
Fani bersiap berangkat ke SMA daruul 'ilmi. pakaian fani rapi dengan rok hitam, kemeja putih panjang menutup pantat dan jilbab non instan dengan bros bunga kecil. bismillah. . .batin fani. ia pun memasukkan amplop lamarannya ke dalam tas.
"abii, fani brangkat dulu ya" fani menyalami tangan abi dan tak lupa mengecup punggung tangannya. "abi, nanti fani njaga warungnya agak telat ya, fani mau ke kantor yayasan dulu ngurus proposal"
"iya, ngga usah dipaksain. hati hati ya nduk di jalan" abi mengusap kepala fani pelan.
***
Sesampai di SMA daarul 'ilmi, fani memarkirkan motornya. kemudian mendatangi pos satpam
"pak, assalamu'alaikum"
"wa'alaikumussalam, ya mbak, ada yang bisa dibantu?"
"iya pak, saya mau masukin lamaran buat jadi guru agama di sini, katanya ada lowongan"
"oh iya mbak, tapi bisanya di tinggal mbak, soalnya hari sabtu gini libur cuma ada siswa ekskul" jelas pak satpam
"oh iya pak, nggak papa, saya titip ke bapak ya"
"iya mbak, bisa"
"kalau gitu saya langsung pamit ya pak, assalamu'alaikum"
"wa'alaikumussalam"
Fani pun meninggalkan SMA daarul ilmi. ia pun memutuskan ke kos ni'mah untuk berganti pakaian karena fani kurang nyaman dengan pakaian yang agak membentuk lekuk tubuh seperti yang ia pakai sekarang.
Fani memang meninggalkan beberapa baju di kamar ni'mah. tidak hanya baju, ia juga meninggalkan sepatu, alat mandi, dan beberapa perlengkapan lainnya karena memang dia sering menginap di kos ni'mah.
kos ni'mah tampak sepi, hanya terdengar cekikikan seseorang yang fani tau siapa itu
__ADS_1
"ni'maah ...." fani berteriak sambil membuka pintu kasar. ni'mah pun seketika menoleh ke arah pintu. kaget.
"apaan si loe raf. dateng tu salam, ketok pintu, gak teriak teriak kayak gitu" ni'mah menggerutu
"assalamualaikum ni'mah" fani merebahkan di kasur ni'mah tanpa disuruh
"waalaikumussalam" jawab ni'mah sedikit kesal. "dari mana loe? rapi amat?"
"gue habis nglamar kerjaan di darul ilmi"
"loe serius mau ngajar?"
"nggatau, dijalanin aja ntar gimana"
"trus loe ngapain kesini? ngganggu gue ndrakor aja loe" Ni'mah kembali melanjutkan nonton drakor yang mendadak ke pause tadi.
"gue mau ganti baju, mau ke kantor yayasan. loe mau ke rumah gue jam brapa? kalo gue belum pulang tunggu di kamar aja. gue dah bilang abi tadi kalo loe mau dateng"
"nggatau jam brapa, gue mau ngedate dulu. paling loe dah di rumah pas gue dateng"
"iyaaaa" ni'mah menjawab dengan malas. matanya fokus membaca subtitel drakor.
Fani pun mengganti pakaiannya dengan celana gunung kombor, kaos oblong pendek dan di dobel dengan sweater oversize warna putih. jilbabnya pun sudah berganti dengan jilbab bergo hitam yang menutup dada
"gak kepanasan loe raf?" ni'mah heran
"ngga, gue suka, hangat, kayak kasih sayang orang tua pada anaknya. dah ah pamit dulu ya mah"
"serah" Ni'mah tetap fokus dengan subtitle drama koreanya.
Fani mengeluarkan sandal ban favoritnya dari dalam jok motor. ia memang selalu membawa sandal itu kemana mana karena hanya sandal itu yang membuatnya nyaman.
__ADS_1
sesampai di kantor yayasan fani langsung masuk ke ruang humas. ia di tunggu destin temannya sesama relawan. mereka seangkatan hanya beda kampus. namun sikap destin terlihat lebih dewasa dari fani.
"assalamualaikum kak des, dah lama?"
"engga, baru aja" destin tersenyum kemudian bersalaman dan cipika cipiki.
Fani menjadi staf humas di yayasan sedangkan destin sekretaris umum. mereka pun langsung sibuk membuka laptop, mengecek berkas berkas yang dibutuhkan untuk penyusunan proposal sambil berdiskusi .
tluutut ... tluutut ... suara dari hp destin. destin pun mematikan kemudian lanjut mengerjakan proposal mereka.
"looh, ngga di angkat aja kak?" tanya Fani
"cuma alarm les privat kok fan, 10 menit lagi aku ijin ya, ba'da dzuhur aku ada jadwal ngajar les privat"
"iya ngga papa kak, ini juga tinggal dikit kok"
setelah 10menit, destin berpamitan dengan fani
"nanti kalau sudah selesai print kamu minta stempel sama mas yang jaga piket ya, ngga papa? atau kalau ngga tinggal aja di sini biar aku yang mintain besok" Destin meminta tolong tak enak hati karena meminta stempel itu sebenarnya tugas destin sebagai sekretaris. Pun dengan pembuatan proposal sebenarnya juga tugas destin, hanya saja fani selalu membantunya karena menurut fani, ia harus tahu apa saja isi proposal biar pas di edarkan ia bisa menjawab setiap pertanyaan calon donatur.
"iya kak destin santai aja, aku aja ngga papa. biar proposalnya bisa langsung edar besok" jawab fani santai.
destin pun pergi meninggalkan fani, sedangkan fani melanjutkan menyelesaikan proposalnya yang tinggal 1 bab lagi. setelah selesai ia tidak langsung beranjak. ia regangkan dulu otot ototnya yang kaku kemudian berpindah ke sofa di pojok ruangan. merogoh hp di dalam tas dan memainkannya sekedar membuka sosmed dan aplikasi lain. ah, damar tumben ga gangguin aku. fani membatin, karena sejak ia menjawab pernyataan cinta damar, sampai sekarang tidak ada chat masuk dari damar. padahal biasanya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi damar selalu menemaninya lewat chat.
mata fani mengerjap ngerjap. ia tak sadar ketiduran di sofa. tangannya memijat mijat lehernya yang kaku
"masya allah udah jam setengah 3". fani terbelalak melihat jam di hpnya. ia segera masuk ke kamar mandi di dalam ruang humas kemudian sholat dzuhur masi di ruang humas. fani memang selalu betah berada di ruang kerjanya itu seolah olah rumah sendiri. selesai sholat ia merapikan berkas berkas proposal yang sudah ia print, merapikan meja kemudian keluar ruangan tak lupa menggendong tas nya karena ia berniat sekalian pulang.
"bang minta stempel buat ini ya" fani menyerahkan proposalnya ke seseorang di meja piket. ia merasa bersyukur karena ada orang. biasanya jadwal petugas piket hanya jam 8 pagi sampai jam 1 siang dan shift sore jam 4 sore sampai 9 malam.
"dek fani..."
__ADS_1
fani pun mendongakan pandangannya karena dari tadi ia fokus melihat proposal tanpa melihat siapa yang ada di situ. fani berpikir sejenak menatap orang di hadapannya.
"mas taufan?" fani bertanya ragu. ia takut kalau salah orang tapi wajahnya sama dengan foto yang berada di cv kemarin. orang dihadapannya mengangguk. pipi keduanya bersemu merah. malu.