Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Lepas jilbab


__ADS_3

Fani menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan dia bawa ke Desa Polan. Desa tersebut berada di bawah kaki gunung berapi. dengan beberapa mata air yang masih murni, desa polan berpotensi menjadi desa wisata. Tapi sayang, setelah terkena guguran larva gunung berapi beberapa tahun lalu, perekonomian dan pendidikan di desa polan harus kembali dirintis dari awal. pemuda pemuda di desa polan tergolong sedikit. mayoritas anak muda di sana merantau ke kota sekedar untuk mencari pekerjaan yang layak atau bahkan untuk sekolah dengan kualitas lebih baik. apalagi mereka yang merantau memiliki modal banyak. Jadi, pemuda yang masih tinggal di desa polan hanya anak anak belum beruntung, sehingga yayasan sosial tempat fani berniat memberikan bantuan materi, pengecekan kesehatan dan pendidikan life skill selama seminggu.


Fani sudah selesai packing. Suaminya masih berada di bawah memberikan instruksi ke anak buahnya karena selama 10 hari akan di tinggal ke desa polan. 15 menit kemudian ia naik ke lantai atas bertepatan dengan Fani yang selesai membuatkan teh untuk dirinya.


"di minum dulu mas" Fani menyuguhkan teh di meja. Taufan mengangguk sambil tersenyum.


"mas, aku dah siapin keperluannya mas, kalau mas besok lusa mau berangkat. aku nanti mau ke kampus ambil toga, terus ke rumah abi bentar terus cuss berangkat ke polan ya mas" Fani nerocos menjelaskan rencana yang sudah dia susun dengan apik.


"kamu ke polan naik motor sendiri?" tanya Taufan


"iya mas. soalnya sampai sekarang bang boim belum ngabarin anak perkapnya dapet engga. kalo dapet cewek kan bisa boncengan sekalian gantian"


"kalo dapet cowok?"


"ya berangkat sendiri sendiri lah"


"kalo anak perkapnya aku?"


"lah, anak perkapnya mas?" Taufan hanya mengangguk sambil terkikik melihat ekspresi kaget istrinya.


"kenapa ngga bilang dari kemaren sih mas? tapi tetep lah ngga bisa boncengan. ntar apa kata temen temen besok. baru ngliatin mas pas nyuguhin snack rapat aja rini nyletuk. bukan muhrim fan, nanti bisa bikin penyakit hati" kata Fani sambil memenye menyekan bibirnya menirukan perkataan temannya.


Taufan semakin tertawa. "ooh, jadi selama ini ada yang sering curi curi pandang"


Fani kikuk sendiri "ya nggak gitu maksudnya .. kaan.."

__ADS_1


ucapan fani terpotong. "udah... tinggal bilang kalau sebenernya kita udah nikah kan gampang"


fani menepuk punggung suaminya. "ga gampang lah maaas... kita juga belum tasyakuran nikah, aku juga belum siap di ceng cengin temen temen"


"emang ada yang brani ceng cengin preman kayak kamu?"


"maaas....." Fani memanggil suaminya manja sambil menepuk punggungnya lagi


"ya Allah, premannya mendadak manja ya allah" Taufan menghindar ketika Fani berusaha menepuk punggungnya untuk ke sekian kalinya.


"maaaas, biarpun penampilan fani kayak gini, fani kan tetep ceweeek, malu lah kalo di cengcengin. emang mas nggak malu apa" akhirnya fani menyerah dan menyandarkan badannya di kepala dipan.


"kalo dicengcenginnya sama kamu, mas nggak malu" kata Taufan lembut.


"Dek," Fani pun menatap Taufan. kemudian mengalihkan pandangannya karena mata mereka bertemu. entah, setiap mata mereka bertemu, fani merasa kikuk. jantung fani selalu memompa lebih cepat jika sudah bertatapan dengan taufan. padahal taufan adalah suaminya sendiri


"hmmm.." fani menyauti singkat.


"dek, kamu sampai kapan mau pakai jilbab terus di depan mas?" tanya Taufan. memang sampai sekarang ia belum pernah melihat Fani melepas jilbabnya. jika tidur pun biasanya fani masih memakai pakaian serba panjang dan tak lupa jilbabnya.


"disini kan banyak cowok mas" kata fani mencari alasan. tangannya masih di pegang taufan. bahkan pegangan itu sudah berubah menjadi saling genggam.


"kan di kamar udah ngga ada orang selain mas" Fani hanya diam mendengarkan suaminya


"Fani, tau nggak.." kata Taufan menggantung, Fani hanya menggeleng karena memang nggatau apa yang akan dibicarakan suaminya

__ADS_1


"sehelai rambut yang kamu tunjukkan pada suamimu bisa jadi pahala lho buat kamu" kata Taufan sambil mengelus tangan istrinya


Fani hanya diam. Ah, apa ini sudah waktunya ia harus melepas jilbabnya?


"mas buka ya, jilbabnya?" Taufan menatap istrinya lekat memastikan jawaban yang akan istrinya berikan.


Fani hanya mengangguk Taufan pun tersenyum. tangan kanannya bergerak ke arah ujung pet jilbab Fani ia tarik pelan sampai jilbab istrinya terlepas sempurna.


Tampak rambut fani yang di gelung, poninya naik ke atas dan sedikit berantakan karena jilbabnya di lepas. Fani pun merapikan poninya sambil menunduk malu.


"cantik" Taufan nyeplos tanpa sadar. Fani yang mendengarnya malu sampai pipi pipinya terlihat memerah.


tangan Taufan tak berhenti di situ. ia melepas gelungan rambut fani, nampaklah rambut sepinggang terurai dengan poni tipis yang menutupi jidat. Sungguh kecantikan yang fani sembunyikan selama ini membuat Taufan terpesona.


Taufan pun tanpa sadar memeluk istrinya. menenggelamkan wajahnya ke leher fani. menghirup dalam dalam aroma rambut fani. Harum. Fani yang tidak siap hanya tetap diam menahan geli yang menyerang lehernya


"kamu kalau di kamar mulai sekarang nggak usah pakai jilbab ya. aku seneng bisa jadi satu satunya lelaki yang bisa melihat kecantikanmu sepuasnya" kata taufan masih berada di dalam pelukan yang ia ciptakan.


Fani hanya mengangguk. sungguh nafas Taufan yang berhembus setiap bicara membuat Fani gagal fokus. ia tidak mendengar apa yang suaminya ucapkan.


Taufan mengecup leher fani sambil menyudahi pelukannya. bibirnya menampakan senyum kebahagiaan.


"yuk berangkat, aku anter ke kampus, ke tempat abi, dan ke polan" Fani kembali mengangguk. kikuk.


ia merapikan kembali gelungan rambutnya dan menutupinya dengan jilbab bergo instan kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2