
"Seraaaaang! Kita harus bawa dia hidup atau matiiii!" teriak salah seorang dalam sebuah kerumunan. Tengah terjsdi peperangan sepertinya, yang mana semua orang saling pukul dan saling hajar satu sama lain. seperti peperangan antar dua kelompok mafia.
Tapi entah kenapa, saat itu salma muncul diantara mereka. Ia berdiri ditengah dua kubu yang saling beradu senjata, dan bahkan ia bingung harus melakukan apa. Ia juga tak ada dimana saat itu.
Sraaang! Doooorrrr, doooorrrrr!!
"Aaaarrrgh! Aku dimana??" teriak salma saat itu juga. Dan samar-samar ia melihat Zayn sedang berkelahi dengan beberapa orang disana.
"Zayyyn!" teriak salma keras memanggil nya.
Zayn spontan terkejut dan melirik kearah salma dan berteriak pada anggota nya yang lain, "Lindungi Wanita itu, Dia kekasih ku!"
Para anggota menuruti Komandonya dan membentuk barisan melindungi salma disana. Ia semakin bingung dengan semua keadaan itu, sementara orang yang tadi Melindunginya disibukkan dengan pertarungan masing-masing.
"Awaaaaas Salma, menunduuuuuuk!" Mendadak zayn berteriak dan mendekat padanya.
Salmapun Refleks menunduk, menuruti Zayn. Ia menunduk, berteriak menutupi telinganya. Namun masih terdengar jelas apa yang terjadi disana bahkan pada zayn yang melindunginya.
Doooorrrrrr!!! Sebuah suara tembakan mengejutkan salma. Dan saat ia buka mata, ternyata Zayn tertembak didada sebelah kirinya.
" Tidaaaaaaak, Zayyyyyn!!!" teriak salma yang histeris dan ia menangis sejadi-jadinya langsung berlari memeluk Zayn yang terkapar ditempat mereka.
" Bosss! Mundur cepaaaat! Bos tertembak, lindungi dia, cepat bawa ke. Mobil!!! " titah salah seorang diantara mereka.
Dan dengan cepat mereka langsung membawa tubuh Zayn kerumah nya. Disana segera mereka memanggil dokter pribadi, yang akan merawat Zayn secara intensive dirumah.
Salma yang sedari tadi masih bingung, dengan keadaannya sejak awal kedatangan, belum berani meminta penjelasan apapun pada orang-orang yang ada disana karena takut akan memperkeruh keadaan yang ada. Dan salma memilih diam sementara dengan terus mencemaskan keadaan Zayn di dalam.
"Dokter, bagaimana keadaanya? " Tanya salah satu rekan Zayn.
"Untung saja pelurunya tidak sampai ke jantung, dan hanya nyangkut disela tulang rusuk nya saja. Jadi, beliau selamat, dan tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Owh syukurlah," ucap salma yang menghela napas dengan begitu tenangnya.
"Baik... Saya permisi dulu. Sebentar lagi tuan Zayn akan segera sadar dan langsung berikan antibiotik nya ya. Sudah saya buat jadwal, beserta dosisnya tadi." Dokter pamit pulang.
Seseorang bernama roy mengantarnya hingga keluar, kemudian berbalik lagi dan mendatangi salma yang masih duduk diam ditempatnya.
"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa Zayn berusaha keras melindungi kamu dan kenapa tiba-tiba kamu masuk dalam kerumunan itu?" tanyanya pada salma, yang membuat gadis itu begitu gugup dan bahkan cemas menggigiti jarinya.
"Roooy... Kemari Roy," panggil zyan lirih padanya.
Roy adalah asisten pribadi Zayn yang sering mewakilinya mengurus segala bisnis yang ada dimana-mana. Roy adalah kepercayaan Zayn, semua perintah Roy berarti perintah atas nama Zayn.
"Zayn, kau sudah bangun? Untung saja kau tidak apa-apa. Aku suntikan antibiotiknya dulu ya?" ucap roy padanya. Zayn hanya mengangguk lemah dengan tingkat kesadaran yang masih cukup rendah.
"Aku ingin bertemu salma Roy... Panggil dia untuk ku," pinta Zayn padanya
"Oh ternyata dia yang bernama Salma, wanita yang membuatmu hampir kehilangan nyawa? Baiklah, akan ku panggil dia untuk mu. Tapi ingat, kau harus istirahat dan jangan terlalu banyak bicara. Luka mu masih basah, ".
"Iya," angguk zayn padanya.
Salma di persilahkan masuk oleh Roy, dan ia mengangguk menurutinya. Namun ada pandangan tidak suka dari Roy pada salma saat itu. Entahlah, yang penting ia dapat bertemu Zayn sekarang.
“Oh, Zayn... Maaf kan aku karna melindungi ku, kamu jadi begini," tangis salma tak terbendung sembari memegang tangan Zayn.
"Hey Salma, ini bukan salah mu. Aku yang tau kamu disana, memang mwajibanku melindungi orang yang aku sayangi. Kamu jangan menangis, aku ngga papa kok ya," ucap zayn mengusap air mata salma.
__ADS_1
Salma meraih tangan zayn dan refleks mencium Tangan itu dengan hangat.
"Sekarang kamu istirahat, kamu masih lemah. Aku disini temenin kamu, aku ngga akan pergi lagi... Aku janji,"
Zayn mengangguk dan meraih bahu salma untuk bersandar dibahunya, dan menepuk-nepuk bahu salma, hingga tanpa sadar kami sama-sama terlelap disana.
Sama menangisi Zayn disana dengan begitu khawatir, sedang kan di dunia sana mereka yang menangisi dan memgkhawatirkan salma yang koma. Tapi ia belum bisa Kembali, salma mulai terbiasa bersama zyan di dunia mimpinya.
Aku terbangun, namun sudah berpindah posisi dan Zayn sudah tidak lagi disampingku. Ini sudah sekitar dua jam dari saat salma memejamkan matanya.
"Pagi sayang... Oh iya hari ini, aku ada beberapa pertemuan. Jadi, aku harus pergi. Kamu ngga papa kan ditinggal? Kan ada bi ningsih juga, ngga usah sungkan ya," ucap zayn pada salma yang masih bengong melihatnya. Ia telah begitu rapi, seolah rasa sakit itu sudah tak ada sama sekali di dadanya.
Salma hanya bisa mengangguk membalasnya, "Tapi, bukanya kamu masih sakit? Nanti kalau ada apa-apa gimana?" tanya salma..
"Aku udah ngga papa. Tenang, ada Roy disampingku, dia tangan kanan yang mengurus semua keperluan ku. Dan dia juga bagian dari hidupku, sama seperti kamu," tatap mesra zayn yang kemudin mengecup kening salma.
Dan gadis itu masih bengong dengan perlakuan lembut zayn padanya.
"Oke... Aku pergi dulu ya, byeee... " Pamitnya dan berlalu pergi.
Salma langsung dihampiri oleh beberapa pelayan dan diantaranya bi bingsih. Ia dengan sigap melayani apa yang aku butuhkan. 'Sekaya raya itu kah Zayn?? '
"Ayo nyonya, kita kekamar mandi. Saya sudahsiapkan air hangat untuk anda, " bujuk bi ningsih padanya.
"Hah, nyonya?" tanya ku.
"Iya, bukan kah anda kekasih Tuan? Karna Tuan tidak pernah sekalipun membawa orang lain kemari sebelumnya,"
" Oh... Iya ya bi? Yaudah ngga papa, saya mandi sendiri aja ya, Bi? Makasih sebelumnya," ucap salma
Langsung ia pergi ke kamar mandi, dan ternyata semua peralatan sudah disiapkan terutama yang khusus untuknya.
Kriiiing krrrring, suara hp berbunyi, dan salah seorang Art memberikan nya padaku.
"Nyonya, ada telpon dari Tuan,"
"Oh iya makasih ya," jawab salma dan mengangkat telponya.
"Hallo Salma, sedang apa kamu sekarang?" tanya Zayn dari sana.
"Iya Zayn, aku lagi bingung sekarang,"
"Loh, bingung kenapa? Bukankan seharusnya kamu senang? semua yang kamu butuhkan sudah aku berikan kan? Apa lagi yang membuat mu bingung Salma ku??"
"Ya Zayn... Aku bingung, banyak pertanyaan yang terselip dikepalaku. Tentang siapa kamu sebenarnya kenapa kamu bisa terlibat dalam perkelahian kemarin, dan apa pekerjaan kamu sebenarnya Zayn?"
"Salma, maaf jika banyak mengundang pertanyaan dibenakmu. Sama hal nya kebingunanmu padaku, aku pun juga merasakan hal yang sama padamu. Siapa kamu, dari mana kamu, tapi aku berusaha menahan pertanyaan itu karna aku takut, jika aku lontarkan pertanyaan itu maka aku akan mendengar sesuatu yang mengejutkan dan tidak aku inginkan. Dan itu bisa menghancurkan perasaanku saat ini. Aku lebih memilih menahan perasaan ingin tahu ku padamu. Tapi jika kamu benar-benar ingin tahu tentang ku, nanati kita bicaraka dirumah ya?"
"Baiklah Zayn, jika seperti itu mau mu. Aku hanya bisa menuruti mu, tapi apakah aku boleh berjalan-jalan keliling dirumah ini? Aku bosan Zayn,"
"Okelah, tapi ditemenin bi ningsih ya? "
"Iyaaa iya. Kamu takut aku nyasar dirumah sebesar ini??"
"Nanti kamu akan tahu alasanya. Jumpa besok salma. Besok pagi aku pulang, kita langsung bertemu,"
Betapa salma ingin tahu kebenaran dirinya. Kenapa dia yang selalu hadir di mimpi indahnya, apakah ia hanya halusinansi salma saja. Yang menginginkan bahagianya diberi kasih sayang walaupun dalam mimpi? Hati salma begejolak saat itu pnuh tanda tanya.
__ADS_1
Sementara disana pun Zayn memiliki rasa penasaran yang sama padanya.
"Salma, siapa kamu, mengapa pesona mu mempengaruhi hidup ku, kenapa kamu selalu datang dan pergi membuat ku selalu menunggu sesuatu hal yang tidak pasti, siapa kamu sebenarnya?" gumam zayn dalam hati, hingga tiba-tiba Roy membuyarkan lamunan Zayn saat itu.
"Jangan terlalu terbawa perasaan dengan wanita itu Zayn. Kita belum t tahu benar dia itu siapa, darimana asalnya. Aku hanya takut dia adakah seorang mata-mata yang dikirimkan padamu untuk mengawasi kita, jangan terlalu terlena oleh pesona nya Zayn. " Tegas Roy.
"Bahkan aku tidak pernah berfikir demikian Roy. Aku hanya sangat yakin padanya, tak pernah terbesit sedikitpun pemikiran, jika dia akan mengecewa kan ku."
" Semoga saja insting mu kali ini benar Zayn, tapi kamu harus tetap waspada."
Zayn pun hanya mengangguk mendengar nasehat tangan kanan nya tersebut.
Salma melanjutkan rasa ingin tahunya tentang kemewahan rumah Zayn. Rumah yang sangat luas itu memang lebih bagus dari rumah salma. Sangat luar biasa karna designnya yang sangat indah.
Saat ia tengah menikmati pemandangan ternyata ada sosok wanita cantik menghampirinya. Dan ternyata gadis itu tak lain adalah Naya, sahabat yang pernah salma temui beberapa waktu lalu.
"Hay Salma, sedang menikmati pemandangan? Seperti nya kamu nyaman sekali disini?" sapa Naya.
Namun pandanganya seperti dia tidak menyukai salma saat itu.
" Eh, Naya? Iya Nay, aku bosan di dalam kamar. Meskipun semuanya tersedia, aku ingin keluar mencari angin segar. Sayang nya, Zayn mewanti-wanti aku supaya tidak kluar jika tidak denganya."
"Oh baik lah kalau seperti itu, aku sudah sering kemari. Mari, biar aku yang mengajakmu berkeliling," ajak naya pada salma dan bagkan menarik tangannya.
Mereka berdua menikmati indah ya pemandangan disekitar rumah Zayn, dan Naya pun sudah hafal betul tentang seluk-beluk rumah itu. Hingga tiba di suatu taman, dan Naya mengajak salma berbicara serius.
"Salma, boleh kan aku bertanya sesuatu padamu? " Tanya Naya.
"Oh boleh-boleh saja Nay, ada apa?"
"Apa hubunganmu dengan Zayn? Darimana kamu berasal, kapan kalian bertemu, sepertinya Zayn sudah sangat mengenalmu?"
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Naya pada salma. Ia bingung bagaimana harus menjawab, dan mulai dari mana.
Hingga salma menceritakan semua menurut versinya. Bahwa ia bertemu dengan Zayn belum terlalu lama, dan dia menemukan salma pingsan ditaman dekat sana lalu zayn merawatnya. asal salma dari tempat yang jauh dari mereka, sehingga ia pun tidak bisa bertemu dengan nya setiap hari. Salmq pun tidak tahu sebenarnya perasaan nya, dan itu hak nya. Salma hanya mengikuti alur keyakinannya saja saat ini.
"Baik lah, Salma. Aku sebagai sahabat dekat Zayn, hanya ingin memberi tahu mu jika pekerjaan Zayn adalah pekerjaan yang berbahaya. Kami semua disini berusaha melindungi nya, dan kamu. Aku harap kamu tidak mempersulitnya, atau bahkan membahayakan nyawanya dikemudian hari. Hanya itu saja," balas naya panjang lebar.
" Berbahaya? Sebenarnya apa pekerjaanya sehingga berbahaya? Apakah aku hanya akan menambah bahaya itu?" tanya salma dalam hatinya.
"Oke, Salma. Aku hanya beritahu itu padamu. Aku pulang dulu ya? Jaga dirimu baik-baik," pamit Naya kembali mengenakan kaca matanya.
"Iya Nay, terimakasih sudah menemani ku hari ini."
"Oke sama-sama, byee." Naya pun berlalu pergi
"Iya Nay, byeee..." Salma masih dalam perasaan campur aduk dipenuhi rasa penasaran.
##
"Bik, gimana keadaan Salma?" Tanya Juna yang menjenguk salma saat itu.
"Masih seperti kemarin Tuan muda, belum ada perubahan. Malah kayak orang tidur nyenyak sekali," jelas bik Ijah.
"Biar gantian saya aja yang jaga bik? Bibik kalau mau pulang dulu nggapapa,"
"Ya, Tuan muda. Saya titip non Salma ya" pamit bik ijah padanya..
__ADS_1
Juna hanya mengangguk, langsung menghampiri salma yang tidur pulas di brankarnya. Ia enyeka air mata salma yang tiba-tiba mengalir, mengusap rambutnya dengan penuh sayang.
"Salma... Bangun sayang, kami menunggu mu,"