Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Persiapan Baksos


__ADS_3

Seminggu ini, Fani dan Taufan disibukkan dengan acara pindahannya. Pun taufan sudah ijin untuk tidak jadi marbot kantor lagi pada pimpinan yasos.


"akhirnya ya pan, keinginanmu buat memperistri Fani tercapai semoga jadi keluarga sakinah mawadah wa rahmah ya pan" Hanan menepuk pundak Taufan bangga. Selama ini dia menjadi tempat keluh kesah Taufan. pun dengan calon taufan sebelumnya Hanan juga menjadi tempat curhat taufan.


"makasih ya bang, udah selalu ada buat gue". Taufan merangkul hanan sebagai bentuk persahabatan. sekarang Taufan hendak pamit pulang karena hampir seharian ia ada di yasos.


Hampir keluar dari pintu Yasos ia melihat Fani memarkirkan vespanya. ia pun berlari kecil mendekati Fani untuk menyapa.


"Lhoh dek, kok ke yasos ga bilang bilang tau gitu tadi bareng" Taufan sudah ada di belakang Fani.


Fani kaget sambil menengok kanan kiri depan belakang ada yang melihat mereka nggak. setelah melihat keadaan yang sepi ia menarik tangan taufan untuk disalimi dan dicium punggung tangannya cepat. "maaf mas tadi keburu, ada yang harus disiapin buat baksos besok lusa soalnya"


"yaudah, nggak papa. mas tunggu di rumah ya"

__ADS_1


Fani mengangguk kemudian berpamitan dengan suaminya.


sesampai ruang humas beberapa orang sudah menunggu. Lusa tim relawan sudah harus berangkat ke lokasi baksos. tapi beberapa orang penting seperti warga yang bersedia rumahnya dijadikan tempat untuk menginap, atau murid murid sekolah yang dijadikan target pembelajaran, karang taruna yang diajak kerjasama saat pembagian bantuan belum semua dipastikan karena rini yang menjadi penanggung jawab dua hari yang lalu terlibat kecelakaan.


"Yaudah pak, aku aja yang berangkat kesana besok pak. biar lusa kalian bisa langsung bergerak sesuai proker" Fani mengajukan dirinya. karena ia berpikir dirinya sudah tidak ada tanggungan kuliah yang menguras waktu. jadi menurutnya orang yang paling longgar waktunya hanya dia.


"beneran nggak papa fan? ijin keluargamu dulu ya, kalau ngga dapet ijin segera konfirmasi di grup" Boim sang ketua humas agak ragu melepas Fani karena ia perempuan. sendirian di tempat yang belum dikenal tanpa tau keadaan disana membuat boim berpikir harus mencarikan fani teman. "nanti gue sekalian bilang ke hanan buat nyariin kamu temen dari perkap biar bisa sekalian prepare apa aja yang kurang di sana biar bisa segera konfirmasi. kalau gue uda longgar ntar gue nyusul"


Fani mengangguk paham. teman teman humas lain pun sudah terlihat tatapannya lega.


Fani pulang ke rumah yang tak lain ruko percetakan Taufan selepas maghrib.


"Assalamualaikum" Fani segera menyalimi suaminya yang sedang duduk duduk santai di balkon. Mesin percetakkan masih berderu tapi sudah di handel 4 orang karyawan Taufan.

__ADS_1


"wa'alaikumussalam dek, sudah sholat belum?" Taufan menarik tangan Fani agar bisa duduk di sampingnya. Fani hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan dan senyuman.


"Tadi gimana rapat humasnya dek?" tanya Taufan masih sambil menggenggam tangan istrinya. rasa rasanya Taufan tidak mau melepas genggaman itu sebagai upah seharian tidak bertemu istrinya.


"Alhamdulillah mas, lancar. tapi aku sekalian mau minta ijin" jawab Fani hati hati. sungguh ia merasa akan lebih mudah minta izin ke muhajir, abinya daripada Taufan. dan baru sekali ini Fani meminta ijin untuk pergi dan menginap pada suaminya


"ijin? ijin apa dek?" Taufan mulai mencondongkan arah duduknya menghadap Fani


"Besok aku lebih dulu berangkat ke lokasi baksos daripada temen temen lain karena ada beberapa orang yang belum ditembusi ijin, takutnya kalau jadi kendala kita pas baksos besok" Fani mulai membalas genggaman tangan Taufan dengan tangan satunya. elusan elusan lembut ia beri ke punggung tangan yang agak berurat itu.


"emm.. sendirian?" tanya Taufan.


"kayaknya enggak sih, tadi kata bang boim ada tim perkap yang mau diajak buat cek perlengkapan. sama kalau dah longgar bang boim mau nyusul" jawab Fani sesuai dengan perkataan ketua humasnya tadi

__ADS_1


"oke, boleh" Taufan tersenyum. Sebenarnya ia barusan dihubungi hanan untuk mewakili tim Perkap karena lebih baik jika suaminya sendiri yang menemani Fani ke desa target baksos ini kata Hanan.


Fani sendiri membulatkan matanya tidak percaya kalau izin menginap ke suaminya akan semudah ini. bibirnya terus mengulum senyum. "makasih ya mas" ucapnya ke Taufan


__ADS_2