
Rencana taufan dan Fani untuk berangkat ke desa polan siang hari harus di tunda karena kesibukan agenda Fani.
Ba'da maghrib mereka bertolak ke desa polan setelah pulang ke rumah untuk mengambil keperluan mereka selama di desa polan dan menyerahkan pekerjaan percetakan pada catur dan kawan kawan.
"emang nggak papa mas mereka ditinggal lama?" tanya fani karena mereka hampir dua minggu meninggalkan pekerjaan mereka masing masing.
"udah, tenang aja. mereka udah biasa mas tinggal kok. mas kan juga sering ikut baksos. kamu aja yang nggak tau" Taufan mencolek ujung hidung Fani.
"oh iya ding ya. lupa" Fani menundukkan pandangannya sambil mengepak baju. menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. Fani menjadikan 1 keperluan mereka atas perintah Taufan tadi.
"sudah, di jadikan satu aja dek. malah simpel kan bawanya" Kata taufan saat mereka on the way menuju rumah ruko.
"tapi bukannya nanti kita di sana pisah mas?"
"ya nggak papa, nanti aku kalau butuh tinggal minta kamu"
"ntar anak-anak (temen temen relawan yasos) curiga mas?"
"lah, curiga kenapa?"
"curiga kalau kita ada apa apa?"
"kan emang kita ada apa apa dek"
"mmm...." fani terlihat berfikir.
"dek, namanya pernikahan itu jangan di tutup tutupi malah harusnya diumumkan biar nggak jadi fitnah" Taufan mengingatkan.
"iya mas ..."
Akhirnya, Fani merombak packingannya dan menjadikan satu pakaian mereka dalam sebuah carrier.
"wah, brasa mau naik gunung mas"
"kapan kapan yuk dek kita muncak"
"boleh banget, dah lama ga naik"
mereka pun berangkat ke desa polan setelah menyerahkan kunci kepada catur sebagai penanggung jawab selama mereka tinggal.
hampir 2 jam perjalanan yang mereka tempuh dengan kecepatan sedang.
"untung kamu berangkatnya bareng aku dek, coba kalo sendiri. mana tega aku" kata taufan setelah mereka sampai di rumah pak RT di desa polan
"biasanya juga sendiri tau mas, tenang, aku nggak semenye menye yang mas kira kok" jawab fani sambil menepuk pundak suaminya
__ADS_1
"iya percaya, istri mas ini tangguh banget, limited edition pokoknya" kata taufan sambil mengacungkan dua jempolnya
"bukan maksud aku sombong lho ya" Fani mengibas kibaskan telapak tangannya
taufan pun hanya terkikik. mereka sedang menunggu pak RT pulang dari pengajian di masjid kampung
"tunggu dulu ya mas, mbak...biar bapak dipanggilkan di masjid dulu" kata bu rt tadi sambil mempersilahkan mereka berdua masuk ke ruang tamu.
10 menit mereka menunggu sang empunya rumah datang.
"maaf ya mbak, mas udah nunggul lama. masjidnya agak jauh" Kata pak yanto sang ketua RT sambil mendudukan tubuhnya di sofa.
"iya pak nggak papa, kami yang mohon maaf karena datang kesini terlalu larut, kebetulan tadi menyelesaikan urusan di sana dulu" Taufan mengambil alih pembicaraan.
"iya nggak papa mas, oh ya, baksosnya diadakannya dua hari lagi kan? trus ada keperluan apa ini sampai repot repot kesini malam malam, siapa tau ada yang bisa di bantu"
"iya pak mohon maaf sebelumnya, persiapannya seperti mendadak karena harusnya udah dari seminggu lalu teman kami datang ke sini untuk menembusi sama mempersiapkan tempat tempatnya. jadi nanti kalau tidak memungkinkan baksos dimulai lusa ya terpaksa harus diundur sehari dengan merombak rundown acara pak. yang sudah pasti akan kami laksanakan sesuai jadwal sedangkan yang belum pasti akan kami sesuaikan waktunya" sekarang Fani yang angkat bicara
pak RT tampak manggut manggut mengerti
"sekarang apa yang bisa bapak bantu nduk?" pak RT merubah panggilannya pada fani dari mbak jadi nduk melihat fani yang nampak seumuran anaknya.
"yang pertama untuk tempat basecamp kami pak, untuk putra bisa tidur di masjid, tapi kami tetap membutuhkan basecamp untuk briefing, dan tempat istirahat putri. oh ya, mohon maaf sebelumnya juga. untuk malam ini kira kira kami tidur dimana ya pak? kami akan mulai menginap untuk mempersiapkan acara"
"saya Taufan pak saya ditugaskan sebagai tim perkap, dan ini disamping saya Rafani kebetulan ditugaskan sebagai istri saya yang merangkap jadi tim humas pak" Taufan agak terkekeh. fani pun menepuk paha suaminya
"owalaah, suami istri to. pantesan, perwakilan yayasan biasanya yang kesini kalau nggak cewek semua ya cowok semua, kok tumben ini cowok cewek cuma berdua" Pak yanto ikut terkekeh.
Fani hanya diam sambil tersenyum kecut.
"nanti bisa ke rumah ibu saya, tapi harus di bersihkan dulu karena udah kosong beberapa bulan. insya allah buat putra putri muat tapi yang putra tidurnya di ruang depan. kalo yang putri bisa tidur di kamar, kebetulan di sana ada 4 kamar. kira kira nanti ada berapa relawannya mas? kita perlu menyiapkan konsumsi juga ngga?"
"Insya Allah nanti ada sekitar 10 sampai 20 relawan pak belum termasuk tim kesehatan yang akan datang di hari kedua baksos" Fani kembali angkat bicara.
pak Yanto kembali manggut manggut. "yasudah sekarang kita ke rumah ibu saya sekalian aja ya nduk, mas. berarti saya nggak perlu kuatir ninggalin kalian berdua ya ini" kata pak yanto tampak menggoda
"bener pak, kalau nggak percaya saya bawa surat nikah buat jaga jaga" kata taufan hampir membuka tas nya setelah melihat pak Yanto tertawa.
"hahahaha ...saya percaya kok mas, yasudah mari kita jalan. kasian kalian pasti capek perjalanan kesini"
"ya pak terima kasih" Taufan dan Fani serempak.
"oh ya pak, saya besok mau mengumpulkan karang taruna yang ada di sini untuk saya ajak briefing" kata Fani saat mereka jalan ke arah rumah yang akan di jadikan basecamp.
Pak RT memilih jalan kaki karena rumahnya dekat, akhirnya Fani memilih untuk menemani pak RT jalan kaki sedangkan taufan menaiki motornya pelan pelan dan memilih mengekor di belakang.
__ADS_1
setelah melewati 2 gang dan berbelok melewati lima petak sawah akhirnya mereka sampai di rumah ibunya pak RT. halamannya luas. dengan di hiasi tanaman tanaman hias yang berjajar rapi di balik pagar. tanahnya di tutupi dengan rumput jepang.
Bangunannya seperti bangunan lama yang di renovasi. pintu depannya masih berupa gebyok memanjang meskipun dinding dindingnya sudah berupa tembok.
Pak RT membuka pintu kemudian menyalakan lampu lampunya. tampak ruangan di dalam berbentuk letter U sedangkan tengah nya merupakan ruangan loss tanpa pembatas. mungkin ini yang dimaksud pak RT ruang tamu karena ada beberapa kursi kayu di tengah ruangan.
"maaf ya seadanya tempatnya begini" kata pak rt merendah.
"pintu pintu itu kamar tidur. di dalem ada kasur kasurnya, dapur juga ada, tapi maaf nggak ada kulkas. udah tak angkat kerumah" pak RT menjelaskan sambil terkekeh.
"nggak papa pak, terima kasih ini sudah lebih dari cukup" kata Taufan
"sama sama mas, kami yang terima kasih karena yayasan kalian mau membantu desa kami. mau di carikan temen buat bersih bersih nggak mas?" tanya pak RT lagi.
"nggak usah pak, insya allah kami sanggup membersihkannya berdua"
"yasudah, saya pamit dulu ya. kalau ada apa apa bisa langsung hubungi saya" kata pak RT.
"saya anter ya pak" tawar taufan
"nggak usah, deket ini masih 1 RT. kayak yang mau jalan berkilo kilo aja" Fani tercengang. menurutnya jalan tadi sudah lumayan jauh menurut ukurannya. apalagi harus melewati 5 petak sawah yang hanya di terangi 2 lampu merkuri.
"hati hati di jalan ya pak" kata Taufan sambil menyalami pak RT di luar.
"iya, kalian juga selamat beristirahat" kata pak RT sambil berlalu.
Setelah kepergian pak RT, taufan memasukkan motornya ke dalam. Fani sendiri sibuk menyapu ruang tengah.
"mas bantu ya dek" Fani hanya mengangguk. akhirnya, fani mendapat tugas menyapu sedangkan taufan mengepel dan mengelap perabot.
dua jam mereka akhirnya selesai dengan acara bersih bersih seluruh rumah. sekarang jam sudah menunjuk ke angka setengah dua belas.
"kesalahan nih tadi. aturan kita beresin satu kamar aja lainnya diberesin besok dek" kata taufan sambil menggeletakkan tubuhnya di lantai ruang tengah. kursi kursi tamu sudah mereka pindahkan ke pinggir karena di sini rencananya akan di gelar karpet untuk tidur relawan putra. dingin keramik membantu menetralkan badannya yang sedang memproduksi keringat berlebih.
"nggak bisa gitu mas, harus bersih semua biar kita tidurnya tenang" kata Fani yang tak mau kalah dengan suaminya ia juga merebahkan diri di sisi suaminya. ia mengibas ngibaskan jilbabnya karena keringat sudah mengalir di seluruh tubuhnya. bahkan kaos yang dipakainya sudah basah.
"kenapa nggak di lepas jilbabnya dek?"
"nanti mas sekalian yang kotor. nih mau mandi dulu, udah lengket banget badanku"
"mas juga, sekalian masak mie instan udah laper banget ini" Taufan pun beranjak ke kamar karena tas carriernya ada di dalam kamar mengambil 3 buah mie instan. air mineral 1,5 liter serta keperluan mandi.
"nih, buruan mandi, udah tengah malem ini. biar bisa cepet istirahat" Taufan melempar handuk ke arah istrinya
"mas temenin aku mandi ya..."
__ADS_1