
Fani mengerjap ngerjapkan matanya. pembalutnya sudah minta diganti. suara deru mesin percetakan samar terdengar dari lantai 2. Fani berjalan ke arah jendela. Masya Allah sudah gelap. Karena desminore dia sampai tidur lupa waktu. Fani mengambil ganti pembalut dan celananya dari dalam tas. Ah, dia tidak membawa baju ganti karena tidak berpikir pergi selama ini. Dia bermaksud turun ingin mengajak Taufan pulang, baru berdiri hendak melangkah pintu kamar taufan sudah terbuka
"Lho, sudah bangun?"
"iya mas, oh ya mas masih lama nggak ya? gue harus mandi tapi nggak bawa ganti"
"mandi di sini aja bisa dek, pake baju aku bisa kalo kamu ngga keberatan. dah biasa pake baju size cowok kan?" Taufan mendekati lemari dan membukanya. "Nih, pilih yang menurutmu nyaman. Mas keluar bentar ya cari makan. Kalau keburu insya allah kita pulang. kalo ngga keburu kita nginep sini ya dek. Temen mas yang dateng cuma 1 yang lainnya bolos jadi kerjaannya agak numpuk"
Fani mengangguk pelan. Taufan mengusap pucuk kepala Fani kemudian berlalu mengambil tas kecilnya. "Kamu pengen makan apa dek"
"Terserah mas aja, gue ngikut aja"
Taufan pun pergi untuk membeli makan malam sedangkan Fani memilih sebuah training panjang warna hitam dan kaos lengan panjang warna hitam biar tetap bisa diserasikan dengan jilbabnya.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam ketika mesin cetak taufan mati. Setelah selesai mengepak dan memberi izin ke catur pegawainya yang pamit pulang, Taufan sibuk memasukkan motor dan menutup rolling door rukonya. Ia baru mau naik ketika melihat istrinya menuruni tangga.
__ADS_1
"Sudah selesai mas kerjanya?" Gadis itu duduk di tengah tengah tangga sambil melihat setiap gerak gerik taufan
"Alhamdulillah sudah. Adek kok belum tidur?"
"Sama sekali nggak ngantuk mas. kan seharian tadi dah hibernasi" Taufan terkekeh. kemudian menaiki tangga menyusul istrinya
"Yuk naik, badan mas pegel semua" taufan meregangkan otot leher dan punggungnya sampai terdengar bunyi kretek kretek.
"mau gu- aku pijitin?" Fani menatap Taufan gugup yang masih berada dua anak tangga di bawahnya. Taufan tersenyum mengangguk.
"Adek kalo masih nyaman pake loe gue ngga papa kok nggausah dipaksa, mas nggak marah"
Taufan kembali tersenyum. ia menjulurkan tangannya dan disambut Fani yang bangkit berdiri. bergandengan naik menuju lantai 2 rukonya.
"Mas tinggalnya di banyak tempat ya? di sini, di yasos, di rumah"
"di sini paling mas pake istirahat kalo siang dek. tidur di sini kalo lemburan aja kayak sekarang, biasanya mas lebih sering tidur di yasos. paling tidur di rumah dua atau tiga bulan sekali kalo nenek kangen"
__ADS_1
"oooh" Mereka sudah sampai di lantai 2. Taufan ijin membersihkan diri terlebih dahulu. sedangkan Fani beranjak ke dapur membuatkan Taufan segelas teh hangat untuk taufan dan es teh untuknya sendiri.
"Mas itu teh nya dimininum dulu" tawar Fani sambil membenarkan letak jilbabnya. Taufan mengangguk kemudian duduk di pinggir ranjang dan meminum teh hangat buatan istrinya.
"mas aku kesitu dulu ya" Fani menunjuk arah balkon kamar. ia benar benar tidak bisa tidur. setelah mendapat anggukan dari Taufan ia membuka pintu balkon. ada dua buah sofa menghadap jalan. ia duduk di salah satu sofa itu. pandangannya acak menatap lalu lalang kendaraan yang masih ramai padahal hari suda mendekati tengah malam.
Taufan menyusul istrinya duduk di balkon.
"Bener bener ngga bisa tidur ya dek?" istrinya menoleh ke arah taufan kemudian mengangguk sambil tersenyum. Taufan pun duduk di samping istrinya.
"adek suka tinggal disini atau di tempat abi? ato mau nyoba tinggal di yasos?" Tanya taufan memulai pembicaraan
"aku ngikut aja sih dimana mas mau tinggal, kalo mas suka di mana?"
"kalo di tempat abi kayaknya ngga mungkin dek, bukannya aku nggakmau tapi kita juga butuh privasi. kalo disini fasilitasnya ya seadanya gini. kalo di yasos bisa juga sih, tapi nggak ada privasi juga karena tiap waktu ada orang masuk ke kantor. apa mau ngontrak rumah dulu dek? sambil kita nabung buat beli rumah" Taufan memberikan opsi.
"ngga perlu mas, di sini aja aku dah cukup kok. cuman perlu beli beberapa perkakas dapur aja biar kita ngga jajan terus". Taufan tersenyum.
__ADS_1
"Yasuda biar mas yang bilang ke Abi rencana kita ya dek" Fani mengangguk.
"yuk mas masuk, dah mulai dingin" Fani berdiri dan mengulurkan tangannya pada Taufan.