Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Prolog


__ADS_3

Jarum jam dinding berdetak pelan, sebentar lagi pukul dua belas malam. Sudah empat jam lebih Fani berkutat dengan revisian skripsinya. Fani baru saja sidang akhir tadi sore, ingin sekali dia segera menyelesaikan tugas yang ia kerjakan setahun terakhir itu. Otaknya seolah sudah lelah untuk berpikir.


"Heran, perasaan kalo ngerjain skripsi temen bisa seminggu jadi, kenapa ngerjain skripsi sendiri ga jadi jadi." Fani mendenguskan nafasnya keras. Ia berdoa semoga besok dosen pembimbingnya berlapang dada memberinya acc.


Suara notifikasi whatsapp masuk di HP Fani.


[Raf, ngampus ngga loe besok, nebeng ya.] Sebuah pesan datang dari Ni'mah, sahabat dekat Fani.


[Iyaa gampang. bangun pagi ya loe. pokoknya gue sampe loe harus udah siap.] Balas Fani.


[Berangkat jam berapa emang?] Balas Ni'mah balik.


[JAM 8.] Fani mengapslock ketikan pesannya.


[Pagi banget si Raf, kalo gue belum bangun lo musti tunggu gue]


[Liat besok. gue mau bimbingan sama bu hajah soalnya biar cepet kelar.]


Chat whatsapp dari Fani sudah menunjukan centang dua biru. suda beberapa menit tidak ada jawaban dari Ni'mah, ia pun menaruh kembali handphone nya dan kembali berkutat dengan laptop di hadapannya.

__ADS_1


Mata Fani benar benar terasa lelah. Ia menengok jam dinding yang jarum pendeknya menunjuk ke angka dua. Ia pun memilih menyudahi revisian yang menurutnya sudah cukup. Beralih menuju ranjang, ia tatap langit-langit kamarnya.


Matanya tidak bisa terpejam. Fani mencoba memejamkan matanya sambil mengingat ingat agenda apa yang harus ia lakukan besok dan membayangkan bagaimana ia bertemu bu Hajah Khuriyah, dosen pembimbing skripsinya besok. Menjemput Ni'mah, ngeprint revisian, ke kampus, bertemu Damar. Ah, Damar. Fani kembali mengingat kejadian tadi siang selepas sidang.


"Raf, loe mau ngga jadi pacar gue?" kata Damar pelan di tengah makan siang bareng teman-teman untuk tasyakuran gelar barunya.


Fani melongo menatap Damar, hampir tersedak karena ia baru mengunyah makanannya, ia tidak mengira Damar akan menembaknya seperti ini.


"Gimana Raf?" Damar menatap mata Fani.


"Ehm..gue ga bisa jawab sekarang Mar" Fani mengalihkan pandangannya dari Damar, beralih menatap makanannya. Tangannya megaduk aduk sambel di nasinya tapi tidak segera disuapkan ke mulut


"loe mikir apalagi Raf, emang loe ngga capek HTS an 2 tahun sama gue??"


"trus 2 tahun ini loe anggep gue apa Raf?" Damar menatap Fani lekat lekat


"mmmm apaa yaa" Fani berpikir keras. ia memang ngga tau hubungan apa yang selama ini dia jalani bersama Damar


"yaudah jangan loe jawab sekarang gue kasih waktu loe berfikir raf, besok gue tunggu jawaban loe ya raf"

__ADS_1


Fani hanya mengangguk tidak yakin


***


Fani memarkirkan motor supra nya di depan kos Ni'mah. sambil mengeluarkan hp, ia berjalan masuk ke arah kamar ni'mah.


pintunya masi tertutup paling belum bangun ni anak. Batin Fani. Ia pun membuka sedikit jendela dari luar dan memasukkan tangannya. meraih kunci pintu dan membukanya dari dalam. Fani suda terbiasa membuka kamar Ni'mah seperti itu karena Ni'mah yang mengajarinya dulu.


"Ratu tidur, bangun cepet jadi bareng gue ngga" Fani berteriak sambil menggoyang goyangkan punggung Ni'mah


"hmmm lima menit lagi yaa" ucap Ni'mah serau. Ia belum benar benar bangun dari tidurnya.


"ngga ada lima menit lima menit, kalo ngga bangun sekarang gue tinggal loe, gue mau bimbingan revisi" Fani terus menggoyang goyangkan punggung Ni'mah


Ni'mah pun bangun dengan ogah ogahan. masuk ke kamar mandi dan dalam 2 menit sudah keluar dengan mata yang masi setengah merem


"loe mandi apa lanjut tidur sih di dalem. muka loe masi kucel kayak gitu"


"ngga usa ngejekin gue deh raf, loe sendiri uda sampe sini muka loe juga kucel " sanggah Ni'mah

__ADS_1


"muka gue mah uda kucel dari sononya kalik Mah"


Setelah menunggu Ni'mah selesai, mereka tancap gas ke rental depan kampus untuk mengambil hasil print revisian dan masuk ke gedung fakultas mencari bu hajah.


__ADS_2