu jadi ujian hari ini?"
"Iya jadi, ni bentar lagi masuk, ada apa? "
"Ehm, aku mau kesalon tante Rina ya, entah lah pokoknya sekalian mau cari info, maaf ya ngga bisa temenin sidang,"
" Iya sayang ngga papa, eh tapi kamu sama siapa? Sendirian? "
"Iya, soalny kata nya Vita juga sidang kan, mau ajak mama lagi sibuk katanya".
"Oke, kalo gitu, tapi hati-hati ya, kalo ada apa-apa telpon aku"
"Oke, bye" Aku pamit dan langsung menutup telpon.
Aku bersiap, mandi dandan dan mengatur rencana apa saja yang akan aku lakukan hari ini.
"Oke pokoknya, hari ini harus dakat info terbary setelah info dari supirnya kemaren"
Aku langsung turun mengambil mobil, dan mamacunya ketujuan awal, yaitu salon Tante Rina.
Dengan mendengarkan lagu yang dinyanyikan Zayn waktu dicafe itu, aku berjalan sedikit kencang, sebenarnya masih terfikir tentang Zayn, namun aku pun harus fokus dengan tujuan ku di alam nyata ku.
Sampai di salon aku langsung memarkirkan mobil ku, dan segera masuk, aku langsung disambut tante Rina.
"Hey sayang, pagi-pagi udah dateng, mau perawatan atau gimana, calon pengantin ni memang harus banyak perawatan kan ya" Tante Rina sok Ramah terhadap ku.
"Iya tan, tapi tante aja ya sekalian kita ngobrol, aku pengen curhat dikit nih" Jawab ku, sebenarnya aku enggan sekali ramah saat itu.
Kegiatan perawatan mulai dilakukan, mulai dari creambath, luluran, dan yang terakir meny pedy, dan saat itu lah aku bisa santai dan mulai melancarkan aksi ku.
"Eh iya tan, maaf mau tanya, tante tuh trauma nyetir karna apa tan, apa pernah kecelakaa gitu?"
"Oh itu, iya sayang, kan ceritanya tante itu penyayang kucing, eeh pas pulang dari suatu tempat tante ngga sengaja nabrak kucing, dan mati ditempat, aduh tante sampe gemeteran, ngga berani lagi nyetir sampe sekarang" Jelas tanta Rina.
'Apa, kucing, enak saja kamu bilang kucing, itu ibu ku dasar wanita brengsek' umpat ku dalam hati, namun aku tetap berusaha tenang.
Aku menarik nafas panjang dan berusaha memulai percakapan lagi.
"Ehhm gitu tan, sangking sayangnya sama kucing jadi gampang trauma ya tan, aku juga gitu sam kucing, suka, tapi ngga berani melihara, takut nanti ngga bener jadi mati, aku yang trauma".
" Iya sayang, setelah kejadian itu, tante akhirnya trauma, sama kucing aja berasa takut sendiri"
Percakapan berlanjut hingga akhirnya ku berani kan diri bertanya tentang status pernikahan tante Rina.
"Oh iya, tante, maaf kalo aku kancang, ngimong-ngomong status pernikahan tante gimana, tapi kalo tante keberatan jawab ngga papa tant"
"Its okey sayang, ngga papa, tante itu janda, sudah lama sekali bertahan menjanda, ya karna trauma itu juga" Jawabnya" Dulu tanta menikah di usia masih sangat muda 19tahun, tante fikir, karna orang tua tante maya raya, jadi semua yang tante jalani akan aman dan baik-baik saja tapi ternyata enggak, baru 5bulan menikah, tante mergokin suami tante yang saat itu terpaut usia 9tahun dengan tante, sedang berada dihotel bersama selingkuhan nya, akhirnya tante kalap, marah, hingga pulang dalam keadaan emosi, menyetir mobil oun jadi ngga terkendali, hingga akhirnya nabrak, dan setelah itu, entah kenapa belum ada keinginan untuk menikah lagi. " Jelas tante Rina.
"Lalu hubungan tante dengan ayah? "
"Ooh itu, itu bisa terjadi andai kan kamu merestui kami sayang" Senyum tante Rina merekah saat menjawab pertanyaan terakhir.
Semua perawatan sudah selesai, hampir seharian aku disalon, tanpa sempat mengabari sang Tunangan, hinga Juna pun khawatir saat itu.
__ADS_1
Drrrrt drrtttt!! Hp ku berbunyi dan langsung ku angkat,
"Iya Juna,"
"Kamu kok seharian ngga ngabarin, aku khawatir tau ngga, sekarang dimana?" Tanya Juna.
"Ehm masih disalon, tapi udan selesai perawatan, lumayan dapet info dikit, bentar lagi aku pulang ya"..
"Inget kata-kataku, jaga diri, jangan sampai dia curiga ya,"
"Oke, aku lanjut ya, bye" Aku langsung menutup telpon ku.
Aku segera kembali ke tempat perawatan tadi, namun terkejut saat tante Rina ternyata ad dibelakangku.
"Eeeh tante, udah lama dibelakang? "
'Aduh denger ngga ya dia tadi, jangan aja dia curiga' gumam ku dalam hati.
"Baru aja kok, cuma heran aja kok lama banget, kenapa Juna nanyain? "
"Ya tan, biasa seharian ngga ada kabar" Jawabku mencari alasan.
"Oh, wajar itu, namanya juga lagi anget-ngetnya, eh iya, Salma laper ngga, kita makan yuk, biar tante traktir, sekalian kita ngobroo-ngobrol lagi, tante mau PDKT sama kamu".
"Owh, hah, iya tan ayok,. Pake mobil ku aja, ya. "
"Okee, yuk" Ajak tante Rina, dan langsung mengambil tas nya dan pergi.
Kami lanjut ngobrol disalah satu cafe langganan tante Rina, banyak yang kami bicara kan disana, dari mulai hobi, hingga cita-cita kami, meskipun berbeda usia jauh, tapi tante Rina orangnya lumayan humble, tapi itu tidak meghilangkan kesalku padanya.
Aku mulai mengorek info Tentang pribadinya dan begitu sebaliknya, tanpa sadar keasyikan bercerita, hingga sosok Zayn pun aku ceritakan, tanpa ku sadari apa efek nya nanti, entah efek untuk ki sendiri, atau untuk hubunganku denga Juna, semoga saja tante Rina bukan orang yang terlalu ikut campur urusan orang, dan semoga saja Dia hanya menganggap aku hanya mimpi belaka dan tidak serius.
"Wah ternyata sudah sodah sore sekali tante, ngga terasa ya, daritadi asyik ngobrol"
Aku melihat hp, dan ternyata ad 12 pggilan tak terjawab dari Juna, semoga saja dia tidak marah, lalu aku menelfon nya.
"Hallo Juna" Sapa ku
"Salma kemana aja, katanya mau pulang, tapi pas aku kerumah kamu ngga ada, dari tadi aku tungguin juga ngga pulang-pulang"
"Iya, maaf tante Rina ngajak makan bentar, abis makan malah keasyikan ngobrol, lumayan kan qku jdi dapet info lagi, tinggal kita kumpulin bukti tentang mobil nya, sabar ya sayang, aku janji bentar lagi pulang" Rayu ku pada Juna.
"Oke, aku tunggu ya, kali ini jangan bohong lagi, aku khawatir sama kamu."
"Ya bentar lagi pulang"aku mengakhiri telpon ku.
"Juna udah nelpon lagi sayang".
Ternyata tante Rina sudah dibelakangku lagi, tapi semoga baru datang.
" Oh iya tante, ternyata dia nunggu dirumah daritadi" Jawabku menutupi gugup.
"Oke kalo gitu, kamu pulang aja langsung, biar tante suruh supir tante jemput ya, kasian Juna, udah nungguin"..
" Oke tante, aku langsung ya, bye" Pamit ku dan langsung pergi.
Aku memacu mobil dengan kecepatan sedang agar cepat sampai kerumah, dan menyusun rencana untuk esok harinya, karna hari ini sudah 2x hampir ketahuan.
Aku sampai dirumah, ternyata Arjuna ku sudah menunggu diteras, dan terkihat gelisah, aku penasaran ada apa, hingga langsung turun begitu mobil sduah ku perkirkan.
"Juna, maaf kelamaan, tadi aku cepet-cepet takut kamu marah".
Namun Juna tidak berkata apapun, melainkan langsung memeluk ku erat, hingga nafasku terasa sesak.
__ADS_1
" Sudah aku bilang, kalau pergi itu ngabarin, jangan pernah ulangi lagi, mungkin kalau kamu pergi jalan-jalan aku bisa tenang, tapi untuk sekarang kamu sedang bersama pembunuh ibu kamu, aku khawatir, tolong jangan ulangi lagi".
Juna memang terlihat sangat cemas, namun aku berusaha menenangkan nya.
"Hey, Arjunaku, tenanglah, aku ngga papa, lagian tante Rina sebenarnya baik, hanya satu kesalahan fatal nya yang sulit untuk dimaafkan, yaitu menabrak ibu dan kabur".
" Dengan begitu, itu tandanya dia jahat salma, kamu harus tetap hati-hati" Juna perlahan melepas pelukan nya.
Ku tarik Juna masuk dan duduk sofa ruang keluarga, dan mengajaknya ngobrol disana.
"Kamu dapat info apa aja sayang? " Tanya Juna, yang cemasnya mulai menghilang.
"Gini, tante Rina memang sempet cerita kalo Memang trauma nyetir karna dia pernah nabrak, tapi nabrak kucing, dan di cerita itu, bener-bener pas sama hari ibu ketabrak, dan jam nya pun sama, dan menurut keterangan supir yang aku tanya kemarin, tante Rina pernah sempet menenangkan diri dengan pergi kebelanda beberapa tahun sampe dia mutusin balik Lagi kesini, dan buka wo plus salin dan butiknya". Jelasku panjang lebar.
"Jadi rencana selanjutnya apa? "
"Aku pengen akrab dulu sama dia, sampe dia nyaman, terus bisa bolak balik kerumahanya, terus aku ambil bukti foto mobilnya".
" Oke, tapi inget kamu harus hati-hati, aku ngga bisa sepenuhnya jagain kamu, karna kamu tahu sendiri aku mulai sibuk sidang sama dikantor" Jelas Juna.
Aku mendengar kata-kata Juna langsung merasa sedih, karna mulai merasa Kehilangan Perhatianya, dan aku meletak kan kepalaku ke pundaknya dengan manja.
"Belum apa-apa aja udah mulai dicuekin sama kerjaan" Keluh ku padanya.
"Heeey sayang, aku mulai kerja kan buat kamu juga nanti, seluruh rencana aku kerjar sekarang biar ngga ada hambatan saat pernikahan kita. Jadi kerjaan kelar, tinggal ngerjain kamu" Rayu Juna meluluhkan hati ku.
Aku langsung terkajut dan menegakan kepalaku lagi.
"Hah ngerjain aku, gimana maksudnya" Tanya ku, sambil mencubit perut nya.
"Ehmm engga, engga, ngga papa"
"Alah bohong bilang apa tadi, udah mikir macem-macem ya, dasar omes" Aku memukul-mukul tubuhnya.
Kami terus bercanda dan tertawa hingga tak terasa sudah larut malam, dan Juna pamit pulang.
"Psssst sayang, eeeehm boleh ngga eeemmm? "
Juna bertanya namun menyodorkan bibir nya ingin mencium ku, aku ingin membalas kecupanya tapi sayang nya.
"Tuan Juna udah mau pulang?" Tanya bik Ijah yang ternyata sudah dipintu ruang tengah.
Juna, melongo, lalu menepuk dan mengusap wajahnya kesal.
"Astaga, bibik ini" Umpat Juna kesal.
"Sabarrr, sabar" Aku. Mengelus elus bahunya menyabarkan sambil Menahan tawaku.
"Huftzz, yaudah aku pamit kalo gitu, kamu langsung tidur ya, seharian udah pergi, nanti kecapean lagi".
" Oke, hati-hati ya" Aku melambaikan tangan pada Juna yang mulai menyetir.
"Tadi mas Juna nya mau ngapain, manyun-manyun gitu?" Bik Ijah sewot.
"Iiiih, bibik kepo" Aku tertawa dan langsung meninggalkan bik Ijah masuk ke kamar.
Aku merenungkan rencana esok hari, dan hari berikutnya apa yang akan aku lakukan demi mencari tambahan barang bukti, yang jelas aku harus terus mendekati tante Rina demi rancana tersebut.
Dan tentang Zayn, sepertinya beberpa hari ini dia menghindari ku dan dia seperti tidak pernah memanggilku sebelum tidur aku selalu memikirkan nya.
"Sedang apa kamu Zayn, apa yang terjadi padamu, semoga kamu baik-baik saja" Tanya ku dalam hati, hingga perlahan mata ku terpejam.
Noted: MAaf gaes, jika harus ganti pov salma. Karna iniĀ cerita lama yang ku revisi, tapi nyatanya anu. YAsudahlah, yang penting cerita nanti tamat aja. makasih buat yang selalu ikutin.
__ADS_1