Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Insecure


__ADS_3

"Ga nyangka banget kalian bisa nikah kayak gini" Boim masih geleng geleng menatap wajah Taufan Dan Fani bergantian. Saat ini mereka sedang sarapan soto di pojok kampung.


"Namanya juga jodoh bang, rahasia Allah" Taufan menimpali sekenanya.


"Kok loe mau sih pan sama cewek jadi jadian macem raf..."


"enak aja jadi jadian, gue cewek ori yaa" Fani menggebrak meja memotong komentar boim


"Tuh pan, liat pan kelakuan bini loe. galak macam singa beranak"


Taufan hanya bisa geleng geleng melihat kelakuan mereka berdua. ada rasa iri sebenarnya melihat Boim dan Fani. Walaupun mereka kelihatannya dikit dikit berantem, dikit dikit adu mulut. Tapi, di matanya mereka terlihat lebih akrab daripada ia dan Fani istrinya.


"udah dek, cepet dihabisin sarapannya. bukannya habis ini kamu harus ke balai desa?" Taufan melerai


Fani hanya menjawab dengan acungan jempol kirinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyendok soto.


"ecieee dak dek dak dek macem anak sekolah aja loe" Boim masih terus melancarkan ceng cengannya


"Bang, udah, kesiangan ntar kita" Taufan kembali melerai.


***


Beberapa anggota karang taruna sudah berkumpul di balai desa.


"Assalamualaikum" Salam Fani saat memasuki balai desa yang di sambut salamnya oleh beberapa anggota karang taruna. "Wa'alaikumsalaam"


Dengan spontan mereka merapat membentuk lingkaran.


"Anggota karang taruna nya cuma ini aja?" Tanya Fani karena ia hanya melihat 8 remaja yang terkumpul

__ADS_1


"Iya kak, kebetulan ini bukan masa liburan, jadi yang terkumpul cuma ini aja. Sebagian besar remaja sekolah di kota dan kost di sana" Jawab salah satu remaja karang taruna. Fani hanya manggut manggut tanda paham sambil mulutnya membentuk tanda o.


"Oke nggak masalah, berarti kalian ini aku anggap sebagai manusia manusia terpilih yang bisa turut andil membangun desa" Jawab Fani semangat.


"Perkenalkan nama saya Rafani Sahla Hanisah. Silahkan kalian bisa panggil Fani atau Rafa senyaman kalian aja, mohon maaf sebelumnya jika seminggu kedepan kami akan banyak merepotkan kalian demi kemajuan desa polan tercinta ini".


Fani melanjutkan presentasi agenda agenda baksosnya, sedangkan Taufan dan Boim hanya menunggu di pelataran balai desa. Mereka sengaja dilarang oleh Fani. karena entah mengapa Fani merasa grogi untuk unjuk gigi di depan umum jika ada Taufan. Sedangkan jika Boim ikut ke dalam tidak mungkin. Ia masih menghargai suaminya.


"Cantik ya fani kalau lagi presentasi kayak gitu" Ceplos Taufan sambil menyeruput es teh plastikan yang ia bawa dari warung soto tadi. Pandangannya terus memperhatikan gerak gerik Fani dari kejauhan.


"Gue masih nyari cantiknya Rafa yang loe liat sebelah mananya" Jawab Boim sambil ikut melihat Fani.


"Emang cuma gue bang yang bisa lihat cantiknya Fani, orang biasa mah ngliatnya Fani ganteng"


Boim tiba tiba menepuk lutut Taufan. "Eh!! Tau gak pan, Dulu Rafa ga suka tau kalau dipuji cantik"


Taufan yang penasaran pun menoleh ke arah Boim. "kok bisa bang?"


"yang dulu kemana mana sering sama loe sama Fani itu bang?"


*Flashback*


Sebagai anak baru yang belum kenal siapa siapa, sebagai ketua bidang, Boim ikut bertanggung jawab mengajari Fani tugas tugasnya di Humas. Salah satunya mencari dana kegiatan dengan mengajukan proposal ke instansi-instansi yang mau memberi sponsor.


Fani termasuk anak yang susah bergaul, terutama bergaul dengan perempuan Fani terlihat kurang nyaman. Oleh karena itu Boim dan Arfan menawarkan diri membantu Fani di tahap belajarnya.


"Habis sholat dzuhur kita makan siang dulu ya Ar, Raf" Kata Boim sambil melepas sepatunya di serambi mushola. Mereka baru saja selesai mengedarkan proposal.


Selesai sholat, mereka bertiga pun masuk ke warung mie ayam di depan mushola yang mereka tumpangi tadi. Sambil menunggu pesanan jadi, mereka ngobrol-ngobrol ringan.

__ADS_1


"Loe sebenernya cantik tauk Raf" Cletuk Arfan. Pandangannya tidak lepas menatap Fani.


uhuuk.. uhuuk


Fani yang kaget pun tersedak air liurnya sendiri. sedangkan Boim hanya sibuk memaninkan gadgetnya sambil menyimak.


"mata loe lagi sakit ya bang. mana ada gue cantik. gausa ngehina deh" Fani menyangkal.


"Gue serius kali Raf, kalo diliat bener bener, loe itu sebenernya cant.."


"stop bang! gue ga cantik. jadi jangan muji muji gue cantik. gue ngrasa terhina".


Boim yang bingung dengan ucapan Fani pun mengangkat alisnya. Pun Arfan yang baru kali ini mendengar cewek tidak suka dipuji cantik


" kenapa terhina sih raf?" Sekarang gantian boim yang angkat bicara karena ia penasaran.


"ya gue beneran ga cantik. cantik itu kayak kak destin, kak rini, kak ayu, mereka baru cantik. kalo gue yang kayak gini mah ga cantik. gue jelek. muka coklat. penampilan acakadul. makanya gue kurang nyaman temenan sama cewek dan lebih nyaman sama kalian. temenan sama cowok tuh simple. ga harus dandan neko neko yang penting bercandanya sefrekuensi udah bisa temenan. beda sama cewek. ada yang burik dikit aja ga mau tuh di ajak temenan. jadi plis. gue ga suka dipuji cantik karena emang gue ga cantik" Fani menjelaskan panjang kali lebar


*Flashback off*


"Jadi gitu pan critanya, menurut gue sih dibalik kesupelan sama percaya dirinya si rafa itu sebenernya dia anaknya insecure an. makanya kita kita lebih sering ngledekin si Rafa daripada ntar kalo dia dipuji puji trus makin insecure" Boim bercerita panjang kali lebar.


Taufan manggut manggut paham. Sungguh, cerita ini ia baru mendengar. Fani yang ia kenal adalah Fani yang penuh percaya diri. Ia kembali memantau Fani dari kejauhan. Melihat Fani berpamitan dengan para karang taruna dan berjalan ke arahnya.


"Capek?" Sapa Taufan setelah Fani tinggal 2 langkah di depannya.


Fani hanya menjawab dengan gelengan. gigi giginya rapi berjajar melengkungkan senyum pepsodent.


"Nih minum dulu" Taufan menyodorkan es tehnya.

__ADS_1


"Nih bang laporan notulen rapat tadi. dan ini mas laporan perlengkapan yang dibutuhkan sepanjang acara. cek list aja nanti yang udah ready. yang belum ready dipersiapkan segera" Fani menyerahkan lembaran kertas masing masing. Setelah itu ia menyedot habis es teh yang diberikan suaminya karena tenggorokannya kering setelah berceloteh satu jam lamanya.


__ADS_2