
Fani langsung memasukkan motornya ke garasi sesampai rumah.
"assalamualaikum" ia menyapa abi dan mak nya di ruang tengah sambil menonton televisi. Tampak keduanya sibuk memetiki daun singkong untuk di olah.
"wa'alaikumussalam" mereka menjawab kompak. Fani pun menyalimi mereka satu persatu
"abi sama mak e kok disini semua? siapa yang njaga warung?"
"ada rizqy, biasa, minta uang buat main besok jadi abi suruh jaga warung dulu sehari ini" abi yang menjawab. Abi memang mengajarkan anak anaknya bekerja dulu kalau menginginkan sesuatu. "udah, kamu masuk sana, udah ditunggu Ni'mah di kamarmu" Abi kembali sibuk dengan daun singkongnya
"Loh? Kok udah dateng? Katanya mau dateng malem" Fani melangkah masuk ke arah kamarnya
ceklek
suara pintu kamar Fani terbuka. tampak Ni'mah duduk duduk dipinggir ranjang sambil membaca selembar kertas. Mata Fani membulat melihat pemandangan itu.
"Raf, ini siapa?" Ni'mah menunjuk foto di CV yang ia baca. Fani pun langsung merebut CV di tangan Ni'mah.
"Loe kok baca baca sembarangan sih mah, sebel gue" Fani memasukan CV ke dalam amplopnya lagi dan menyelipkan di antara buku buku di meja belajarnya.
__ADS_1
"Salah sendiri naroh sembarangan di atas meja. Ya gue baca lah, lagian gue dah selesai baca semuanya ngapain loe umpetin" Ni'mah terkikik "Buruan kasih tau dia siapa?" Ni'mah penasaran.
"Temen gue relawan di Yasos (Yayasan Sosial)" Jawab Fani sekenanya
"Trus kenapa loe pegang biodatanya dia?" Ni'mah memancing.
"Apaan sih mah. udah ah, loe ngapain udah ke sini? bukannya loe masih mau nge date sama Fendi?" Fani mengalihkan pembicaraan
"Fendi disuruh mendadak sama bapaknya nganterin ke luar kota. Bete gue di kos makanya langsung cabut sini. Udah deh itu Muhammad Taufan siapa nggak usah ngalihin pembicaraan"
Fani tidak langsung menjawab, ia meletakkan tas nya ke atas meja belajar, melepas jilbabnya, mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang berantakan. Sedangkan bola mata Ni'mah berputar mengikuti gerakan Fani.
"siapa juga yang main rahasia rahasiaan. namanya Ahmad Taufan bukan Muhammad Taufan. Dia temen gue di Yasos, ya meskipun gue nggak kenal sih, baru ngobrol juga tadi"
"Trus kenapa loe pegang biodatanya dia?"
"Dia nglamar gue, itu biodata buat taarufan"
Ni'mah langsung beranjak duduk. matanya membulat dan ujung bibirnya naik ke atas melihatkan barisan barisan giginya yang rapi "Serius loe raf? oh, pantes loe nolak damar ternyata ada mas Ahmad ini" Ni'mah menggoda
__ADS_1
"gue dapet CV nya juga baru kemaren keleus mah, lebih duluan gue nolak si Damar" Fani mengembalikan sisir ke tempat semula dan mengikat cepol rambutnya. "Damar apa kabar ya Mah? tumben nggak pernah WA gue"
"ciyeee kangen ya? paling juga lagi semedi di goa sambil nenangin diri habis loe tolak" Ni'mah tertawa membayangkan ucapannya sendiri.
"Nggak lucu tau mah" Fani mendengus tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Trus kedepannya loe gimana Raf? Loe mau nikah sama mas Ahmad ini?"
"Ish, panggilannya Taufan mah. Gue masih berpikir. sebenernya gue berharap banget kalo yang lamar gue kemaren si Damar. tapi loe tau sendiri kan, dia gue kasih penawaran buat lamar gue aja jawabannya kayak gitu" Fani menghembuskan nafasnya kasar. "menurut loe gimana mah?"
"mmm gimana ya? kalau gue udah ada yang serius sih, mending langsung milih yang serius. biarpun gue pacaran ma Fendi, misal ada yang lamar gue di rumah mah, asal babe gue setuju gue juga setuju. masalah cinta mah datang kalo udah kebiasa"
"jahat loe ninggalin Fendi"
"Kan gue bilang misal maemunah ...." Fani menjewer gemas kuping sahabatnya
"gue tadi sempet berpikir buat nerima dia sih Mah, orangnya seru di ajak ngobrol, apalagi..."
"apalagi?"
__ADS_1
"mirip Ramon Y. Tungka" Fani pun tertawa. sedangkan Ni'mah mendengus kesal. Fani sudah meyakinkan hatinya untuk menerima ajakan ta'aruf taufan dan mengabarkan kepada abinya segera sore itu juga