Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Percetakan Taufan


__ADS_3

Fani sudah selesai menyerahkan skripsi dan mendaftar wisuda. Badannya kelihatan kelelahan. Tentu saja, ini hari pertama Fani datang bulan.


"udah selesai semua dek?" Tanya Taufan masih memeluk tas Fani.


"udah mas. Pulang yuk. aku udah pengen tiduran badanku pegel semua"


"Yaudah yuk boleh"


"Mar, gue sama mas Taufan pulang dulu ya. pamitin ke Ni'mah kalo dia dah keluar dari ruang dosen" Fani pamit kepada Damar. Taufan juga pamit dengan menyalami Damar


"iyee bawel" Damar menjawab singkat tanpa memandang Fani.


Sepasang suami istri itu melajukan motornya meninggalkan kampus. Fani menyenderkan kepalanya di punggung Taufan. Dia juga mengaitkan tangannya ragu di pinggang Taufan.


"Kenapa dek?" Taufan menengok sebentar kemudian fokus menyetir motornya lagi

__ADS_1


"Nggak papa mas, kalo dah nggak ada kerjaan baru inget kalo nyeri haid" Fani menyengir


Taufan pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. sesekali tangan kirinya mengusap lembut tangan Fani yang berada di pinggangnya


"Loh mas ini di mana?" Fani kaget karena dia sampai di tempat yang asing. Deretan ruko berjajar di pinggir jalan yang ramai.


"percetakan mas dek. di atas ada kamar, kamu istirahat di sana aja. mas mau liat kerjaan anak-anak dulu" Taufan menyebut teman teman yang membantunya dengan sebutan anak-anak. tentu saja karena mereka masih di bawah umur. mereka semua adalah bocah bocah yang hampir putus sekolah karena kekurangan dana. Taufan pun membantu mereka dengan memberi pekerjaan walaupun gajinya tidak terlalu besar, mereka sudah sangat senang karena Taufan ikut membantu membayar biaya sekolah mereka.


Taufan menggandeng Fani untuk memasuki ruko. suara deru mesin cetak ramai menghiasi ruangan


"wiih loe punya cewek bang? tanya seorang anak remaja yang mengoperasikan mesin.


"hah seriusan bang? kapan nikahnya kok gue ga diundang"


"kemaren"

__ADS_1


"ih jahat loe bang sama kita kita. tau gitu kmaren kita ga lembur biar bisa dateng ke nikahan loe" remaja itu mengerucutkan bibirnya. Taufan pun tertawa melihat tingkahnya


"cuma ijab aja ntar deh gue traktir makan semua"


"nah gitu dong bang"


"yang lain kemana kok loe cuma sendiri"


"masi di sekolah lah bang, masih pagi ini" Taufan melihat jam dinding yang ditunjuk anak itu dengan matanya menunjukkan pukul 10.30 pagi


"lha trus loe kenapa disini? bolos loe?" Taufan meninggikan suaranya hampir melepaskan gandengannya dengan Fani untuk menghampiri bocah lelaki itu


"di usir gue sama guru gegara tidur di kelas tadi. yauda mending gue cabut sekalian aja. lagian juga bentar lagi mereka pada pulang hari ini setengah hari aja bang sekolahnya mau ada rapat guru" bocah lelaki itu sudah menutupi kepalanya dengan tangan yang ia silangkan guna menghindari pukulan Taufan.


"loe nya bandel" Taufan pun meninggalkan bocah itu dan naik ke atas dibuntuti Fani yang dari tadi hanya diam melihat adu mulut itu.

__ADS_1


"Dek, itu kamar mas, adek masuk dulu aja. mas mau ke toilet" Fani hanya mengangguk. perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Fani langsung merebahkan tubuhnya di kasur queen size milik Taufan. Ujung jilbabnya sudah mencong tak beraturan. Fani mulai meringkuk mengapit guling. wangi aroma Taufan melelapkannya langsung ke alam mimpi.


Taufan yang melihat Fani tertidur dengan pakaian lengkap bahkan kaos kaki masih menempel di kakinya hanya bisa tersenyum. Ia memilih turun ke bawah membaur bersama pegawainya menyelesaikan pekerjaan.


__ADS_2