
"Aaaaaaargh bibik! Aku lagi mimpi indah tauk... Bibik sih ah rese banget nih!" pekik salma dengan segala rasa kesalnya.
"Mimpi wae dituruti! Gek bangun, pamali anak gadis maghrib-magrib gini masih tidur!" omel bik ijah yang langsung menyibak selimut salma saat itu juga.
Hingga akhirnya salma beranjak dari tempat tidur, dan ia mengacak-acak rambutnya karena kesal semari mengerutu berjalan menuju kamar mandi, "Apaan sih bik? Masih ngantuk, ngagetin aja! "
"Mandi nduk, anak gadis kok tdur terus? Dari siang tadi, mau disambungin sampe pagi lagi apa? Bengep nanti mripate (matanya)!"
" Iya, iya aku mandi. Cerewet bibik iiiih lama-lama ya, ngeselin deeeh!" Salma menjulurkan lidahnya pada wanita paruh baya itu. HIngga ia menutup pintu kamar mandi dan mulai mengguyur tubuh dan menyabuninya hingga wangi. Tak lupa rambutnya ia keramasi hinga ia begitu segar saat ini.
"Eh itu lho non, ndoro tuan. Ayahnya non udah nungguin ngajak makan malam, katanya sekali-kali pengen bareng ayah," ucap bik ijah yang masih ada dikamar itu untuk mempersiapkan pakaian salma.
"Hah, tumben bik? Yaudah bentar lagi aku turun makan," jawa salma dnegan begitu antusias sembari mengganti pakaiannya. Dengan perasaan heran namun senang, ia menghampiri ayahnya yang memang telah duduk santai menunggunya sejak tadi.
"Hay, Salma. Yuk, kita makan. Ayah tunggu kamu daritadi," sapa ayah dengan ramah pada anak gadisnya.
"Tumben, ayah ada waktu makan bareng aku? "
"Ayah mau ngomong sama kamu," jujur ayah, yang membuat salma langsung menghela napasnya dengan kasar. Ia seakan tahu kemana arah ayahnya akan memulai percakapan itu.
" Salma, ayah harap kamu tidak menolak perjodohan ini. Karna dari kamu kecil rencana sudah ayah susun bersama om Bram. Apalagi jika kamu menikah dengan Juna nanti, itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan bisnis keluarga kita." Prasangka salma benar tentang ayahnya. Rasanya ia kehilangan napsu makan seketika.
Braaaak! Salma bahkan seketika membanting meja dengan rasa kesal dihatinya.
"Jadi yah, sebenarnya ayah jodohin aku sama Juna itu demi kebaikan aku apa perusahaan ayah? Emang nggak pernah sekalipun ya ayah mikirin aku? Aku kira ayah beneran mau dinner sama aku, ternyata ada maunya aja. Males makan salma dibuat ayah kalau begini," amukanya, mendorong kursi lalu kembali pergi ke kamarnya meninggalkan sang ayah tetap disana.
"Ta, elu ada acara ngga malam ini? Temenin gue jalan yuk? Gue bed mood ni, please..." mohon salma pada sahabatnya, Vita.
"Yaaah, ngga bisa Ma. Sorry, gue lagi ad acara lain, terus Adi juga lagi ad kerjaan katanya. Sama Juna aja deh ya, pasti bisa tuh dia. Okey byee," Vita menolak ajakan salma dan langsung menutup teleponnya.
"Ta-tapi... Haloo, vita! Aaarrghh!" geram salma padanya. Dan akhirnya salma menelpon juna saat itu juga, daripada ia tak kemana-mana dan justru terkurung dirumah bersama ayahnya.
"Hallo, juna? Kamu sibuk ngga malam ini?" tanya salma. Ia berharap agar juna menurutinya untuk pergi membawanya keluar bersama.
"Okey, aku jemput. Jangan lupa dandan yang cantik, byee!" Semangat juna mendengar ajakan salma saat itu juga.
Salma segera berbenah diri meski ia tak berdandan seperti permitaan juna. Ia memilih simple dan apa adanya, lalu ia turun dan bertemu ayahnya lagi yang masih ditempatnya.
"Salma! Kenapa kamu ngga pernah mau dengerin ayah? Ayah cuma mau ngomong sama kamu!"
"Terus, apa ayah selama ini mau dengerin aku? Apa ayah mau sekali aja tanya apa mau aku saat ini? Ngga ada yah, aku udah seneng banget tadi saat bibik bilang kalo ayah ngajak makan bareng, aku ngarepin banget ayah sekali aja ngobrol basa basi tentang gimana aku hari ini. Ngga ada yah. Sayang nya ayah langsung membahas pokok masalah, yang bikin aku langsung ngga mood yah."
"Kamu harus ngertiin ayah dong salma, ayah memang gitu orangnya yang langsung to the point karna semua kesibukan ayah memaksa ayah seperti itu."
"Yaaah, aku sangat sangat ngerti tentang ayah yang gila kerjaaan. Yang bahkan ngga pernah ada waktu buata aku. Bahkan salma sangat tahu, bahwa ayah bener-bener benci aku yang tak lain adalah anak kandung ayah sendiri!"
" Bu- bukan begitu Salma!" Ayah memanggilnya, tapi salma sudah terlanjur tak perduli dan berlalu ketika juna sudah datang untuk menjemputnya.
Ayah berusaha mengejar, tapi terhenti saat tahu bahwa Juna yang menjemput saat itu. Wajah tegangnya pun seketika berubah begitu ramah pada calon menantu idamannya,
"Malem Om. Juna bawa Salma main bentar ya Om?"
"Oh iya... Oke Juna, hati-hati ya? Om titip anak Om sama kamesan ayah.
__ADS_1
" Iya Om, pasti aman." Juna mengangguk dan langsung menaiki mobilnya, karna melihat salma yang sedang tidak mood. saat itu.
"Udah, ayo cepet jalan! Kemana aja terserah" Ajak salma tergesa-gesa ingin cepat pergi dari rumahnya.
"Iya, tapi kemana? Masa ngga ada tujuan. Ke mall kek, ke taman kek apa kemana gitu?" tanya Juna.
"Pokoknya oergi dari rumah! Aku pusing!"
"Owh okelah, kemana aja ya? Terserah aku kan?"
"Hmmm," jawab salma yang kemudian bersandar memejamkan mata. Tapi tak akan mungkin tidur lagi karena sudah tidur lama sekali siang tadi.
Sepanjang jalan mereka hanya diam, hingga akhirnya juna benar-benar menghentikan mobilnya. Namun, salma seketika membulatkan mata ketika sadar dimana mereka saat ini berasa. "Loh, kok kerumah kamu?"
"Lah, kamu sendiri ngga jelas mau kemana. Akhirnya aku bawa kesini, ketemu sama calon mertua. Ayo masuk," ajak juna yang kemudian membukakan pintu untuk salma.
"iih... JUNA!!" kesal salma, tapi juna saat itu hanya tertawa dan justru berlari masuk dan meninggalkannya.
"Maaa! Mama, ini ada salma. Katanya dia kangen pengen ketemu sama calon mertuanya!" teriak juna didalam rumah besar nan megah itu. Hingga akhirnya seorang wanita cantik keluar menyapa salma dengan segala rasa rindu setelah sekian lama tak bertemu.
"Eeh, ada Salma? Sini, Sayang. Ya ampun, tante kangen banget sama kamu." Tante Viona, mamanya juna langsung turun dan mengulurkan tangannya pada salma. Begitu hangat ketika dipeluk, dan mungkin seperti itu rasanya ketika dipeluk oleh ibu kandungnya sendiri.
"Tante, Salma kangen banget sama tante," ucap salma dengan suara seraknya.
"Sama sayang, tante juga kangen banget sama kamu. Kamu sehat kan?"
"Iya Tan, aku sehat kok," angguk salma.
"Iyaaa, giliran salma dipeluk mulu. Giliran anaknya di omelin mulu," ledek juna memanyunkan bibirnya.
"Salma sudah makan malam, Sayang? Kalau belum, ayo makan dulu. Biar tante siapin makananya," ajak tante viona yang kemudian menggenggam tangan salma dan membawanya pergi dari juna.
" Tadi sih sebenernya lagi makan sama ayah, Tan. Tapi ya gitu lah, belum sempet makan malah, ayah ngilangin mood.. Jadi salma males,"
"Loh, kenapa sayang? Ada apa lagi sama ayah kamu, sini curhat sama tante,"
Salma merasa nyaman dan langsung menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi saat ini Meski sembari menyiapkan makan malam seadanya untuk salma, tapi tante viona dapat mendengarkan semuanya dengan baik dengan segala perhatian yang ia punya..
Tante viona juga sahabat ibu salma ketika masih remaja, berpisah sebentar karena tante viona sendiri kuliah di luar negri kala itu. siapa sangka, bertemu dan kembali akrab apalagi dengan status suami mereka yang tak lain adalah rekan sprofesi.
Namun, ketika salma menceritakan tentang ayah padanya jawaban tante viona pasti sama, "ayahmu sebenarnya sangat mencintaimu, hanya saja cara melindungi mu itu sedikit salah sayang."
"Entahlah, Tan. Salma juga bingung harus gimana sekarang. Salma capek,"
" Kamu yang harus sabar sayang, suatu saat kamu akan mengerti kenapa ayah mu seperti itu. kamu akan paham Sayang." Tante Viona mencolek dagu Salma saat itu dengan jarinya yang lemut.
Tiba-tiba om Bram menyambung pembicaraan mereka berdua, bahwa ebenarnya, ayah salma memiliki alasan sendiri memperlakukannya seperti itu. Dan om bram amat paham tentang ayah salma karena mereka sudah bersahabat sejak jaman sekolah.
"Alasan apa om? Satu-satunya alasan yang aku tau adalah ayah benci aku om, karna setiap ingat aku ayah pasti ingat kematian ibu yang menyakitkan bagi ayah"
"Kamu tau pekerjaan ayahmu kan Salma? "
"Setahu salma ayah itu seorang pengusaha sukses, banyak memiliki rekan bisnis dimana-mana, punya banyak pendukung dan sahabat."
__ADS_1
"Yang kamu tahu itu baik nya salma. Tapi kamu tidak tahu, bahwa dibalik rekan bisnis pasti ada saingan bisnis, dibalik kata mendukung, pasti ada yang ingin menghancurkan, dan dibalik kata sahabat pasti ada musuh, itu yang harus ikut kamu pahami saat ini."
"Hah, maksud om? Ayah punya banyak musuh, musuh gimana om?"
"Ya Salma, ayah mu punya banyak musuh yang juga ber ambisi menghancurkan bisnisnya. Maka dari itu Dia takut akan ada orang yang memanfaatkan statusmu untuk melakukan tindakan itu," jawab om bram yang semakin jelas dengan ucapannya.
"Bagaimana mungkin itu terjadi om? Bagaimana bisa orang melakukan itu demi kehancuran bisnis ayah?"
" Semua mungkin di dunia ini Salma, bahkan Ayah mu pun curiga atas kematian ibi mu dahulu adalah sesuatu yang disengaja. Makanya setelah tahu kamu selamat, ayahmu berusaha keras menyembunyikan mu dari semuanya,"
"Lantas, jika ayah curiga kenapa ayah tidak menyelidikinya Om?"
" Semua sudah ayah mu lakukan Salma, tapi hasilnya masih nihil. Dan ayah mu masih belum tahu, siapa orang yang telah menabrak Ibu mu saat itu."
Salma terkejut bukan main dengan semua kenyataan yang baru saja ia ketahui. Sebegitukah berat beban ayahnya selama ini, hingga ia harus berusaha jauh dan menahan diri untuk dekat dengan sang buah hati. Ia terjebak dalam semua kepura-puraan yang ada.
"Jadi, seperti itu Om, seberat itu kah beban Ayah? Astaga,"
" Eeeh, Salma kok malah sedih? Hayooo, Papa apain Salma nya? " tanya Tante Vio.
"A- aku ngga papa, Tan," jawab salma yang kemudian menyeka air mata.
"Ayuk makan. Ini udah Tante siapin semuanya buat salma. Tapi, Juna mana? Malah main game jangan-jangan? Juna!!" pekik tante mencari putranya.
"Iyaaa Ma? Soalnya aku mau gabung ngobrol takut ngga nyambung. Kalian lagi seru banget ngobrolnya," kilah juna yang maju masih menggenggam hpnya.
"Temenin salma makan dulu, malah ditinggal..."
Juna benar-benar menemani salma saat itu hingga makananya habis. Ia bahkan sanggup meninggalkan hpnya dan menatap salma dengan senyumnya yang merekah disana. Sesekali salma membalas tatapan itu dengan sinisnya.
"Aku boleh nginep?" tanya salma secara tiba-tiba.
"Haaah! Tumben Ma, kamu mau nginep? Ngga takut dimarah Om Yoga ntar?" tanya juna yang terkejut.
"Itu tugas Loe, Junet. Loe kan kesayangan ayah, jadi pasti langsung diizinin. Lagian ada om sama tante juga di rumah,"
"Ih, seenak jidat rubah nama orang. Calon suami nih,"
"Emang gue mau? Idih!" cebik salma padanya.
"Eehm gimana pa? Anak wedok mau nginep nih?" Tanya tante Vio pada Om Bram yang mendengar semuanya.
"Yowes, ngga papa. Nanti Om telpon ayah mu supaya ngga khawatir," jawab Om Bram.
" Mending telpon bik Ijah aja, Om. Ayah mah 'Iyo Wae,"
Mereka tertawa dengan balasan salma. Dan om bram juga menuruti maunya sang calon mantu saat itu. Mereka menghabiskan malam dengan berbagai macam kegiatan, salah satu nya Juna yang membantu salma mengerjakan tugas kuliah onlinenya. Ya biarpun terkesan Bad Boy tapi Juna adalah sosok yang cerdas, dengan IPK tertinggi di jurusan mereka saat itu.
Juna menyelesaikan tugas itu dan meminta salma tidur segera. Ia melihat wajah dan mata salma yang sudah sayu karena mengantuk, apalagi hari memang sudah sangat malam saat ini.
Salma mengangguk, tapi ia meminta juna mengantarkannya ke kamar yang telah disediakan disana. Kamar yang cukup luas dan nyaman dengan ranjang besarnya. Salma segera naik dan merebahkan diri disana seolah tak ada beban atau bahkan masalah hidup yang sedang menimpa.
" Bismillah... Semoga aja malam ini tidur nya nyenyak dan bisa ketemu Zayn lagi. Jalan-jalan lagi, daaaaaan, aaaauuuuwwwh, lanjutin yang semalem!" Salma salah tingkah ketika bergumam sendiri sembari membayangkan sesuatu, yang membuatnya merinding.
__ADS_1
"I'am coming Zayn!"
Ceklek(matiin lampu).