
"Mas.."
"Ya .."
"Ke Yasos yuk"
"ngapain?"
"sebenernya gue sore ada rapat buat finishing acara bimbel itu. ya kan gue taunya hari ini cuma taaruf aja gatau kalo bakal sah, mas mau ikut ngga ato mau gue tinggal istirahat disini?" tawar Fani.
"aku ikut sekalian ambil baju yang disana" Taufan tersenyum sambil bangkit dari duduknya memakai jam tangannya.
"emang ninggal baju di yasos?" Fani heran
"adek lupa? aku kan marbotnya kantor"
"oiya lupa, yauda gue ganti baju dulu ya"
"ngapain ganti baju, pake ini aja, cantik kok" mendengar jawaban Taufan pipi Fani langsung bersemu merah
"gombal deh, ntar apa kata anak anak liat gue begini bisa dibuli ntar"
"ntar aku bantu kalo kamu dibuli"
"Yang ada makin dibuli kalo mas bantuin aku mesti ntar tambah ngrecokin deh"
Taufan menunduk kemudian berbisik dekat telinga Fani "uda, nurut sama mas, mas kan suami kamu" Pipi Fani semakin merah, jantung Fani kembali berdegub. Sontak ia bangkit berdiri
"yaudah ayo brangkat sekarang" Fani berlalu sambil menutupi mukanya yang memanas. Sedangkan Taufan terkikik melihat Fani yang salah tingkah.
"Abii, mak e, Fani sama mas Taufan pamit ya mau ke yasos" Fani berpamitan ke kedua orangtuanya yang masih betah di ruang tengah.
"iya hati-hati" Jawab Abi sedangkan Mak Fani hanya membalas dengan senyum.
selang beberapa menit Fani kembali lagi ke ruang tengah.
"Abiiiii ... motor Fani mana kok ngga ada di garasi??"
Abi Fani menepuk jidat. ia lupa kalau tadi rizqi ijin meminjam motor Fani karena motornya habis bensin belum di isi. "astaghfirullah, lupa fan dibawa si rizqi. naik yang lainnya aja kan bisa fan"
"vespa Fani rusak abii..." Fani berkata lemas.
"yauda dek, taxi online kan ada. nanti pulangnya kesini pake motor aku kan bisa"
"emang motor mas di yasos?"
Taufan mengangguk. ia pun mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk memesan taxi online.
****
"loh, bang Topan? Fani? Kok dateng bareng?" Destin heran dengan kedatangan mereka berdua.
__ADS_1
"ng... Tadi vespa gue mogok kak, trus ketemu bang Topan jadilah dia ngajak gue bareng" Bohong Fani sebelum Taufan mendahului menjawab.
"Trus vespa kamu kmana Fan? Bang Topan kan motornya di dalem. trus naik apa? Trus Fani yakin kamu naik vespa pake gamis gini? Tumben?" Destin masih nggak percaya dengan jawaban Fani.
Fani pun tertawa maksa "Haa haa emang kenapa sama kostum gue? aneh ya? Udah yuk kak masuk ke ruang briefing aja" Fani mengalihkan pembicaraan.
Taufan yang melihat tingkah Fani hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.
Fani dan destin sibuk menyiapkan berkas untuk rapat. Sedangkan Taufan di belakang menyiapkan konsumsi untuk peserta rapat. Hari minggu tidak ada petugas piket kantor jadi tugas menyiapkan konsumsi otomatis diambil alih Taufan.
Ctingg.
Fani melihat notifikasi whatsapp masuk dari nomor asing yang sama dengan siang tadi
📥 dek, kok adek ngga jujur aja sama destin?
📤 Lhoh? ini nomormu mas?
📥 Iyaaa sayang ... adek jawab pertanyaan mas dong?
📤 em, gue belum siap ngumbar. lagian kita kan baru ijab aja belum nyebar undangan. Ntar aja habis tasyakuran nikah baru diumbar ke semua orang juga nggapapa. maaf ya mas📥 hmm .. yauda
📤 Mas marah? Maaf mas
Chat ke Taufan cuma centang 2 biru. Tampak beberapa teman panitia masuk dan rapat segera dimulai. Fani masih fokus menatap ponselnya menunggu jawaban dari Taufan
"Serius amat sih Fan main hp nya?" Destin menyikut pelan tangan Fani.
Fanipun menoleh ke arah destin "eh? ya kak?"
Fani pun baru tersadar kalau sudah banyak orang di ruangan tersebut. ia pun meletakan ponselnya di atas meja dan fokus dengan proposalnya.
tok tok tok
Taufan mengetuk pintu dengan sebuah nampan besar berisi minuman dan snack. Ia masuk untuk membagikan jatah konsumsi. Destin yang berada paling dekat dengan Taufan membantu membagikan. Sedang Fani hanya menatap setiap gerakan Taufan.
"Huss ngga baik natapin cowok kayak gitu. Bukan Muhrim ntar jadi penyakit hati" Ucap Rani teman sesama humas yang duduk di sebelah kiri Fani.
Fani hanya tersenyum kecut. Ia kembali fokus dengan proposal di depannya.
Rapat sudah berjalan satu jam. Yang tersisa sekarang tinggal obrolan santai. Fani mencoba lagi melihat ponselnya
📥 dek, mas tidur sebentar ya. kamar mas di belakang deket dapur, kalo dah selesai WA ya. kalo mas ga bales bales sini aja.
📤 oke mas
Fani menjawab singkat. Setelah Rapat usai, satu persatu panitia meninggalkan yasos. sekarang tinggal Fani yang sibuk merapikan berkas berkas dan Destin yang merapikan piring dan gelas bekas konsumsi.
"Mau nyuci ke belakang kak?"
"iyaa kamu dah selesai yang rapiin berkas?"
__ADS_1
"Udah kak, sini gue bantu kak" Destin pun mengangguk menyambut bantuan Fani.
mereka berdua mengangkat piring dan gelas kotor ke wastafel dapur. Fani celingak celinguk mencari kamar Taufan. Ia menemukan satu pintu tertutup yang penuh dengan sticker sticker bekas merchandise acara yasos.
"kok gelap ya?" Fani nyeplos dengan suara lirih.
"apa yang gelap Fan? orang terang gini" Tanya Destin karena memang lampu dapur menyala terang
"eh? ngga papa kak, pikiranku yang gelap. buntu nggak ada ide buat artikel buletin bulan depan" Fani gelagapan kaget. untung bisa mengeles.
"ooh ..." Destin melanjutkan cuci piring. Sedangkan Fani menata ke rak. suara gemerincing piring dan air membangunkan Taufan. Ia pun keluar kamar untuk mengecek keadaan kantor dan untuk berwudhu.
"Bangun tidur bang?" Sapa destin dengan senyum merekah melihat Taufan keluar dari kamar.
"Eh, iya des, ini mau sholat" Taufan melewati mereka berdua berjalan ke arah kamar mandi sambil curi curi pandang ke Fani yang agak cemberut. lucu.
"Yauda mas sekalian aja jama'ah, kita berdua bentar lagi selesai nyuci piringnya" Tawar destin masih dengan senyum lebarnya. Taufan pun mengangguk sambil berlalu.
"Kak, kalian deket ya?" Tanya Fani heran dengan kedekatan mereka
"Ngga juga sih Fan, tapi kita uda kenal lama" Destin menjawab dengan senyum merekah.
Fani hanya ber oo ria karena dia tidak berminat untuk kepo lagi. Kata orang mending kita pura pura ngga tau daripada kepo kepo ujung ujungnya sakit hati. Selesai cuci piring mereka bertiga sholat berjama'ah.
"kamu pulang bareng siapa Fan?" Tanya Destin sambil bersiap pulang.
"Ntar dijemput kak" Kata Fani berbohong.
"Yakin? Ngga bareng aku aja?"
"Ngga usah kak. ngrepotin ntar aku nunggu depan aja. habis ini juga dijemput. aku WA dulu"
"Yaudah, kalau gitu aku duluan ya fan.. hati hati ya kamu"
"iyah kak, kak destin juga hati hati di jalan"
Mereka berdua berjalan beriringan ke depan. Terlihat Taufan sedang menggendong Tas ransel besar sambil mengeluarkan motor.
"Loh bang Taufan mau pulkam? Banyak banget bawaannya"
"eh, iya Des" jawab Taufan seadanya.
"Hati hati di jalan ya bang. Aku pulang dulu" Senyum Destin melebar yang dijawab dengan anggukan Taufan. Destin kemudian berlalu dengan motor maticnya
Taufan masih mengeluarkan motornya. tampak di teras kantor Fani menunggu dengan cemberut. "Adek kenapa cemberut? Mas lama ya?" Fani hanya menggeleng. "Yaudah yuk. Mas kunci kantor dulu" Fani masih duduk diam di tempatnya
"Mas yakin kita naik ini?" Tanya Fani ragu melihat motor pria warna hijau milik Taufan. Jok motornya menukik naik tinggi ke belakang.
"iya, mas punyanya cuma ini. kenapa dek?"
"ini tinggi banget mas"
__ADS_1
"apa perlu mas gendong buat naik?" Taufan terkikik
"NGGAK!!" Fani langsung menyilangkan kedua tangannya "Mas kuda kuda aja yang kuat aku mau naik" Fani kesusahan karena ia memakai gamis. untung saja dia memakai dobelan celana panjang jadi auratnya tetap tertutup sempurna.