
Aku bagaikam bayi yang sedang tertidur pulas saat ini, namun karna bukan keadaan gawat darurat akhirnya aku dirawat dirumah dan dokter keluarga ku yang mengontrol keadaan ku.
Sudah sekitar 2hari setelau kejadian dirumah tante Rina kemarin. Juna, dan bik Ijah bergantian merawat ku, sedang kan Ayah sibuk dengan urusan laporanĀ nya ke pihak berwajib, karna kasus Ibu adalah kasus yang sudah sangat lama namun sekarang harus naik lagi.
"Sayang, bagun sayang, sudah dus hari kamu tidur, kenapa lelap sekali sayang".
Juna terus merayuku agar bangun, namun aku tidak menghirau kan nya sama sekali
" Tuan Juna, kalau mau makan dulu biar bibik siapin, nanti bibik gantiin jaga non Salma nya" Ujar bibik.
"Iya bik, sebentar lagi"
"Baik Tuan".
Juna, terus membelai rambutku, mencium tangan ku, dan mengucapkan cinta nya padaku. Namun, apa yang ia ucapkan sama sekali tak direspon oleh tubuhku.
Akhir nya aku menuruti Naya untuk ikut denganya sebentar dengan membawa seorang pengawal untuk ikut naik ke. Mobil Sebenarnya ragu, tapi ada sesuatu yang ingin ku luruskan dengan nya, agar kami tidak saling salah faham.
"Oh iya Salma, bagaimana hubungan mu dengan Zayn? "Tanya Naya.
"Iya Nay kami baik-baik saja, dsn semoga semuanya berjalan baik"
"Ya semoga saja Zayn benar-benar tulus dengan mu Salma, karna aku sangat mengerti tentang Zayn"
'Hah, apa maksud ucapan Naya, apakah maksudnya zayn hanya main-main dengan ku' tanya ku dalam hati.
"Semoga saja tidak Nay, karna sepertinya dia tulus padaku" Ucap ku padanya.
"Ya semoga saja, eh iya kita sudah sampai, ayo turun" Ajak Naya.
"Iya Nay," Aku mengikutinya pelan dan pengawal yang setia dibelakangku duduk dimeja belakang kami.
"Kamu disini dulu, aku pesan minuman nya ya"ujar Naya meninggal kan ku.
Namun saat aku berdiam menunggu nya memesan makanan, tiba-tiba ada orang teriak kebakaran dari arah dapur sontak semua pengunjung panik.
Kebakaraaaan, kebakaraaaan!!
Teriak orang-orang disana.
Pengawal ku yang biasa terlatih dalam situasi darurat, langsung refleks masuk kedapur dan menolong mematikan api kebakaran, dan saat itu terjadi tiba-tiba ada yang membekap mulutku dan membawaku pergi menggunakan mobil.
"Heyy, heey cantik ayo bangun"
Seseorang menepuki pipiku,aku terbangun dengan posisi badan terikat dikursi. Saat membuka mata, aku melihat sosok Naya duduk santai dikursi jauh dari ku, dan seorang pria didepan mata ku sepertinya yang mambangun kan ku tadi.
__ADS_1
"Aku dimana, Naya, ada apa ini? " Tanya ku .
"Hahahahaha, kamu kenal dia cantik, dia lah yang membawamu kesini, dia yang menyerah kan mu untuk ku agar kamu mati ditanganku, tapi nanti ya, karna aku ingin kamu mati dihadapan kekasihmu itu hahahaha". Pria itu ternyawa puas dan pergi menelpon seseorang.
" Hah, apa-apaan ini Naya, kenapa kamu begini terhadapku, bukan kan Zayn itu sahabatmu?" Tanya ku pada Naya.
Naya berdiri menghampiriku.
"Heey Salma, aku memang sahabat baiknya, tapi aku ingin lebih dari itu, AKU MENCINTAI NYA SALMA, dan kau tahu? Sejak kamu datang, semua yang Zayn ceritakan adalah tentang mu, dan aku hanya pendengar setianya, tahu kah kamu, hati ini sakit sekali salma"
"Dan apa yang kamu rencana kan sekarang Naya, mau membunuh ku didepan nya? Bukan kah itu akan membuatnya semakin sakit? Dan membencimu? ".
" Kamu hanya alat kami Salma, kamu akan kami gunakan untuk memgancam Zayn agar menuruti petter, dan akan melepaskan mu jika Zayn bersama ku, itu mudah kan".
"Tapi kamu tahu Zayn tidak sebodoh itu Naya"
"Zayn tidak bodoh, tapi dia akan lemah saat semua hal tentang mu dalam bahaya Salma".
Belum selesai kami berbicara seorang pria yang ternyata bernama petter tadi masuk dengan wajah bahagia, namun aku menatapnya dengan penuh kebencian.
" Hey senyumlah sayang, sebentar lagi pujaan hatimu itu akan datang menemui mu kemari, aku baik kan karna sudah mempertemukan kalian, untuk yang terakhir kali nya, hah" Petter tertawa dengan mendongak kan wajahku padanya.
"Kamu jahat" Jawabku.
"Heyyy, nona cantik, nanti kamu akan tahu siapa yang jahat disini,".
" Hentikan petter, jangan kau sakiti dia" Titah Zayn"kau menginginkan ini kan, ambi lah, tapi lepas kan dia, dia tidak ada hubungan nya dengan semua masalah kita". Zayn memegan sesuati yang sepertinta flash disk berisi dokumen penting.
"Zayn, tidak usah perdulikan aku Zayn, cepat pergi dari sini". Teriak ku padanya, namun Zayn hanya memberi kode kedua jarinya agar aku diam dan mengikuti instrtuksi nya dan seketika aku diam dan mengangguk.
" Baik lah Zayn, benar apa kata sahabat mu ini, jika kau akan lemah jika berhubungan dengan kekasihmu ini Zayn".
Zayn melirik terkejut melihat sosok Naya dibelakang Petter.
"Na, Naya, ternyata kamu yang menjebak Salma" Ucap Zayn terkejut.
"Maaf Zayn tapi kamu terlalu lemah saat bersama nya, dan semua hidupmu, semua tentang Dia Zayn, sedangkan aku, aku yang menemani mu dari dulu Zayn, dari Nol Zayn, tapi bahkan aku tidak. Pernah ada dalam fikiranmu". Ucap Naya kesal" Dan sekaran Zayn, pilih saja, kau bersama ku atau dia akan mati Zayn" Tambah nya.
Zayn tidak berkata apapun untuk. Membalas perkataan sahabatnya tersebut.
"Bagaimana Zayn, mana yang harus ku pilih, karna sepertinya kau memang tidak punya pilihan, sekarang serah kan flashdisk itu padaku, ayo cepat, lemparkan kemari, bersama pistolmu juga, jika tidak Dia akan mati dihadapau sekarang" Petter mengarahkan pistolnya kekepalaku, dan mengancam Zayn.
Zayn diam, hanya mengangkat tangan dan melemparkan flashdisk itu beserta pistolnya. Namun setelah petter menerimanya tiba-tiba Zayn ditembak nya di dada bagian kanan.
Doooorrrr!!!
Zayn langsung ambruk saat itu juga.
"Zayyyn, tidak!!" Teriak ku.
__ADS_1
Naya pun demikian dan langsung menghampiri Zayn.
"Zayn, zayb bangun, hay Petter, ini bukan perjanjian kita, bukan seperti ini yang kamu bilang" Tanya Naya.
"Apa, perjanjian? Hahahah kamu mengadakan perjanjian dengan orang yang salah nyonya, dan sekarang giliranmu"
Petter memutar pistol ditanganya dan menembak Naya.
Dooooorr!!! Tepat mengenai jantungnya.
"Dan kau ayo ikut aku keatas, kau akan mati bersama ku"
Petter menyeretku naik keatas gedung entah akan berbuat apa.
Setelah petter dan aku pergi Naya menghampiri Zayn dan membangunkan nya dengan tenaga yang tersisa.
"Z, Zayn, bangun Zayn, bangun sekarang Zayn, aku tahu kau pura-pura tidur Zayn kau tidak Selemah itu" Bujuk Naya.
Zayn pun membuka matanya.
"Ada apa Naya, kau belum puas, kau menyakiti semuanya" Jawab Zayn.
"Maafkan aku Zayn, aku begitu terobsesi pada cinta ku padamu, maaf, tapi sekarang, kau harus cepat menyelamatkan Salma, karna Salma akan dihabisi nya Zayn".
" Kau masih perduli denganya setelah yang kau lakukan?" Zayn mengambil. Pistol didekatnya dan mengisi pelurunya.
"Aku dijebak Zayn, segeralah keatas Zayn, petter akan meledak kan dirinya bersama Salma dan semua bukti kejahatanya".
Mata Zayn terbelalak dan terkejut mendengar pengakuan Naya.
"Baik, kau tunggu disini, sebentar lagi Roy akan membawamu ke Rumah sakit".
Naya tergolek lemah, dan tidak banyak bicara lagi karna hampir kehabisan darah.
Zayn keluar dan langsung keatas menyusulku yang sedang bersama petter.
" Hallo, Roy segera masuk dan selamatkan Naya, aku akan keatas gedung menyelamatkan Salma" Instruksi Zayn pada Roy.
"Baik bos" Jawab Roy.
Namun disepanjang perjalananya banyak anak buah petter yang menghadangnya, sehingga terjadi perkelahian sengit antare mereka.
Sementara diatas, Petter mendorongku hingga tersungkur dibagian pinggir gedung yang tinggi itu. Dan setelah ditubuhnya seperti Bom.
"Yaaa, sepertinya sebentar lagi lelaki tersayangmu itu akan kemari cantik, karna aku tahu, satu tembakan tadi tidak akan seketika membuatnya mati" Kata petter sambil mengotak atik Bom itu"Dan kamu tahu cantik, sebentar lagi kita akan mati bersama dihadapan nya, aku penasaran betapa hancurnya dia saat itu terjadi nanti".
Meskipun bom di tubuhnya tapi dia telihat sangat santai.
Aku melihat Zayn sudah sampai diatas gedung tempatku berada dengan mambawa pistol, dan nafas terengah-engah karna menahan sakit lika tembakan tadi. Dan mengisyaratkan aku agar diam melihat kedatangan nya.
__ADS_1