
“kalian bebas mau makan apa aja” ucap brenden.
“beneran ni ?” tanya lula memastikan.
“iya beneran, kalian makan sepuas puasnya gue yang traktir” ucap brenden.
Setelah mendengar ucapan brenden mereka memesan makanan yang mereka suka.
. . . . . .
“nenek beli apa tu nek ?” tanya katya.
“ini untuk makan malam kita cu” ucap nenek ningrum.
“nenek masih tetap jualan keripik ?” tanya katya.
“iya, kalau nenek tidak jualan maka kita tidak punya uang” ucap nenek ningrum.
“nenek, kenapa mama dan papa tidak mau membawa kita bersama mereka nek ?” tanya katya sedih.
“nenek juga tidak tau sayang, udah sekarang kita makan saja ya” ucap nenek ningrum.
Nenek ningrum sebenarnya juga ingin tau alasan mereka tega melakukan semuanya terhadap dirinya.
Sedangkan kira dan remon pusing degan masalah yang mereka hadapi.
Kira tidak habis pikir dengan suaminya. Kira tidak pernah menyangka sama sekali bahwa suaminya berhutang. Sedangkan remon merasa binggung kenapa uangnya bisa hilang.
“kira apa lo yang ambil uang aku ?” tanya remon.
“enak aja kamu bilang itu uang kamu, itukan uang aku” ucap kira dalam hati merasa dongkol.
“ya aku tidak tau mas, kan kamu yang simpan uang itu, kalau aku ada ambil ngapain aku harus minta uang ke kamu untuk bayar makanan tadi” ucap kira panjang lebar.
Remon pun membenarkan ucapan kira tadi dalam hati remon merasa bahwa kiralah yang mengambil uang itu. Soalnya hanya mereka berdua saja sedangkan katya dan nenek ningrum tidak bersama mereka.
Kalaupun maling pasti sudah mengambil semua uang itu. Tidak mungkin mengambilnya hanya sedikit.
“beneran kamu tidak ambil ?” tanya remon memastikan lagi, remon masih belum bisa percaya dengan ucapan istrinya.
“mas, aku juga pusing ya, pertama uang tiba tiba saja hilang, kedua kamu pinjol, itu udah bikin aku pusing tau ngak, aku saja belum menikmati uang itu sama sekali tapi uang itu tinggal sedikit” ucap kira marah dan langsung masuk dalam kamar.
“aduh, kalau mas remon nanya terus lama lama aku bisa keceplosan nanti” ucap kira sampai dikamar dengan mengatur nafasnya.
Remon sangat kesal bahkan sampai meninju meja dihadapannya.
. . .
“assalamualaikum nek” ucap dion mengetuk pintu.
“waalaikumsalam non, den” ucap bibi.
Mereka masuk ke rumah dan menanyakan keberadaan neneknya. Bibi pun memberitahukan bahwa nenek ada di dalam kamar. Bibi juga memberitahukan bahwa jika nenek mereka menyuruh cucunya menemuinya di kamar.
Keenam bersaudara itu pun pergi ke kamar masing masing untuk membersihkan diri setelah itu menemui neneknya.
“kalian habis ngapain sampai pulang malam ?” tanya nenek anisa.
Mereka saling pandang tidak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
“kenapa diam saja ?” tanya nenek anisa.
“anu, itu nek, kita, kita” ucap rion binggung mau menjawab apa.
“apa, kalian habisa ngapain, apa kalian ada masalah” ucap nenek anisa.
Cukup lama hening, akhirnya dion menceritakan semuanya.
“jadi kalian bergabung dengan genk elang” ucap nenek anisa.
“iya nek boleh kan ?” tanya dion.
“apa tidak bahaya, genk motor kan biasanya sering bikin onar” ucap nenek anisa yang mendengar bahwa genk motor sering membuat onar.
“tidak semua genk motor itu bikin onar kok nek, ada juga genk motor yang sering bantu orang orang kok” ucap gino.
“tapi nenek masih ragu untuk mengizinkan kalian gabung dengan genk motor” ucap nenek anisa yang belum bisa mengizinkan cucunya untuk ikut gabung genk motor.
“nenek percaya deh sama kita, geng elang itu baik kok nek” ucap rion menyakinkan neneknya.
“ya nek boleh ya” ucap kirana
Cukup lama mereka menungu jawaban nenek anisa, mereka harap harap cemas. Mereka takut nenek anisa tidak mengizinkan mereka bergabung di genk elang.
Nenek anisa masih menimbanh permintaan cucu cucunya itu.
“ok nenek izinin kalian tapi kalian harus janji untuk tidak bikin onar” ucap nenek anisa pada akhirnya.
“beneran nek boleh” tanya aqila memastikan.
“iya benar” ucap nenek anisa dengan senyum.
“oh ya bagaimana dengan nenek ningrum ?” tanya nenek anisa setelah berpelukan.
Aqila pun menceritakan semuanya yang terjadi terhadap nenek ningrum.
“ya ampun kasihan banget nenek ningrum” ucap dion.
“tega banget anak menantunya memperlakukan nenek ningrum seperti itu” ucap nenek anisa yang tidak habis pikir dengan sikap anak menantu nenek ningrum.
“iya nek jahat banget mereka terhadap nenek ningrum” ucap gino.
“sampai hati mereka melakukan itu kepada nenek ningrum, seharusnya di usia nenek ningrum itu, anak menantunya memberikan tempat tingal buka malah mengambil menjual tempat tinggal nenek ningrum” ucap rion geleng geleng kepala tidak habis pikir dengan orang seperti itu.
“nek gimana kalau jualan nenek ningrum itu di jual di super market aja, kasihan kalau harus jualan keliling belum lagi hari yang panas” ucap dion.
“boleh juga” ucap nenek ningrum.
“ya sudah kalau gitu besok aku ke tempat nenek ningrum” ucap rion.
“gue temenin deh, gue besok tidak kuliah” ucap kirana.
“ok” ucap rion.
“ya sudah kalian istirahat ya” ucap nenek anisa.
“ok nek, nenek juga istirahat” ucap aqila.
Mereka pergi ke kamar masing masing untuk istrirahat.
__ADS_1
. . .
“duh siapa sih yang ketuk pintu pagi pagi” ucap remon
Sebenarnya bukan pagi lagi karena jam sudah menunjukkan jam sembilan.
“kira, kira buka pintunya itu, berisik tau” ucap remon yang melanjutkan tidurnya.
Kira yang berada diruang makan pun mau tidak mau meninggalkan sarapannya untuk membuka pintu.
“ada apa ya mas ?” tanya kira.
“mana remon ?” tanya seorang laki laki.
“anda siapa ya ?” tanya kira yang belum memangil suaminya.
“anda tidak perlu tau, cepat pangil remon” ucap laki laki itu yang mulai meningikan suaranya.
Kira yang malas berdebat pagi pagi pun memangil suaminya. Mau tidak mau remon bangun dan menemui orang yang mencarinya.
“eh kalian” ucap remon menyambut tamunya itu.
“udah tidak usah basa basi, cepat bayar hutang lo” ucap preman itu.
“bentar bang” ucap remon.
“aduh, baru juga gue pegang uang banyak, masa udah habis aja” ucap remon kesal mengambil uang untuk bayar hutang.
“ini bang” ucap remon memberikan uang ke preman itu.
“gitu dong, dari kemaren kek” ucap preman itu berlalu pergi.
“kamu bayar hutang lagi mas” ucap kira.
“kamu sudah lihat sendirikan, masih nanya lagi” ucap remon kesal duduk di kursi teras.
“kamu hutang berapa banyak sih mas ?” tanya kira yang masih berdiri.
“tidak banyak, hanya sedikit” ucap remon.
“tidak banyak kamu bilang mas, bahkan uang kita saja sudah habis” ucap kira marah.
“kamu bisa tidak sih, tidak bikin aku pusing pagi pagi” ucap remon.
“ya ada kamu yang bikin aku pusing” ucap kira menunjuk suaminya. Emosi kira semakin meluap luap.
“sudah ya kira gue lagi pusing” ucap remon berdiri dan ingin masuk ke dalam rumah.
“tunggu ya mas, aku belum selesai bicara” ucap kira menahan suaminya.
“apa lagi sih” ucap remon yang semakin kesal.
“aku mau uang sisanya kasih ke aku semuanya” ucao kira menegadahkan tangannya.
“tidak ada” ucap remon
“mas kasih ngak” ucap kira menarik tangan suaminya.
Remon yang kesal menepis tangan kira. Kira yang terus memojokkan remon membuat remon semakin marah bahkan remon tidak segan menampar istrinya berkali kali dan mendorong kira. Kira yang terkena dorongan itu terbentur ditiang yang membuat kira tak sadarkan diri.
__ADS_1
Orang yang lewat depan kotrakan itu langsung menghampiri mereka dan membawa kira ke rumah sakit sedangkan remon dibawa ke kantor polisi.