Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Kak Destin!


__ADS_3

"Habis ini jadwal kita kemana bang?" tanya Fani ke Boim. Bagaimanapun Boim adalah ketua tim. Jadi, pendapatnya sangat dibutuhkan demi lancarnya agenda.


"Pulang ke basecamp. Laper gue. Loe bisa masak kan Raf?" Fani membalas dengan anggukan.


"Yaudah, mampir warung dulu kita belanja habis itu gue masakin," Fani langsung beranjak dari tempatnya duduk meleseh. "kalian mau makan apa?"


"Terserah, yang penting halal bisa dimakan," Boim yang kembali menjawab. Taufan sendiri dari tadi memilih diam. Taufan mendedikasikan diri sebagai tim manut sama istri.


"Oke deh. Liat ntar di sana ada apa aja."


Mereka bertiga jalan beriringan menuju warung sayur yang berada di ujung gang.


Fani mengambil sekilo ayam potong, beberapa bumbu dapur dan dua bungkus sop-sopan, tidak lupa cabe rawit untuk membuat sambal nanti. Fani akan memasak simpel saja.


Setelah selesai membayar, ia menghampiri Boim dan Taufan. Mereka berdua memilih menunggu di pinggir jalan. Biar tidak mengganggu konsentrasi belanja.


Butuh waktu empat puluh lima menit untuk Fani menyiapkan makan siang mereka. Sebentar lagi waktu dzuhur, Boim dan Taufan sudah lebih dulu pergi ke masjid. Fani sendiri memilih untuk membersihkan diri karena badannya sudah bau bawang.

__ADS_1


Basecamp yang disediakan pak RT benar-benar luas menurut Fani. Lama-lama sendirian di basecamp pun Fani merasa ngeri sendiri. Padahal hari masih siang. Selepas mandi ia memilih menunggu Taufan dan Boim sambil menyapu halaman.


"Ya Allah neng, kenapa nyapu siang-siang?" Seorang bapak-bapak lewat sambil menyapa. Basa-basi lebih tepatnya.


"Iya pak, daripada gabut nggak ada kerjaan, sambil nunggu temen-temen pulang dari masjid," Fani menjawabnya ramah.


"Owalah, yaudah neng. Mari,"


"Monggo pak."


"Akhirnya yang ditunggu dateng juga," Fani langsung menaruh sapunya. Ia menggandeng Taufan untuk masuk ke dalam kamar.


"Woi, masih siang woi! Bisa kali, nunggu ntar malem kebelet ke kamarnya!" Sarkas Boim.


"Kenapa dek?" Tanya Taufan lembut, ia sendiri bingung ketika tanganya tiba-tiba ditarik sang istri.


"Aku takut sendirian di basecamp, jadi belum sholat. Temenin di kamar ya nunggu aku sholat,". Fani mebgutarakan alasannya yang dibalas anggukan serta senyum oleh Taufan.

__ADS_1


"Dasar, gaya sekurity hati hello kitty loe Raf!" Boim memilih melipir ke dapur. Aroma harum masakan sudah tercium sejak ia masuk ke dalam basecamp tadi.


Boim menyiapkan semua hasil karya Fani ke ruang tamu. Segala ubo rampe makan siang sudah ia sediakan. Fani dan Taufan belum keluar dari kamar. Ah, menyesal dia gegayaan nyusul mereka berdua. Sekarang dia harus ikhlas jadi korban kacang mahal.


"Pan, gue makan dulu ya, keburu laper," Boim berteriak dari ruang tamu. Tak menunggu lama ia langsung mengambil nasi beserta lauk pauknya. Taufan dan Fani pun menyusul untuk makan siang.


"Beuuh, enak ternyata Raf masakan loe. Bisa jadi bapak-bapak prenagen nih ntar si Topan," Boim memuji sambil terus menyuap nasi ayam ke dalam mulutnya.


"Anaknya pak Muhajir gitu loh, harus pinter masak dong," Fani menyombongkan diri. Memang anak-anak bapaknya harus bisa masak biar bisa bantu-bantu di warung.


"Udah, makan dulu dek, berantemnya nanti lagi" Taufan selalu menengahi.


Mereka makan dalam hening, menikmati setiap suap makanan enak yang dibuat Fani


"Assalamualaikum," Suara seorang gadis yang familiar di telinga mereka bertiga datang dari pintu utama.


"Kak Destin!"

__ADS_1


__ADS_2