
Fani cemberut masuk ke kamarnya. dia sudah membicarakan jawaban atas CV yang diberikan Taufan. betapa fani ngga menduga jika besok sore dia akan bertaaruf dengan Taufan. Cepat sekali menurut Fani tapi lebih cepat lebih bagus, niat baik tidak boleh ditunda kata abi fani.
Fani merebahkan badannya di atas ranjang sambil menatap langit langit. sedikit sedikit ia menghembuskan nafasnya kasar.
"apaan sih loe raf, nafas loe nggangguin pendengaran gue tau ga" Ni'mah sewot karena acara nonton drama korea nya terganggu dengan sikap Fani.
Fani pun hanya melirik sebentar ke arah Ni'mah kemudian kembali menatap langit langit. Sama sekali dia tidak ada semangat buat ngapa ngapain. bayangan apa yang harus dia lakukan di tengah taaruf besok menghantuinya.
"Mah, ta'aruf itu ngapain aja sih?" Fani melirik ke arah Ni'mah menanti jawaban. Tapi Ni'mah masih fokus membaca subtitle dari laptopnya
"woy, dengerin gue lagi ngomong" Fani menoyor kepala Ni'mah
"apaan sih loe Raf, tadi gue ngomong loe juga diem aja. mentang mentang galau jadi galak" Ni'mah mengelus kepala bekas toyoran Fani.
__ADS_1
"Tau ah Mah" Fani pun memilih untuk memejamkan matanya.
***
Hari minggu pagi dapur rumah Fani terlihat lebih ramai. Ni'mah membantu mengupas bawang sedangkan mak e Fani mencuci ayam. Fani dibantu kedua adiknya Rizqi dan Rino membersihkan ruang tamu dan memindahkan kursi kursi dan menggelar tikar agar bisa lebih luas. Siang ini Fani sekeluarga akan kedatangan keluarga Taufan untuk Ta'aruf.
Setelah selesai dengan tugasnya mereka bergantian untuk mandi karena kamar mandi di rumah Fani hanya satu.
Pukul 10 siang, rombongan keluarga Taufan sudah datang. Abi, Rizqi dan Rino di depan menyambut tamu. Sedangkan Fani, Ni'mah dan Mak e menyiapkan konsumsi di dapur.
"nggak, ngapain juga istirahat orang belum kelar juga kerjaannya" Fani masih meneruskan pekerjaannya menata piring piring snack di nampan. Sejujurnya jantung Fani benar2 berdegub sampai tangan Fani ikut bergetar thremor.
"Fan, udah kamu ke luar aja bentar lagi mak mu nyusul, biar makanannya bude yang ngurus sini. Dek Ni'mah juga ke luar aja nemeni Fani" Bude Sri muncul dari balik pintu belakang. Semua keluarga besar Fani memang tinggal di 1 komplek pekarangan peninggalan almarhum simbah.
__ADS_1
Ni'mah mengangguk sedangkan Fani menggeleng. dirinya betul betul belum siap bertemu calon suami dan calon mertuanya.
"Ayok Raf, gue penasaran sama calon loe. buruan gih ganti baju trud keluar" Ni'mah menyeret tangan Fani.
Fani mengenakan gamis berwarna hitam dengan jilbab segi empat warna marun, tak lupa bros bunga kecil ia tempelkan di bahu sebelah kirinya. Tangan Fani masih tremor sambil mengelap kaca matanya. Ni'mah yang melihat gerak gerik Fani pun tertawa terbahak
"Raf, loe cuma ta'aruf aja kayak gini, gimana besok kalo ijab bisa bisa loe dikit dikit pingsan" Ni'mah terus tertawa.
"Si*lan loe Mah, awas aja besok kalo loe lamaran kalo loe grogi kayak gini gue ketawain balik"
"Eh, calon manten jangan bicara kasar kasar dong, nanti calon suaminya denger mendadak cabut ga jadi lanjut entar" Ni'mah masih tertawa mengejek.
"udah ah ayok" Ni'mah menyeret tangan Fani untuk keluar menemui tamu tamunya
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca karya pertama aku, yuk semangati aku dengan cara vote dan like novel ini. Aku juga menerima kritik dan saran yang membangun di kolom komentar