
Taufan POV
"Mas bangun Shubuhan mas" Aku samar samar mendengar suara wanita. Nyawaku masih berceceran di alam mimpi. Siapa yang memanggilku mas? tidak mungkin ini di rumah apalagi di kantor
jeng jeng
Aku langsung bergegas bangun. Di hadapanku tampak sesosok wanita yang selama ini aku stalking sosmednya dan aku curi curi pandang setiap ada kegiatan sosial bersama.
"Fani?"
"Iyaaaaa .. mas buruan sholat dulu. mau di rumah apa ke mesjid. abi dah mau berangkat itu kalo mau ke mesjid" Suaranya parau. lemas tanpa semangat
Ah, kesadaranku baru benar benar kembali. Aku menikahinya secara mendadak kemarin siang.
"Di mesjid aja. sebentar mas ambil wudhu dulu" dia mengangguk. Aku segera mengambil wudhu dan menyusul Abi yang sudah bersiap berangkat ke mesjid.
Sepulang dari mesjid, aku melihat Fani tidur meringkuk dengan celana training dan kaos oversize serta jilbab bergonya. Dari semalam dia tidur dengan memakai jilbabnya. Dia masih malu untuk menunjukkan mahkota kepalanya itu padaku suaminya. Aku duduk di pinggir ranjang agar bisa menatap lebih dekat wajah istriku itu. keringat tampak menetes tak beraturan dari keningnya. tangannya erat menekan nekan perut yang diapit guling
"Dek? kamu sakit?" Aku mengelap keringatnya denga tangan kosong dan menggoyangkan bahunya.
"enggak mas cuma nyeri haid aja bentar lagi juga sembuh" Ucapnya lemas
"Adek udah minum obat? Mau mas cariin obat?"
"udah mas ngga usah, biasanya juga gini kok. fani tidur aja dulu ya bentaran"
"mas bikinin teh anget ya?" ia hanya menjawab dengan anggukan.
Aku pun keluar ke dapur berniat membuatkan teh hangat untuk Fani. Di dapur Mak e sudah sibuk memotong sayur untuk persiapan buka warung dan sarapan nanti. Aku menyapanya dengan hormat dan tanpa sungkan mengambil gelas untuk membuat teh hangat.
"Loh, enggak nyuruh Fani aja buat bikinin kamu minum?"
"enggak mak, ini malah aku mau buatin Fani, katanya nyeri haid"
"owalaaah, Fani kalo hari pertama haid emang suka gitu Nak, sampe 2 kali mak e pernah di telpon pihak kampus suruh jemput fani pingsan di kelas gara gara nyeri haid"
aku terperanjat. sesakit itu kah yang di rasakan wanita jika mendapatkan tamu bulanan? aku baru tahu ini. Aku sudah selesai membuat teh untuk Fani dan berpamitan dengan Mak e
"Bentar nak, itu botol kaca di lemari piring kamu isiin air anget juga buat ngompres perut Fani, biasanya mak e kasih itu. Yang sabar ya nak ngadepin fani"
"iya mak ngga papa sudah kewajiban topan" aku pamit kepada mak e kemudian masuk lagi ke kamar.
"adek, ini teh angetnya diminum dulu" aku membangunkan Fani. matanya mengerjap. "sama ini kata mak e buat ngompres perut kamu" dia mengangguk
__ADS_1
"terimakasih mas maaf merepotkan" Fani berkata lirih. dia meminum teh dan kemudian tidur lagi meringkuk dengan menaruh botol kaca berisi air hangat di perutnya
kasian. Aku memilih keluar kamar takut mengganggu istirahatnya. Kembali berjalan ke dapur sekedar membantu mak e daripada gabut kan yaa ..
Jam 8 pagi aku melihat fani buru buru ke kamar mandi. suara gemericik air langsung ramai terdengar.
"Loh dek mau kemana?" Aku menghampirinya yang selesai mandi dan berjalan ke arah kamar.
"Kampus mas. hari ini gue harus ngumpulin skripsi gue ke kampus, ke sekolah tempat gue penelitian sama mau daftar wisuda hari ini terakhir soalnya"
"nggak bisa ditunda besok? adek kan baru sakit"
"Nggak bisa mas, itu kampus bukan punya nenek moyang gue" Aku menahan tawa mendengar jawaban Fani. aku melihatnya memasukan beberapa buku tebal yang aku yakini itu skripsi dan laptop ke dalam ranselnya
"Yaudah mas anter aja ya kamu masih sakit apalagi bawaanmu banyak gitu. pantes nggak tinggi tinggi"
"nggausah body shaming deh, pendek pendek gini juga istri mas. lagian pendek gue masih standar kelees" Fani melirik tajam ke arahku. Aku hanya menahan ketawa. entah kenapa wajah kesalnya begitu menggemaskan menurutku.
Setelah berganti pakaian aku menghampiri Fani yang menunggu di depan rumah. Cantik. Balutan gamis kotak kotak A clock dan jilbab non instan lebar anggun menutup tubuh mungilnya. Benar benar berbeda dengan Fani yang biasanya aku lihat di kantor yasos yang sering memakai celana gunung dan kemeja flanel ukuran lelaki.
"Yuk" Kataku menghampiri Fani dengan motorku. dia pun naik dengan susah payah karena jok motorku tinggi hampir setengah tinggi badannya. Apalagi dia menggendong ransel yang sudah aku pastikan berat. "Mau aku bawain aja tas nya?"
"Nggak usah Mas, yuk berangkat. ke Sekolah dulu baru ke kampus biar nggak bolak balik"
"yeee emangnya mas abang abang ojek online?" Fani memukul pelan pundakku. Aku hanya tersenyum sambil melajukan motor.
*****
"Ciyeee Rafaa sekarang manjaa pake dianterin segalaa" Goda Ni'mah pada istriku di depan ruang dosen. Kami sedang menunggu dosen pembimbing Fani untuk menyerahkan skripsinya. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya
"Apaan sih loe Mah. Kalo ngga gara gara ini hari terakhir pendaftaran wisuda gue mending goler goler di rumah" Fani mendengus kesal
"ciyeee mentang mentang pengantin baru maunya goler gol-- awww" Ni'mah menggosok gosok bekas cubitan yang baru dilayangkan Fani di lengannya
"makanya jangan ngaco. Gue desminore ini. Ndengerin loe ngomyang makin sakit perut gue" Fani melirik tajam ke arah Ni'mah di sampingnya.
"wadidaaw kok malah haid sih Raf, waduuh Taufan kudu puasaa doong" Dia masih gencar menggoda Fani yang suda menekuk nekuk wajahnya. Aku hanya bisa terkikik melihat mereka berdua berantem. "Eh Raf, damar tuuh"
Aku mengikuti pandangan Ni'mah ke arah bawah karena kami sedang berada di lantai 2. Seorang lelaki tinggi dengan kulit sawo matang menaiki vespa yang terlihat kecil karena tidak sebanding dengan tingginya. Apa ini orang yang di maksud Mang Udin kemarin? Aku menatap Fani yang tak acuh dengan kedatangan lelaki itu. Dia menatap ke atas kemudian melambaikan tangannya. Hanya Ni'mah yang membalas lambaiannya sedangkan Fani masih sibuk dengan game di ponselnya yang ia mainkan sedari tadi.
Kini lelaki itu sudah menghampiri kami. menyalami Ni'mah dan menyapa Fani istriku.
"Hai mah, Hai Raf" Nada bicaranya kudengar berbeda ketika memanggil Ni'mah dan Fani. Seperti nada terluka? Entahlah. Dia sedikit melirikku kemudian asik dengan Ni'mah.
__ADS_1
"Sombong loe sekarang ngga pernah nongol di grup, ga pernah nongol di kampus. kemana aja loe" Ni'mah menendang kecil kaki lelaki itu.
"Semedi gue cari wangsit" Kata lelaki itu tanpa menatapku dan Fani
"wangsit apa mar? wangsit biar bisa moveon dari Fani?" Ni'mah menyeplos. aku membulatkan mataku tak paham apa maksud ucapan Ni'mah.
"Apasi loe Mah. mulut loe lemesss" Fani menyikut Ni'mah sedangkan lelaki yang dipanggil Damar itu hanya menggaruk garuk tengkuknya
"Loe apa kabar mar?" Sekarang istriku yang bertanya. Aku betul betul hanya terdiam memandangi mereka. Merasa berada di atmosfer lain.
"Emm ba- baik Raf, kamu gmana?" Kata lelaki itu terbata.
"Gue baik. makin baik malah." Fani melirik sebentar mendongak ke atas menatap Damar yang berdiri kemudian sibuk lagi menatap ponselnya fokus di game nya. "Mar kenalin, ini Taufan" Fani merangkulku sambil tersenyum. kulihat lelaki itu membulatkan matanya. sudah kupastikan dia kaget karena Fani adalah wanita yang tidak sembarangan memegang lelaki.
"Si-siapa Raf dia?"
"suami gue"
"SU- SUAMI??? dia terbata lagi sambil melotot
"Mbak rafani, yuk masuk" Kata seorang wanita setengah baya dari balik pintu kantor.
"Iya bu siap." Fani mengambil 1 skripsi dari tas nya kemudian beranjak berdiri. "Mas duduk sini dulu ya. kalo dibuli Ni'mah bilang aja sama Fani ntar biar Fani libass habisss" Fani melirik tajam ke arah Ni'mah kemudian menyerahkan tas nya kepadaku.
"Iyaa" jawabku sambil tersenyum.
Benar benar situasi yang akward.
"Loe kenapa jadi gagap sih mar? loe cari wangsit dimana kenapa pulang pulang jadi gagap?" Ni'mah mengejek lelaki itu. Lelaki itu hanya membalas dengan pelototan. Sekarang ia mengulurkan tangannya kepadaku.
"kenalin gue Damar, seneng bisa kenalan sama loe" Aku menyambut jabatan tangannya.
"gue taufan". Dia pun duduk di tempat yang tadi diduduki Fani.
"Mereka kapan nikahnya?" bisik damar kepada ni'mah tapi aku masih bisa mendengar karena jarak kami sangat dekat
"kemarin" jawab ni'mah singkat
"hah kemarin? berarti pas Rafa nolak gue dia udah mau nikah? kok gue ga tau apa apa dari dulu"
"berisik loe" ni'mah masih menjawab singkat
Aku masih bisa mendengarnya. di tolak ni'mah? berarti lelaki ini punya perasaan terhadap istriku? ah, pipiku dan dadaku terasa memanas.
__ADS_1