Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
CV (bagian 2)


__ADS_3

Fani masi menatap amplop di pangkuannya. ia mencoba membuka nya pelan pelan. hatinya berdesir. antara ya atau tidak membukanya. tangannya tidak sanggup membuka. ia taruh amplop itu di atas meja belajar. ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang. pandangannya nanar menatap langit langit kamar.


Baru saja tadi siang dia menolak perasaan teman lelakinya, malam ini dia disuguhkan biodata orang yang tidak dikenalnya.


kata abi, dia temenku relawan? tapi siapa? kalau temen relawan, sudah pasti itu bukan damar karena damar tidak ikut berkecimpung di yayasan sosial itu. Fani bergelut dengan pikirannya sendiri. ia kembali duduk. ia tatap lagi amplop itu. ah, tangannya masih belum sanggup membuka. Fani bangkit dari duduknya, melepas jilbab, dan bersiap mengambil air wudhu untuk sholat isya yang belum sempat ia kerjakan. bahkan setelah shalat ini dzikir dan doanya lebih panjang dari biasanya. ya, Fani memohon kemantapan hati.


Fani masih terbalut mukena, sekarang ia duduk di kursi belajarnya. tangannya pelan pelan membuka amplop di atas meja belajar. sebuah biodata dilengkapi 2 buah foto full body dan setengah badan. ditatapnya lekat foto itu. ia merasa familiar dengan wajah dalam foto itu, tapi siapa namanya ia tak tahu. fani membaca biodatanya. Ahmad Taufan Muqorobin. lahir 2 tahun sebelum fani dengan tanggal yang sama namun beda bulan. Fani terus membaca biodatanya. hal yang disukai, yang tidak disukai, pekerjaan, bahkan pendapatan perbulan pun dicantumkan. kepala fani berdenyut. ia pijat pelan kedua pelipisnya sambil memejamkan mata.


Aku harus bagaimana Rabbii. Fani merasa gundah. Jam sudah menunjuk ke angka 12, dan fani masih terjaga. ia merasa aktifitasnya 2 hari ini terlalu menguras otak dan tenaganya. ia baca kembali untuk ke sekian kalinya biodata di hadapannya itu. ia pandang lekat lekat foto setengah badan Taufan. apa kita akan berjodoh? entahlah. Fani beranjak dari kursi belajarnya, melepas mukena dan merebahkan dirinya di atas ranjang berusaha memejamkan matanya.


***

__ADS_1


Fani terlambat bangun pagi, dia baru melaksanakan sholat shubuh jam setengah enam. ia merutuk dirinya sendiri bisa bisanya bangun kesiangan. pokoknya ntar malem ngga boleh begadang lagi. tekadnya dalam hati.


selepas sholat fani beranjak ke dapur membantu abi dan mak e menyiapkan keperluan warung. hari ini fani tidak ada jadwal khusus karena akhir pekan biasanya ia berada di rumah membantu orang tuanya.


"Abi, fani lupa minta izin, nanti malem ni'mah mau nginep di sini boleh nggak bi?"


"looh, ya boleh dong. kamarmu tu dibersihin fan, kamar cewek kok kayak kamar cowok barang barang berserakan, kasian nduk ni'mah nanti mau ditaruh mana?"


"jangan gitu fan, biar gimanapun kan kalian sahabatan"


"lho justru kalo sahabatan gitu bi. orang fani kalo jatoh dia ketawa dulu baru nolongin fani kok."

__ADS_1


"kamu pernah jatuh fan? kapan? dimana? sakit nggak? kok ndak bilang bilang sama abi?" abi mencoba menscanning mencari bagian tubuh fani mana yang sakit.


"engga bi, engga jatuh yang kayak gitu" fani gemes sendiri "fani ngabarin ni'mah dulu ya bi, biar tau dia ke sini jam berapa."


"iyaaaa" abi fani tersenyum. "kamu hari ini mau kmana aja fan?"


"ngga kemana mana bi, tapi nanti kalau jadi mau ke SMA daarul ilmi"


"ada acara apa fan?"


"masukin lamaran pekerjaan abi, kemarin dosen fani ngasih info katanya situ butuh guru. trus menurut dosen fani, skripsi fani cocok diterapin disitu"

__ADS_1


Abi fani hanya membulatkan mulutnya ooo ...


__ADS_2