
Taufan memasuki parkiran taman kota. Hari sudah mulai senja, tapi Taman kota terlihat semakin ramai.
"apa kita nggak kesorean mas?" Tanya Fani sambil membetulkan ujung hijabnya yang porak poranda
"Sebentar aja dek, mas masih pengen jalan berdua ma adek" Taufan meletakkan Helmnya di atas jok motor kemudian tersenyum ke arah Fani yang terlihat blushing.
"Yaudah yuk" Fani mengulurkan tangannya yang disambut hangat suaminya. senyum mereka melebar. "Mas laper nggak?"
"Hah? emang adek uda laper lagi?" Taufan kaget karena belum ada 15 menit yang lalu mereka selesai makan dengan porsi yang lumayan wow menurutnya
"Uda terbang kena angin pas otw sini tadi mas sari sari makanannya"
Taufan pun tertawa mendengar jawaban absurd istrinya. "Yauda adek mau apa? siomay? batagor? miayam? bak~~"
"Itu aja .. MANG UDIIIN!!" Fani memotong pembicaraan Taufan. menunjuk sebuah gerobak siomay kemudian berlari meninggalkan Taufan. Taufan hanya menggelengkan kepala. Sedangkan mang mang yang dipanggil Fani menengok dan melambaikan tangannya dengan semangat. Taufan pun berlari kecil menyusul istrinya.
"Ya Allah Raf cantik banget kamu sampe aku pangling" Kata mang Udin pedagang siomay yang heran karena tidak biasanya melihat Fani menggunakan gamis seperti sekarang.
"Apa sih mang, ngga usah rese deeh" Fani tak menghiraukan Mang udin lanjut mengambil piring dan memilih isi siomay nya sendiri. Taufan pun sampai ke gerobak Mang Udin. "Mas mau siomay nggak?" Fani menawari suaminya. Taufan hanya menggeleng sambil tersenyum
"Widiiiih Rafaaa ... pacar baru lagi raf? kenalin ke mang udin dong" Mang udin menggoda Fani yang sedang menuangkan bumbu kacang
"Mang udin nggak usa buat buat deh enak aja pacar baru lagi. baruu juga sekali ini punya pacar udah mau dibuat berantem aja sama mang udin" Fani kesal dan melirik tajam ke arah mang udin.
Mang udin tertawa. "Lha itu yang biasanya yang tinggi 2 meter naik vespa itu dikemanain??"
"Maaang ... itu bukan pacar gueeee" Fani semakin kesal. apalagi melihat tatapan Taufan yang dingin tidak bisa diartikan. "nih kenalin namanya bang topan. Bang topan kenalin ini mantan boss aku Mang udin" Mang udin mengelap tangannya kemudian mengulurkannya ke Taufan. Taufan pun membalas dan mereka berjabat.
"saya Udin bang"
__ADS_1
"Saya Topan"
"Udaah jabatannya nggausah lama lama. Yuk mas kita duduk sana" Fani sudah membawa sepiring Siomay dan menunjuk bangku kosong dengan mulut dan matanya. "Mang ini ya 1"
"siap raf"
Mereka berdua pun duduk. Tak berapa lama es teh yang dipesan Fani di sebelah mang udin tadi datang.
"Makasi pak"
"ya neng"
Fani mengunyah siomaynya. "Mas yakin nggak mau? ini enak lho"
"mau kalo disuapin"
"pedes dek" tampak air mata di ujung matanya. Fani yang melihat ekspresi suaminya tertawa terbahak bahak. ia betul betul lupa kalau suaminya sama sekali nggak doyan pedes sedangkan tadi ia menaruh sambal rawit 4 sendok makan ke siomaynya
"yauda gih cepet diminum" Fani menyodorkan es teh yang dalam waktu sekejap habis "Maaf mas gue lupaa" Fani masih tertawa sedangkan Taufan hanya tersenyum kecut.
"Adek deket banget ya sama abang siomaynya tadi? kok bisa mantan bos adek?"
"dulu pas di Aliyah kalo pulang sekolah gue bantuin mang udin dulu jualan kan siomaynya enak jadi antrinya banyak. Nah makanya gue bantuin. awalnya sih iseng tapi lama lama dicariin kalo pas gue ga mbantuin. trus tiap seminggu sekali dikasi uang jajan sama mang udin katanya upah udah mbantuin mamang gitu"
Taufan ber oo ria. sebenarnya ia juga ingin menanyakan laki laki yang dimaksud mang udin tadi tapi ia urungkan. mungkin kapan kapan.
Suasana bangku taman itu hening. Fani sibuk menghabiskan siomaynya sedangkan Taufan menikmati pemandangan sekeliling.
"Mass..."
__ADS_1
"Ya dek?" Taufan menengok ke arah Fani
"Mas itu kerjaannya apa sih? Fani sampe ngga tau lho" Taufan yang mendengar tertawa.
"Mas nyewa 1 ruko dek buat percetakan yang mas rintis dari 5 tahun yang lalu"
"wow 5 tahun lalu gue baru lulus SMA mas. tapi kok mas jadi marbot di kantor? trus percetakannya? trus apa mas ngga pulang ke rumah?"
"kan ada temen temen mas yang bantuin di percetakan dek. jadi bisa mas tinggal tinggal. kapan kapan deh kita ke percetakan ya. kalo masalah pulang. mas jarang pulang dek. mas pengen mandiri ngrintis dari nol"
Fani hanya manggut manggut.
"Mas bukan orang kaya dek. tapi insya Allah mas pekerja keras. adek mau berjuang bareng sama mas ya" Fani mengangguk dengan senyum "Adek kira kira mau ikut mas mandiri nggak? apa mau tetep tinggal bareng abi?"
"Ya ngikut mas lah. mas kan suami Fani. jadi kemana mas pergi insya Allah fani akan slalu di samping mas" Taufan tersenyum. ia genggam erat tangan istrinya.
"Yuk mas pulang dah mau magrib nih" Fani yang terlalu grogi pun beranjak berdiri. mengembalikan gelas dan piring bekas serta membayar makanannya"
"Mass mass" Tanya Fani di perjalanan menuju parkiran
"iyaa dek" Taufan menengok
"Kalo gue masi mau tanya tanya banyak lagi boleh?"
"Ya boleh dong, Kan biar kita makin kenal. Tak kenal maka tak sayang. makanya kita kenalan dulu habis ini kita sayang sayangan"
"apa sih mas genit" Fani mencubit pinggang suaminya
"aww sakit dek"
__ADS_1