
"Salma, kamu baru saja bangun dari koma. Masih banyak waktu untuk kamu memikirkan semuanya," bujuk ayah pada salma mengenai pertunangan keduanya, ia tak mau jika nanti salma hanya akan menuruti permintaan sang ayah dengan terpaksa.
Kree! Juna membuka pintu ruangan dan masuk kedalam. Ia barusaja memberitahu papa dan mamanya tentang keadaan salma, dan menyatakan salam mereka pada keduanya disana. Ia kemudian duduk dan menghampiri salma kembali menggenggam tangannya.
"Juna, tadi salma dan om bicara, dan salma mengatakan jika dia mau bertuanangan sama kamu setelah ini." Juna tamak terkejut, tapi ia juga sangat bahagia mendengar semuanya.
"Hey, Salma, apakah itu serius? Jika belum tak apa, aku akan menunggumu hingga kamu siap." Juna kembali meyakinkan salma. Akan tetapi, salma memang sudah serius dengan apa yang ia ucapkan tadi, dan ia siap ketika keluar dari ruangan itu mereka menggelar pesta pertunangan dengan juna.
"Baiklah jika kamu maunya begitu. KIta bicara lagi nanti setelah kamu sembuh dan kita sudah pulang. Terimakasih, Sayang."
"Udah bisa panggil Sayang Jun?" ledek ayah, membuat juna tersentak karena sangking bahagianya ia tak sadar jika calon mertuanya masih ada disana.
"Eeeh iya, masih ada Om Yoga. Aaah jadi malu rasanya," ucap juna menggaruki kepala."
"Udah, ngga papa, biasa aja sama calon mertua." Ayah kemudian menepuk bahu dan merangkul juna.
Salma memeng telah memantapkan hatinya saat ini, meski ia masih penasaran apa yang terjadi pada zayn setelah ia pergi. Apalagi, setelah zayn tahu jika ia adalah objek mimpir salma selama ini dan ia pasti terasa amat dipermainkan dengan semua keadaan dirinya.
__ADS_1
Hingga Dua hari kemudian salma dinyatakan sembuh total. Ia dan juna dibantu bik ijah membereskan semua perlengkapan yang ada di dalam ruangan itu bersama. Kadang sesekali salma duduk lagi di ranjangnya karena belum bisa menerima rasa lelah yang berlebihan. Apalagi ayahnya tak bisa menjemput karena sudah terlanjur mengadakan perjanjian bersama para koleganya.
Saat itu juga vita mengirim pesan melalui hp juna, mengatakan penyesalannya karena tak bisa ikut menjemput salma karena ada ujian mendadak dari dosen mereka. Bahkan memang sebenarnya saat ini adalah waktunya ujian akhir semester untuk tingkat mereka, tapi terpaksa salma tak bisa mengikutinya.
"Ayo non, bibik bantuin jalan," tawarnya meraih tangan salma untuk memapah tubuhnya. Tapi saat itu juna melarangnya, meminta bibik agar membawa tas mereka yang lebih ringan dan salma diraih juna. Tapi karena masih tampak lemah, akhirnya juna menggendong salma dibagian belakang dan keluar dari kamarnya.
Salma mengingatnya, bahwa juna sering seperti ini ketika mereka masih kecil. Juna selalu ada untuk salma dan menghiburnya ketika ia marah, kecewa, atau bahkan berkelahi dengan beberapa anak tetangga.
"Juna?" panggil salma yang bibirnya tepat ditelinga juna..
"Iya, ada apa?"
" Eeeh, kamu bilang apa sih Ma? Itu kan juga udah tugas aku sebagai calon suami kamu, iya kan?"
"Iya," angguk salma lalu menaruh dagu dibahunya. Dalam kesempatan itu ia peluk erat tubuh Juna yang sedang menggendongnya. Salma seperti mulai merasakan ada getaran lain saat ia makin dekat dengan Juna.
Di sepanjang jalan pulang salma hanya diam menyandarkan kepala di jendela kaca mobil juna. Kepalanya masih terasa berat, tapi mungkin itu karena hampir seminggu ia hanya tidur di ranjangnya semantara jiwanya berkelana di alam mimpi.
__ADS_1
Hingga di sebuah persimpangan lampu merah juna menghentikan mobilnya. Saat itu salma menoleh sedikit ke arah luar jendela, namun melihat sosok yang ia kenal ada dimobil yang dekat padanya. Salma membulatkan mata, "Zayn, benarkah itu Zayn?" Gumamnya dalam hati.
Bahkan ia sempat ingin membuka pintu untuk keluar menghampirinya, tapi gagal karena lampu telah kembali menghijau dan juna mulai kembali menjalankan mobil. Ia bahkan sempay melirik salma dengan tingkah spontan dan anehnya.
"Salma, kamu kenapa, ada sesuatu?"tanya juna padanya, namun saat itu salma menggelengkan kepala.
"Ah, tidak Juna. Hanya seperti melihat seseorang tadi, tapi setelah difikir-fikir dia tidak mungkin ada disini," jawab salma. Jujur, tapi ia sendiri bingung dengan apa yang ia lihat barusan tadi.
"Aku kira kau mau sesuatu, maka kita akan mampir untuk membelinya," tawar juna. tapi salma kembali menolak karena ia hanya ingin segera pulang kerumah saat ini. Ia rindu kasur, rindu suasana di rumahnya yang besar, luas dan nyaman.
"Ngga ah, pengen langsung pulang aja."
" Baiklah, Nyonya," ledek juna mencoba membuat kekasihya kembali tertawa meski masih sulit.
"Iiih, apaan sih, resek deh..." cubit salma pada juna dengan wajah merah tersipu malu. Juna hanya tertawa terbahak-bahak megelusi lengannya saat itu, sedangkan bibik tidur pulas dibelakang mereka berdua.
Keseruan mereka di jalan terhenti ketika sudah sampai dirumah, dan salma langsung keluar dari mobil setelah mobil diparkirkan. Ia melihat Vita dan Adi yang rupanya sudah menunggu di rumah.
__ADS_1
"Salmaaaa, akhirnya udah pulang juga!" Vira datang sembari merentamgkan tangan pada sahabatnya itu. Bahkan tak segan memberi pelukan dan kecupan hangat padanya.