Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Tak kenal maka Tak sayang


__ADS_3

"Adek laper nggak?" Tanya Taufan sambil fokus menyetir motor.


"Haa? Apaa? Ngga denger mas" Fani berteriak di belakang. Jilbab fani sudah mobat mabit terkena angin karena tidak memakai helm. Padahal motor Taufan berjalan dengan pelan karena melewati jalan kampung


Taufan pun menengok ke belakang sebentar sambil membuka kaca helm mengulangi pertanyaannya "Adek laper nggak? Mampir makan yuk"


"ooh, boleh yuk" Sambil mendekatkan kepalanya ke pundak Taufan.


"Mau makan di mana?" Taufan kembali menengok sebentar


"Terserah mas aja yang penting ada sambelnya"


Selang beberapa menit Taufan memasuki parkiran warung makan lesehan serba sambal dengan klaim 27 macam sambal dan puluhan lauk


"Di sini aja ya dek"


"iyaa aku suka kesini juga kok"


merekapun memasuki warung makan tersebut


"buat berapa orang kak?" tanya waiters


"2 orang aja kak " Kata taufan


"Baik monggo bisa memilih tempat sana kak, ini menunya" Waiters menunjukan tempat dengan meja kecil yang cukup untuk 2 orang


"baik kak terima kasih" Taufan menuju meja dekat jendela sedangkan Fani mengekor di belakangnya


"Mas Taufan mesen apa?" Tanya Fani setelah memilih milih menu.


"Apa aja boleh"


"jangan apa aja, di sini ngga ada menu namanya apa aja, adanya ayam, cumi, telur, lele, tempe, ca kangkung, karedok"


"sama kayak kamu aja, tapi nggak usah pake sambel"


"ok, kenapa nggak pake sambel? nggak nikmat tauk"


"aku nggak doyan pedes dek" Taufan nyengir menunjukkan giginya

__ADS_1


"ooo ..." Fani hanya ber oo ria. Ia pun memanggil waiters. setelah pesanan dicocokan dan waiters pergi mereka saling terdiam.


"Mas?" Fani memecah keheningan


"iya dek?"


"Mas koi bisa tau nomer Fani?"


"Kan ada di buku data relawan dek"


"oh iya" mereka pun saling diam lagi. "Mas?" Fani memanggil lagi.


"iya dek?"


"Tadi siang kenapa manggil aku di chat raf raf raf"


"Lha adek sukanya dipanggil apa?"


"Ya terserah sih manggil aku apa aku ngikut aja, tapi biasanya yang manggil Rafa itu temen temen sekolah ma kuliah aku. Coba tadi manggilnya Fan ato dek gitu kan langsung aku bales"


Taufan terkikik mendengar jawaban Fani. "Lagian kenapa kamu punya 2 panggilan sih dek?"


"asbabun nuzul? kayak turun ayat dong" Taufan kembali terkikik


"Ya semacem itulah"


"emang gimana asbabun nuzulnya?" Taufan meletakkan Hp yang tadi dimainkannya dan fokus menatap Fani


"Ya dulu kan aku dah tomboi dari kecil. rambut cepak kayak laki. trus pas SMP aku berjilbab karena aku udah haid dari libur kelulusan. Nah, pas hari pertama masuk SMP itu, temen aku SD namanya si lukman 1 kelas sama aku di SMP. trus tiba tiba dia narik jilbab aku katanya ciyee preman taubat sekarang pake krudung. Aku marah lah rambut aku keliatan langsung aku tonjok tu mukanya. eh dia nggak terima mau mukul balik aku tapi langsunh aku tangkep trus aku piting tangannya sampe dia nangis kesakitan trus minta maaf ke aku. truss pas perkenalan aku ngenalin diri sebagai Fani malah pada nyorakkin katanya nggak pantes trus pada manggil rafa deh. Nah salah satu temen SMP ku ya si Ni'mah itu. jadilah sampe kuliah temen temen pada manggil Rafa ya gara gara dindoktrin si Ni'mah marmut itu" Fani bercerita panjang lebar. sedangkan mulut suaminya sudah menganga heran


"Loe beneran mukul sama miting cowok?"


"iya, nggak cuma sekali itu sih, pas SMA pernah juga sekali pas tawuran sama SMA sebelah gara gara cowok rese yang ngrebutin Ni'mah pas kuliah pernah juga sekali gara gara ada temen cowok yang tiba tiba mau ngrangkul gue iih"


Taufan semakin menganga. Ia tidak berani membayangkan kalau mendadak meluk istrinya. Takut kena piting. "Loe bener cewek kan dek?"


"Loe ragu? ya cewek tulen lah" Fani sedikit menaikkan nada bicaranya sambil melotot ke arah Taufan


"Mana buktinya kalo cewek"

__ADS_1


"Lha ini gue berjilbab. Kalo gue cowok ya gue ngga berjilbab tapi sarungan bambaaang"


"Gue cowok tapi pake celana ngga pake sarung" Taufan pun tertawa terbahak bahak. Makanan yang di pesan kini sudah tiba di meja mereka. mereka melanjutkan obrolan ringan sambil makan.


"Mas sendiri juga punya 2 panggilan. Taufan sama Topan"


"itu satu keles"


"mana ada?"


"iya topan itu aslinya ya taufan trus orang ngomong 3 suku kata kelamaan trus jadi tofan trus bilang huruf ef lidahnya kepleset jadi pe. yaudah jadi topan"


"iih maksa banget" Fani tertawa "Trus kenapa di kantor pada manggil bang? padahal ke gue ngebahasain Mas"


"sayang, Mas itu menurutku panggilan yang romantis. Jadi yang boleh manggil pake mas ya cuma orang orang spesial aja kayak kamu istri mas. Kalo buat temen temen emang sengaja aku suruh manggil abang. lagian abang kan lebih maskulin daripada dipanggil kak" Taufan menjelaskan panjang lebar setelah itu ia menyuap makanannya


"Apasih pake sayang sayang" Pipi Fani bersemu merah. Taufan hanya tersenyum melihat tingkah salting Fani.


Selang beberapa waktu makanan di meja mereka sudah habis. Fani menumpuk piring dan lepek lepek di singkirkan ke pinggir meja kemudian mengelap meja dengan tisu.


"kan ada mbaknya yang nanti mbersihin meja dek" Taufan heran dengan perilaku Fani


"Mas, Fani di rumah juga ada warung makan jadi Fani tau capeknya mbak mbak yang kerja di sini. dan yang Fani lakuin ini cuma bantuan kecil buat meringankan pekerjaan mereka. mereka juga pasti bakal seneng kan. membahagiakan hati orang lain itu berpahala" Taufan mengacungkan 2 jempolnya sambil tersenyum manis mendengarkan jawaban istrinya "apasih mas lebai deh"


"dek, jalan jalan ke taman bentar yuk, baru nanti pulang"


"emang mas nggak capek apa? bentar lagi maghrib mas"


"ya bentar aja kan aku mau perkenalan sama kamu pengen ngobrol ngobrol"


"emang belum kenal gue mas?"


"ya belum lah, tak kenal maka ta'aruf dek. nah ini ta'arufnya after nikah biar bisa sambil gandengan"


"apasih mas.."


"adek udah mau sehari jadi istri mas tapi mas belum pegangan sama adek cuma pas kita saliman habis akad tadi aja lhoo, kan mas juga pengen gandeng tangan adek"


"yaudah sini" Fani menengadahkan tangannya untuk di gandeng Taufan. mereka beranjak menuju parkiran setelah membayar makanan mereka. Hati fani menghangat. pipinya terus bersemu merah karena baru sekali ini dia bergandengan dengan lawan jenis selain abi dan adik adiknya.

__ADS_1


__ADS_2