
Fani menggaruk ujung hidungnya yang tiba tiba gatal. dia bingung harus di posisi yang seperti apa. akhirnya fani memutuskan untuk duduk.
"kamu sendirian aja dek?" tanya Taufan sambil tangannya mencari cari stempel di laci meja.
"iya, tadi sih sama kak destin tapi kak destin nya dah pulang duluan. mas taufan ngapain di sini? ini kan belum jam piket?" fani masih menundukkan pandangannya ke arah proposal.
"iya, aku kan yang jaga kantor dek, kalo dah ga ada orang aku yang jaga di sini" stempel yang di cari sudah ketemu, tapi taufan tidak langsung menytempel proposal fani.
"ooo .. mas taufan tidurnya di sini?" fani manggut manggut kaku. benar benar sebuah keaadaan yang sangat sangat akward.
"iyaaa.. oh ya panggil topan aja. kepanjangan kalo musti manggil taufan"
"loh? bang topan bang topan yang sering dipanggil anak anak itu mas taufan? perasaan dulu gondrong kayak ramon y tungka, kok sekarang potong rambut?"
"kan buat foto cv abang dek, kalo rambut pendek gini ga kayak ramon y tungka apa?" Taufan menahan tertawanya diganti dengan senyum manis
Fani menatap sebentar Taufan kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain. "ya masih sih, dikit" pipinya terasa hangat. ia ingin segera pergi dari meja piket tapi tidak tahu bagaimana pamitnya. akhirnya dia meladeni setiap obrolan taufan.
"vespa kamu mana dek? kok ga dibawa?" Taufan menengok ke arah luar dan tidak terlihat kendaraan yang biasa fani bawa ke kantor
__ADS_1
"oh, si parjo? parjo di rumah belum aku benerib platinanya geser"
"parjo??" Taufan tertawa terbahak. sedangkan fani menatap heran. emang selucu itu?. batin fani.
"iya parjo, kependekan dari vespa warna ijo" fani kembali menatap heran karena taufan semakin terkikik.
"kalau yang kamu bawa ini siapa namanya?"
"ooh, itu namanya supri" fani menjawab datar
"kenapa ngga suwahi ato suwartam kan supra warna hitam" masih ada sisa sisa ketawa Taufan
"nggak lah. supri itu artinya supraku" jelas fani
"ya gaya gayaan aja dicampur bahasa arab. kayak bukuku kitabi, rumahku baiti"
"ooo, kalo cintaku?" taufan bertanya dengan mata membulat
"mahabati" jawab fani datar
__ADS_1
"kalo suamiku"
"zauji"
"kalo istriku"
"zaujati"
Taufan pun tersenyum puas. sedangkan fani yang menyadari percakan tak berfaedah ini tersipu malu. "apaan sih bang, buruan di stempel ah, ak- gue mau cepet pulang nih" Fani salah tingkah. Taufan pun menyetempel proposal fani sambil terkikik
"ini sudah selesai zaujati"
"apaan sih bang. belum mahram gausah panggil panggil zaujati" fani menaikan intonasi suaranya menutupi debaran jantungnya yang semakin cepat 3 kali lipat sedangkan Taufan semakin terkikik.
"brarti suatu saat bisa jadi mahram dong?" Taufan semakin semangat
"au ah bang. gue pamit dulu"
setelah memasukan proposalnya fani berdiri siap pulang baru 1 langkah brukk. kakinya tidak sengaja menendang kursi di sampingnya "tuh kan jadi grogi kan gue, bang topan sih" fani menggerutu pelan sambil melirik tajam taufan yang terkikik melihat fani berjalan cepat ke arah pintu keluar.
__ADS_1
bener bener nggak bisa di ajak kerja sama ini jantung. Fani menjalankan motornya pulang sambil senyum senyum di sepanjang perjalanan.
Kalau dilihat lihat sekilas Taufan emang mirip Ramon Y. Tungka. artis favorit fani yang selalu memerankan gaya swag di setiap ftv dan filmnya. fani kembali tersenyum. apa gue terima aja ya ajakan taarufnya?. Fani masih terus membatin.