
Kak Ali dan Lin terlibat perbincangan serius beberapa poin isi perbincangan itu aku sela untuk menghindari kesalah pahaman diantara mereka. Dan Lin mulai memainkan peran liciknya lagi.
sesekali aku mengiriminya we chat untuk memakinya. Dan ia hanya tersenyum membaca setiap we chat ku " Baiklah saya rasa sampai di sini perbincangan kita saya akan kembali ke hotel dulu" Lin berdiri dan berjabat tangan dengan kakakku juga aku " Kak saya akan mengantar tamu kita dulu" pintaku dan tanpa rasa curiga kak Alipun mengijinkan. Jauh dari halaman gedung tepatnya di depan mobil Lin kami lama bercakap-cakap " Lain kali kau harus perhatikan sikapmu" selaku " Aku tau yang jelas malam ini aku ingin bersamamu jadi jangan buat aku menunggu lama" selanya melayangkan seyum palsu karena ada beberapa staf yang masih memperhatikan kami dari kejauhan.
__ADS_1
Bagaimana tidak sosok Lin adalah sosok yang paling bersinar diantara sederetan lelaki ganteng dan mapan yang ada di yayasan. pantas saja berada di sampingnya akan menjadi pusat perhatian banyak orang " Atas dasar apa kau mengatur aktifitasku. aku mau lama atau tidak di tempat kerjaku itu hak ku. siapa kau berani memerintahku?" tukasku kesal " ooo... apa aku harus menunjukkannya di depan umum siapa aku bagimu?" sontak aku tersadar kalau kami sedang di depan umum " Bagaimana?" lanjutnya " Baiklah.... sesuai keinginanmu" jawabku ketus " Ooo satu lagi" selanya seraya menyeluduk ke dalam mobil dan memberikan seikat bunga kristan putih " Ini bunga kesukaanmu terimalah sayangku"
sesaat aku terkesima melihat keromantisan dari lelaki yang menyebalkan ini. Aku tersenyum begitu juga dengannya lantas ia beranjak pergi melaju mobilnya dengab asisten Jimm " Asisten Jimm tolong jaga tuan muda dengan baik" selaku sesaat sebelum mereka pergi.
__ADS_1
Malamnya ketika semua pelajar dan guru terlelap aku masih duduk menikmati angin malam di salah satu taman gedung yayasan tiba-tiba Reno datang menghampiriku. Aku tau sejak lama Reno memang menaruh simpati kepadaku tapi saat itu aku bukan siapa-siapa karena itu aku tidak percaya diri menghadapinya, namun setelah aku meraih semu keberhasilan dalam hidup hatiku malah belum bisa menerimanya karena sudah kuberikan pada Lin " Ibu belum tidur?" Sapanya. aku tersentak mendengar suaranya yang dekat dengan ku " Oo Reno... ya menikmati udara malam memang sangat menenangkan" jelasku menarik nafas dalam menghirup udara segar " Kamu belum istirahat?, istirahatlah nanti tengah malam kamu akan mengajak anak-anak untuk kegiatan selanjutnya" selaku ia pun duduk di ayunan sampingku" Hmmm nanti saja bu" selanya.
Suasana hening sejenak. kami terdiam dalam kekakuan yang tak jelas " Ibu kalau aku mengatakan sesuatu apakan ibu akan marah?" tanyanya " Tergantung" jawabku singkat " Pribadi?" lanjutku sambil mengayun -ayun " Aku menyukai ibu sebagai seorang pria dan wanita" selanya singkat dan pelan . Aku terdiam dan fak mengayun lagi. Lantas aku melempar senyum ke arahnya " Apa kau tau laki-laki yang memberiku bunga tadi siang itu?" Reno mengangguk " Bukankah dia rekan kerja yayasan kita " Lebih dari itu, dia adalah laki-laki yang sangat aku cintai dan aku sudah memutuskan untuk menghabiskan hidupku dengannya"
__ADS_1