Kelopak Cinta Di Ujung Senja

Kelopak Cinta Di Ujung Senja
Pedekate After Nikah


__ADS_3

Tepat Adzan Dzuhur acara selesai. Setelah Shalat dzuhur berjama'ah keluarga Taufan pamit untuk pulang.


"Taufan, kamu kami tinggal di sini ya" Ucap Ayah Taufan


"Tapi yah, Taufan ngga bawa ganti baju"


"Nanti biar om anter ke sini" Timpal om suryo.


Taufan pun akhirnya menurut untuk tinggal. Setelah keluarganya pergi, ia kembali ke posisi duduknya semula. mengeluarkan hp dari dalam kantong kemudian memainkannya. Abi dan Emak Fani ditemani Rizqi dan Rino masih di luar rumah mengobrol dengan pak RT dan beberapa tetangga yang lewat sedangkan Fani di dalam membantu Ni'mah packing karena sebentar lagi dijemput Fendi pacarnya.


"Lhoh? nak Taufan kok masih duduk di sini? mbok ya masuk ke dalem. Anggep aja rumah sendiri." Kata Emak Fani setelah masuk kedalam


"Ya bu, saya nunggu di sini ngga papa" Taufan tersenyum kecut. Ia bingung mau ngapain karena tuan rumah masih pada sibuk sendiri sendiri.


"manggilnya Mak e aja, kayak Fani kalo manggil Mak e biar lebih akrab. kalo bu kok kesannya kayak manggil bu RT" canda Emak Fani. "Lha istrimu kemana tho apa lupa kalo dah punya suami. Fan ? Faniii?" Mak e berteriak, sedangkan Fani yang dipanggil tidak mendengar karena dia di dalam kamar


"Ayo nak masuk ditunggu di dalem aja fani nya. mungkin baru bantuin Ni'mah mau pulang" Emak Fani mengajak Taufan masuk. Taufan pun mengekor di belakang emak Fani.


Sedangkan di dalam kamar Ni'mah sudah selesai bersiap pulang. Hp nya sudah berdering panggilan masuk dari Fendi.


"gue pamit dulu ya raf.. ciyee ciyee nyonya taufan.. sekarang tidur dah ada yang nemenin" Goda Ni'mah


"apaan si loe Mah? buruan pergi sana, nggodain aja" Fani menggerutu sambil mengambil handphonenya di atas meja belajar. tampak beberapa notifikasi whatsapp dari nomor yang tidak di kenal


📥raf?


📥raf, lagi apa?


📥raf masih sibuk ya?


siapa sih ini gumam Fani dalam hati. Chat aneh itu hanya dibaca saja tidak ada niat untuk membalas


"ciee ngusir ngusir gue biar bisa berduaan sama Taufan?" Ni'mah terus menggoda sambil jalan keluar. Fani mengikuti Ni'mah dari belakang.

__ADS_1


Tampak di ruang tengah Taufan sedang mengobrol dengan Mak e dan Abi. Ni'mah pun mendekati mereka untuk berpamitan. Setelah itu Fani mengantarkannya sampai ke pintu depan.


"Fan, ini suaminya mbok ya diajak istirahat, kasian daritadi nunggui kamu lho" Ucap Abi ketika Fani sampai ruang tengah.


"iyaa abii, tadi kan masih ada Ni'mah" Fani menjawab manja sambil mendekati abinya


Taufan yang melihat Fani yang manja pun terkikik


"loe ngapain ketawa bang?" Fani menatap tajam Taufan


"Lucu aja, loe di luar tomboy sangar kayak preman di rumah ternyata manja" Taufan menjawab sambil terkikik


"Lho fani kalo sama abinya emang manja Nak" Timpal emak Fani. "Lagian kalian suami istri kok manggilnya kayak temen maen, mbok yang mesra dikit"


"belum kebiasa mak" sanggah Fani "udah yuk bang, loe mau istirahat apa di sini sama abi ma mak e" Fani berjalan masuk ke arah kamarnya. Taufan pun mengekor Fani setelah mohon ijin ke kedua mertuanya.


Mereka berdua melewati lorong mirip kos kosan. tampak beberapa foto menempel di dindingnya. "itu kamar pertama buat mushola, itu kamar rino, rizqi yang paling ujung kamar gue". Fani menerangkan ruang ruang di lorong itu.


"depan kamar loe ruang apa?"


Fani dan Taufan sampai di kamar. Taufan menatap seluruh isi kamar yang luasnya hanya 4*4 meter itu. cat kamar berwarna hijau yang berbeda dengan yang lain karena sepanjang rumah tadi cat dindingnya berwarna cream. ranjang single ukuran 120cm dengan seprei keroppi, almari baju berwarna hijau, meja belajar kayu di samping ranjang dengan pernak pernik hijau di atasnya. tampak berbagai boneka keroppi beraneka bentuk ditata rapi di pojok. tak lupa karpet bermotif keropi tergelar rapi di bawah menutupi seluruh lantai yang lapang.


Sontak Taufan tertawa terbahak bahak karena dia tidak menyangka istrinya memiliki kesukaan seperti itu. Karena, jika dilihat dari penampilannya setiap hari Fani adalah sosok yang maskulin.


"loe ngapain sih bang pakek ngakak kayak gitu" Fani nyelonong masuk ke kamarnya. Ia merebahkan setengah badannya ke ranjang dengan kaki menggantung. Capek.


"Gue bener bener ngga nyangka loe punya sisi feminim juga kayak gini"


"Almarhumah ummi gue suka warna hijau bang, gue kalo kangen umi suka ngumpulin barang barang yang warna ijo, jadilah kayak gini. kebetulan aja yang biasanya warna ijo gambar keroppi. Sampe Roni kalo masuk ke sini katanya nyemplung ke sawah. banyak kodoknya" Fani curcol. Belum ada yang pernah fani ceritakan tentang alasannya mengoleksi barang barang berwarna hijau kecuali taufan.


Taufan pun masuk ke kamar Fani dan menutup pintunya. Ia duduk di tepi ranjang, menaruh Hp dan melepas jam tangannya.


"Gue juga suka kok warna ijo, tapi ga separah loe gini" kata Taufan. entah hanya sebagai basa basi atau betulan hanya Taufan yang tau .

__ADS_1


Suasana kembali hening. Walau bagaimanapun sebelumnya mereka tidak saling mengenal, hanya sebatas tau nama. Pertama mengobrol pun baru kemarin siang dan sekarang status mereka sudah suami istri. Mereka hanya sibuk dengan ponsel masing masing


"Emm... dek" Taufan memecah keheningan. Ia masih duduk di pinggiran ranjang


"Hmm .." respon Fani masih fokus dengan ponselnya


"Ngantuk dek" Taufan melirik Fani


"Yauda tinggal tidur aja ngapain pake kasi informasi kalo ngantuk" Fani masi fokus dengan ponselnya. ia sibuk dengab game tembak tembakannya.


"Boleh dek? baring di samping adek? tapi apa ini kasurnya ngga terlalu sempit?" Tanya Taufan ragu


"iyaa ... biasanya sama ni'mah juga muat kok"


Taufan pun membaringkan tubuhnya telentang di atas ranjang. Jantungnya betul betul berdegub lebih cepat dari biasanya tapi ia mencoba memejamkan matanya karena benar benar mengantuk. Sedangkan Fani masih sibuk dengan game nya. Suasana kembali hening Fani yang tersadar segera bangkit.


jantung bersahabatlah. batin Fani.


"Emm dek" Taufan membuka matanya


"Eh?" Fani menengok ragu ke arah Taufan.


Taufan pun mengubah posisinya ke duduk.


"Adek masih malu ya sama mas?"


"Nggak sih bang- eh mas, belum terbiasa aja. habisnya cepet banget sih, belum juga pedekate uda sah aja" Fani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"yasudah, kita mulai pedekate after nikah aja. malah jadi pahala kan. Mas nggak maksa adek kok, sambil berjalannya waktu sambil kita perkenalan, belajar jadi istri dan suami yang baik, buat sekarang kita anggep temenan aja atau pacaran gamasalah. pacaran tapi halal"


Fani menatap lekat Taufan. Ia mengangguk setuju dengan pendapat Taufan. "Mas?"


"Ya?"

__ADS_1


"ke yasos yuk"


"ngapain?"


__ADS_2