
Aku menelan ludah menahan rasa kecewaku yang mendalam atas sikap Lin Yo yang sudah menyerah pada dirinya sendiri " Ya, aku sudah memutuskannya dan aku bukan tipe orang yang menelan kembali ludah yang sudah aku buang" kata-kata pahit Lin semakin membuat hati tersayat. sebisa mungkin aku menahan air mataku " Baiklah jika itu maumu. Aku sejujurnya tidak ingin berpisah denganmu karena aku sangat mencintaimu. dan hanya kamu yang ada di dalam hatiku. aku tidak bisa menerima pria lain lagi" " Maaf aku sudah mengecewakanmu. memamfaatkanmu untuk kesenanganku semata. tapi memang kita harus berakhir" jelas Lin dengan suara berat.
__ADS_1
entah apa yang dipikirkan Lin akan hubungannya dengannya Annora hingga ia memaksa dirinya melepas wanita yang sangat berharga bagi dirinya itu. Lin menunduk menyeka air matanya takut Annora menemukan tetesan air mata itu. Iapun membuang pandangannya ke arah luar jendela agar ia bisa menahan kesedihannya harus melepaskan orang yang sangat ia cintai.
__ADS_1
aku menoleh ke arah lain. Tak ingin melihat wajah menyebalkan Lin " Tanda tanganilah" pintanya " Baiklah aku akan tanda tangan tapi aku punya 2 syarat" selaku dengan berat hati " Pertama setelah ini apapun yang terjadi padamu jangan pernah mencariku dan atau menemuiku meskipun kau tai aku dimana " ucapku sembari menarik nafas beratku aku masih berusaha mengeluarkan suara ringanku agar Lin tidak curiga dengan kesedihanku " Baik aku terima" jawabnya singkat " Yang kedua pulanglah dan kelak ketika kita bertemu lagi anggap kita tidak pernah saling kenal" sambungku " Baiklah aku setuju, kelak aku tidak akan pernah menemuimu ataupun mencarimu bahkan jika kita bertemu aku tidak akan menyapamu ataupun mengenalmu lagi. sekarang pergilah". Aku meraih lembar kertas itu lantas setelah itu aku langsung berlari pergi meninggalkan ruang apartemen itu.
__ADS_1
Sementara di tempat lain nampak Lin yo juga meratap tak henti-hentinya. Airmatanya seperti semburan hujan yang sangat deras nampak tetesan demi tetesan mebasahi seluruh wajahnya. Wanita yang sejak tadi membantunya bersandiwara hanya ikut prihatin melihat Lin yang lemah dan terpuruk " Lin.." sapanya seraya memegangi pundak Lin " Terimakasih kau sudah membantuku" " Ini bukan dirimu. kalau dia begitu penting bagimu kenapa kau mancampakkannya?" sela wanita itu " Itu bukan urusanmu. sekarang panggilkan Jimm untuk menjemputku. aku mau pulang" pintanya seraya beranjak pergi menjauhi wanita itu Hmm dasar si gunung es tetnyata kau bisa juga takluk pada seorang wanita. tak kusangka Annora. kau wanita hebat bisa meluluhkan sepupuku yang berhati batu itu. gumam wanita itu seraya memandang tubuh Lin dari belakang.
__ADS_1
beberapa saat kemudian Jimm datang menjemput Lin. Perlahan ia memapah Lin ke dalam mobil. Salah seorang sekretarisnya menghubunginya meminta Lin untuk menghadiri rapat " Baik undur nanti sore" perintahnya seraya menutup telpon dan berebahan di ruang tidurnya " Jimm minta paman Go menutup kamar tidurku yang lama. kunci rapat-rapat. aku ingin mengganti kamar tidurku" Jimm terkejut dengan permintaan Lin. alIa ingin bertanya tapi melihat suasana hati Lin yang buruk iapun hanya menunduk dan melaksanakan perintah Lin Yo.
__ADS_1