Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Bang Boim


__ADS_3

"mas temenin aku mandi ya"


Taufan auto membulatkan matanya


"hah?" ia menelan kasar salivanya.


"iiih, jangan omes deh. maksudnya mas diluar, aku mandi di dalem. jangan pergi pergi"


"ooh..." Taufan hanya ber oh ria dengan wajah datarnya "ih, ternyata rafani sahla hanisah penampilannya macho tapi penakut" Taufan mengejek istrinya


"ya kan kita belum ma'rifat disini mas. ih nyebelin."


Taufan hanya tertawa melihat istrinya masuk kamar mandi. ia pun memasak mie instan rebus sambil menunggu istrinya selesai mandi. kebetulan letak kamar mandinya bersebelahan dengan dapur


bekk.. bekk.. bekk


suara yang diciptakan kain ketika dipakai buat melangkah. Taufan menoleh ke asal suara. ia melihat istrinya lari dengan handuk yang membelit tubunya. ia kembali menelan salivanya kasar.


Kenapa sih sama fani hari ini? kenapa terlihat lebih menggoda? batin Taufan


Taufan membawa mie instan yang sudah selesai di masak dan 1 piring serta sepasang sendok garpu.


"kamu ngapain lari lari sih dek" tanya taufan dari luar kamar. Fani masih di dalam kamar untuk berganti pakaian


"habisnya mas itu cuman bawain handuk sama alat mandi aja gak bawain baju ganti ku" Suara fani terdengar seperti sedang marah. "aku kan malu mas" imbuhnya lagi.


"malu sama siapa, kan cuman ada mas" Taufan menyiapkan mienya yang masih mengepul. ia tuang di mangkuk agar panasnya berkurang


"ya malu sama mas lah" kata Fani sambil keluar kamar. handuk kecil menutupi rambutnya yang masih basah. tandanya ia baru selesai keramas.

__ADS_1


"nih makan, mas gantian mandi dulu. kamu nunggu sendiri di sini ngga papa kan?" Fani hanya mengangguk. ia mengaduk aduk mie kuah di depannya. sesekali ponselnya ia scroll scroll sekedar melihat lihat updatetan teman temannya di feed instagram


sampai 5 menit fani masih sibuk dengan handphone nya.


"loh, kok belum di makan dek?"


"nunggu mas sekalian. nggak enak makan sendiri"


Taufan pun duduk. menuang kembali mie kuah dari panci agar porsinya lebih besar. mereka pun makan bersama dalam satu piring. jangan berpikir jika mereka berdua suap suapan. sungguh selama seminggu lebih ini baru sekali fani menyuapi taufan. fani menggunakan garpunya sedangkan Taufan menggunakan sendok.


selesai makan Fani membereskan piring kotor serta panci kemudian membawanya ke belakang. tentu saja Taufan tetap menemani istrinya yang penakut itu.


"mas, pak RT romantis ya?" celetuk Fani saat mereka bersiap di pembaringan.


"kok bisa?"


Taufan menyentil jidat istrinya "ada ada aja, udah yoh tidur. udah jam 2 ini"


Fani pun merebahkan dirinya diikuti Taufan di sampingnya. Sampai adzan shubuh berkumandang Taufan benar benar tidak bisa memejamkan matanya. ia pun memutuskan untuk pergi ke masjid, dan berniat membangunkan istrinya setelah ia pulang dari masjid.


Suara puji pujian bertalu talu sangat dekat. masjid besar hanya berbeda 1 gang dari rumah basecamp yang ditempati taufan dan fani.


Taufan mengikuti beberapa orang yang berjalan menuju masjid. menerabas kebun jati yang langsung menembus halaman belakang masjid. Jadi tidak perlu berjalan memutari gang.


Sampai sholat shubuh selesai, Taufan baru benar benar merasakan kantuknya. ia pun memutuskan untuk kembali ke basecamp, meninggalkan jamaah yang sedang khusyuk mendengarkan kuliah subuh.


"lho, dah bangun" baru saja Taufan berniat membangunkan sholat fani, ternyata istrinya itu sudah tadarus selesai sholat


"iya mas, tadi pas mas keluar aku bangun"

__ADS_1


Taufan menarik tangan Fani.


"temenin tidur sini yuk dek. ngantuk banget aku"


Fani langsung berada di dekapan suaminya. Taufan memeluknya seperti memeluk guling


"mas, aku belum nyopot mukena ini" kata fani sambil berusaha melepas pelukan taufan tapi tidak bisa. fani menunggu taufan sampai pulas kemudian berniat bangkit.


****


"Astaghfirullahaladziim" seorang lelaki berteriak setelah membuka pintu kamar yang ditempati Taufan dan Fani. seketika ia berbalik badan sambil menutup matanya.


Taufan dan Fani pun terbangun kaget. Apalagi fani, tadi dia sudah berniat untuk bangun setelah suaminya benar benar tidur malah dia ikut ikutan lelap.


"bang boim..." Fani membulatkan matanya. ia masih memakai mukenanya sedari shubuh tadi


"eee, anu bang, gue bisa jelasin" Fani tergagap karena takut ketua bidangnya salah paham.


"nggak, raf, gue yang minta maaf. gue uda tau kok kalo kalian baru aja nikah" Boim duduk lesehan di ruang tengah sambil mengelus elus dadanya. masih untung cuman adegan pelukan yang dia lihat bukan yang lain. begitulah ia menentramkan batinnya sendiri.


Taufan juga nampak keluar dengan muka bantalnya.


"dari kapan bang tau kalo kita udah nikah, secara kan kita belum ngumumin apa apa" tanya fani penasaran.


"baru aja tadi di pom depan jalan raya sana. gue udah ngebut banget ke sini tadi shubuh pas gue tau kalo hanan ngasih topan buat temenin loe. gue marah marah tuh sama hanan kenapa gak cewek aja ato bertiga kalo harus lawan jenis biar ga jadi gosip. langsung tuh gue gass motor gue. sampe pom depan gue isi bensin gue baca balesan wa hanan bilang kalo kalian suami istri. trus pas gue tanya pak rt basecampnya dimana pak rt juga cerita. ah, dah terlanjur sampe sini juga. yauda gue lanjut aja. sampe sini udah pintu depan ga dikunci, suasana sepi, gue buka satu satu ga ada orang cuma kamar kosong, sampe gue buka ntu kamar, kaget dong gue liat orang peluk pelukan. mana loe pake mukena lagi, kan gue kira si ocong raf" boim bercerita panjang lebar.


Taufan dan fani yang mendengarkan pun tertawa terbahak bahak.


"ish, kalian mandi sono berdua, sikat gigi sono, bau jigong kemana mana nih" kata boim sambil menjepit hidungnya dengan jempol dan telunjuk

__ADS_1


__ADS_2