Kembalinya Sang Mafia

Kembalinya Sang Mafia
Seperti Labirin


__ADS_3

Di rumah Kenji Hiragama Noir.


Yukito masih ngambek dengan kakaknya, yaitu Alex, yang belum juga keluar dari kamarnya. Padahal saat ini, hari sudah siang.


"Kakek, kakak belum bangun juga?" tanya Yukito, dengan wajah masam.


"Kenapa?"


"Kak Alex sudah janji, mau antar Yuki ke Mall Kek!" sahut Yukito cepat.


"Emhhh... bagaimana jika Kakek saja yang antar, atau sama Aizen?" tawar Kenji pada cucunya itu.


"Gak mau! Asisten Aizen tidak bisa diajak bicara. Dia seperti patung!" tolak Yukito, mengomentari sikap asisten kakaknya. Yaitu asisten Aizen.


"Kalau begitu dengan asisten Nicorazon saja," terang Kenji lagi, memberikan usulan supaya cucunya itu tidak ngambek dan kesal terus-menerus. Dan ini bisa terjadi seharian jika keinginannya tidak dituruti.


"Gak mau! Pokoknya maunya sama kak Alex!"


"Eh bocil! berisik Kamu!"


Dari arah samping, muncul Alex, yang bermuka sinis, saat menyahuti perkataan adiknya. Dengan janjinya yang kemarin.


Padahal kemarin itu, dia berkata demikian supaya Yukito mau melepaskan tangannya. Yang sedang beralasan ingin mencari kamar kecil. Padahal yang sebenarnya, dia hanya ingin pergi ke perusahaan, untuk menemui asisten Artha.


Mengingat Artha, Nhao Zhiro juga kembali ingat, jika dia sudah berpesan kepada asistennya itu, untuk datang ke rumah keluarga Noir ini, siang hari ini juga.


Tapi dia melihat adiknya Alex yang sedang merajuk pada sang Kakek, juga tidak tega. Karena menurut penuturan sang kakek, Kenji, selama ini Alex sangat menyayangi adiknya itu. Apalagi mereka jarang bertemu, sebab Alex dibawa orang tuanya ke jakarta dan dirawat di sana. Sedangkan Yukito ada di Jepang, dirawat oleh mendiang istrinya, neneknya Alex dan Yukito.


Di saat Nhao Zhiro bertanya kenapa mereka dipisahkan, Kenji hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


Tentu saja jawaban tersebut tidak membuat Nhao Zhiro merasa puas. Sehingga tekadnya untuk mencari tahu rahasia keluarga mereka semakin kuat. Tanpa harus melupakan niat awalnya, untuk membuat perhitungan dengan Benjiro. Rekan kerja sekaligus temannya.


"Kak, ayok! O nēchan, ima ikimashou."


Yukito Noir, sudah menarik tangan kakaknya. Untuk segera di ajak pergi.

__ADS_1


"Watashi wa yōji ga arimasu, hitori de ikimasu. Aku ada urusan, jadi pergilah sendiri!" elak Nhao Zhiro, yang sebenarnya risih, karena Yukito sering menempel padanya. Seakan-akan tidak mau berpisah dengan kakaknya itu.


"Ike. Aizen no joshu ka Nicorazon mo Aizen."


"Pergilah. Ajak asisten Aizen arau Nicorazon juga," usul Kenji, yang tidak mau membuat cucu gadisnya itu kecewa.


Akhirnya dengan terpaksa, Nhao Zhiro menyetujui usulan tersebut. Dan meminta waktu sebentar untuk dia bersiap-siap ke kamar terlebih dahulu.


Di dalam kamar, Nhao Zhiro segera mengirim pesan kepada asisten Artha. Supaya menemui dirinya di Mall saja, sehingga tidak perlu datang ke rumah keluarga Noir.


Tentunya pesan tersebut disambut baik oleh asisten Artha, yang memang masih malas untuk bertemu dengan keluarga angkatnya.


*****


Di Mall, Yukito dengan senang hati memasuki beberapa outlet yang dia inginkan.


"Aku tunggu di Kazu kafe," usul Nhao Zhiro, supaya adiknya Alex bebas sesuka hatinya. Dan dia juga tidak perlu merasa capek, mengikuti keinginan gratis kecil tersebut.


Untungnya, Yukito juga tidak protes dan menurut. Tapi dia meminta untuk ditemani oleh asisten Nicorazon, yang berperawakan tidak terlalu macho. Alias tidak kekar.


Tapi, disaat dia baru saja duduk di Kazu kafe, atau kafe Jepang, pria melihat keberadaan Benjiro. Yang menyapa adiknya Alex, dengan akrabnya.


"Benjiro?"


"Ya Tuan Muda, ada apa?" tanya asisten Aizen, yang mendengar pertanyaannya tapi tidak jelas ditujukan untuk siapa.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Nhao Zhiro, dengan menunjuk ke arah Benjiro, yang masih berbincang dengan Yukito Noir.


"Oh, itu tuan Benjiro. Rekan bisnis papanya tuan Muda. Apa Tuan Muda tidak ingat?" asisten Aizen justru balik bertanya, setelah memberikan penjelasan.


"Apa?"


Nhao Zhiro bertanya dengan kaget, karena tidak pernah menyangka. Jika musuhnya itu, justru rekan bisnis dari papanya Alex. Tubuh yang saat ini dia huni, untuk membalas dendam. Dengan kematiannya di masa lalu.


"Si4ll! kenapa ini seperti sebuah labirin? Aku justru terjebak pada tubuh yang lemah, dengan dikelilingi banyak misteri dari orang-orang yang ada di sekitarku."

__ADS_1


Nhao Zhiro bergumam seorang diri, dengan semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Asisten Aizen, hanya diam saja. Karena dia memang tidak banyak bertanya, dan juga tidak pernah suka turut campur. Jika tidak diminta oleh tuannya.


*****


Malam hari.


Di atas pesawat jet pribadi, Rian Noir bersama dengan istrinya, Reina Matsushima, tertidur pulas.


Jarak dari Jakarta ke Tokyo menggunakan Pesawat, memerlukan sekitar waktu kurang lebih 7 jam lamanya. Dengan jarak sekitar 5.789 km jauhnya.


Ada dua bandara besar di dekat Tokyo yang menjadi tempat mendarat favorit orang-orang Indonesia. Pertama adalah Bandara Haneda, dan yang kedua adalah Narita.


Tapi kali ini, Rian Noir bersama dengan istrinya, Reina Matsushima, meminta pada kapten pilot untuk mendarat di bandara Haneda saja. Karena jarak antara Bandara Haneda dengan rumah ayahnya lebih dekat, dibanding jika harus mendarat di bandara Narita.


"Tuan, bandara Haneda sinyal untuk mendapatkan ke sana terhambat. Bagaimana jika kita alihkan pendaratan ke bandara Narita?" Kapten pilot, dateng menemui Rian Noir, untuk meminta ijin. Karena ada kendala hubungan sinyal dari pesawat jet pribadi mereka, dengan pihak bandara Haneda.


"Lakukan yang terbaik saja."


"Siap Tuan!"


Rian Noir sebenarnya sedikit cemas, dengan adanya laporan dari kapten pilot pesawat.


Dia berpikir bahwa, ada sesuatu hal yang membuat sinyal mereka terkendala. Padahal, iya juga tidak bisa menghubungi sang ayah, Kenji Hiragama Noir, maupun rekannya yang lain untuk melakukan tindakan seandainya terjadi sesuatu dengan pesawatnya kali ini.


Tapi Rian Noir tetap berdoa, untuk keselamatan dan keamanan semua orang. Yang ada di pesawat jet pribadinya ini.


"Aku berharap semuanya baik-baik saja. Aku juga belum ingin mati, karena masih punya hutang untuk memberikan penjelasan kepada kakakku. Meskipun Aku belum tahu di mana keberadaannya saat ini, tapi Aku tetap merasa yakin. Jika Aku bisa menemukannya, suatu hari nanti."


Rian Noir justru bergumam dengan permasalahan masa lalunya, bersama dengan kakak-kakaknya.


Dia melihat ke arah istrinya, yang saat ini sedang tertidur dengan nyaman dan tenang di sampingnya. Tanpa harus dia bangunkan.


Sebenarnya Rian juga tahu, jika istrinya ini punya keinginan yang sama seperti dirinya. Mempunyai rahasia yang sama seperti dirinya, yang harus dia katakan pada mantan kekasihnya dulu. Yang pergi tanpa memberikan kabar ataupun penjelasan.

__ADS_1


"Semoga kita masih ada waktu, untuk menemukan kakakku itu," ujar Rian, sambil merapikan rambut istrinya. Yang menutupi sebagian kening.


__ADS_2