Kembalinya Sang Mafia

Kembalinya Sang Mafia
Kebenaran Itu


__ADS_3

Benjiro menatap sinis, ke arah Artha yang baru saja datang. Dan tampak begitu khawatir, dengan keadaan Alex. Yang saat ini berbaring tidak berdaya.


"Hehhh! apa yang Kamu lakukan pada keponakanmu sendiri?" bentak Artha, mencoba untuk memperingatkan Benjiro. Mengenai statusnya sebagai seorang Paman untuk Alexander Noir.


"Hahaha... Aku, Paman? Ya, aku memang Pamannya. Tapi Kamu justru papanya, hahaha..."


Bugh!


Artha langsung memukul Benjiro dengan kuat, tanpa berkata apa-apa lagi. Bahkan kakak iparnya Rian Noir itu sampai terjengkang ke belakang, mengenai kursi yang ada di belakangnya


Brukkk!


"Arghhh..."


Benjiro merasa kesakitan pada area pantatnya, sedangkan kursinya justru hancur berantakan.


"Kau..."


Benjiro menunjuk ke arah Artha dengan amarah yang berapi-api, tapi tidak dipedulikan oleh Artha. Sebab Artha terus berlalu mendekat dengan cepat ke tempatnya Alex, yang sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Tuan Besar! Tuan Besar!"


Puk puk puk!


Artha memanggil-manggil Nhao Zhiro, dengan menepuk-nepuk pipinya. Berusaha untuk membuat Nhao Zhiro sadar.


Dia tidak tahu jika saat ini, Nhao Zhiro sudah tidak lagi ada di dalam tubuhnya Alex. Sehingga Alex hanya seonggok tubuh tanpa ada roh dan jiwanya Nhao Zhiro. Tuan Besar-nya.


Di belakang, benjiro bertepuk tangan. Setelah berusaha untuk bangun dari kursi yang berantakan karena tertimpa tubuhnya.


Plok plok plok!


"Hebat-hebat! Kamu memanggil anakmu dengan sebutan Tuan Besar? Hahaha..."


Mendengar perkataan Benjiro, Artha menoleh cepat ke arah belakang. "Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Artha cepat, karena sudah mendengar peryataan Benjiro 2 kali. Yang mengatakan bahwa Alex adalah anaknya.


"Hahaha... pikirkan sendiri Artha. Dasar Kamu pecundang sedari dulu!" ejek Benjiro, yang membuat Artha mengepalkan tangannya kuat. Dengan rahangnya yang terlihat jelas, jika sedang menahan amarah.


Kini Artha terdiri dari jongkoknya, mendekat ke arah Benjiro. Yang saat ini sudah berdiri, dengan tangannya yang sedang membersihkan celana.


Begh srekkk srekkk...


"Katakan sekali lagi!"

__ADS_1


Artha menarik kerah kemeja Benjiro, laki-laki yang sudah membuatnya terpaksa harus pergi dari keluarga Noir. Keluarga yang sudah memberikan dia kehidupan yang lebih baik, daripada saat berada di panti asuhan.


"Ya. Memang Alex adalah anakmu Artha. Hahaha... apa Kamu tidak sadar, jika semua yang terjadi di masa lalu itu adalah karena Aku." Benjiro berkata dengan bangga, seakan-akan meremehkan Artha. Karena tidak mengetahui apapun tentang kehidupan masa lalunya.


Sekarang ini Artha menyipitkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Benjiro padanya.


"Jadi..."


Artha tidak melanjutkan kalimatnya, karena semua cerita yang ada pada masa lalunya, seakan-akan di putar kembali saat ini.


Dan setelah sekian detik, Artha menyadari sesuatu. "Sial!"


Bugh!


"Arghhh!"


Dengan cepat Artha memukul wajah Benjiro, dengan mengumpat marah.


Benjiro sendiri terhuyung-huyung ke belakang, sambil memegangi mukanya yang terasa panas. Akibat pukulan yang dia dapatkan dari Artha.


Tapi sebelum Benjiro bisa bersiap lagi, Artha telah menghadiahi dirinya dengan pukulan yang bertubi-tubi.


Bugh bagh bugh!


Brukkk!


Pyarrr!


Kamar hotel yang ditempati Nhao Zhiro, hancur akibat perkelahian antara Artha dengan Benjiro. Dengan didominasi oleh Artha sendiri, karena pada kenyataannya, Benjiro justru tidak bisa melawan Artha yang sedang diselimuti oleh amarah.


Hawa panas akibat dendam dan emosi Artha di masa lalu, seakan-akan dia lampiaskan saat ini. Apalagi setelah mengetahui, kebenaran tentang keadaan cerita yang sebenarnya dari masa lalunya, bersama dengan Reina Matsushima.


"Anata wa ningen no gomidesu!"


"Br3ngs3k! dasar manusia sampah!"


Artha terus menghajar Benjiro tanpa ampun lagi, seakan-akan sedang melampiaskan semua marahnya.


Setelah Benjiro benar-benar sudah tidak bisa bergerak lagi, Artha dengan cepat meninggalkannya. Dan mengurus tubuh Alex yang masih tidak bergerak.


Tapi Artha menjadi kaget, saat melihat keberadaan jimat hitam. Yang menempel pada lehernya Alex.


"Apa ini yang membuat Tuan Besar tidak bisa melakukan apa-apa, sehingga Alex menjadi seperti ini?" gumam Artha, bertanya pada dirinya sendiri tentang keadaan Alex.

__ADS_1


Dia segera mengambil jimat tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam saku jasnya.


Dengan segera, Artha mengangkat tubuh Alex, kemudian pergi dari kamar hotel yang sudah berantakan.


"Urus orang yang ada di kamar Tuan Besar!" perintah Artha, pada dua orang anak buahnya. Yang tadi sudah dia hubungi. Tapi mereka baru sampai dan keluar lift, tak jauh dari kamar yang dia tinggalkan.


Untungnya, tadi Benjiro datang ke kamar hotel Alex seorang diri. Tanpa membawa seorang pun anak buahnya, sebab dia terlalu percaya diri. Jika mampu menyalahkan Alex, yang sebenarnya bukanlah Alex keponakannya.


Artha membawa tubuh Alex ke rumah sakit.


*****


"Bagaimana Dok?" tanya Artha cepat, begitu seorang dokter IGD keluar.


Dokter tersebut adalah dokter yang menangani Alex barusan.


"Dia terlalu lemah. Tapi, untungnya Anda segera membawanya ke sini." Dokter tersebut akhirnya memberikan penjelasan pada Artha. Jika saat ini Alex sudah melewati masa kritisnya.


"Terima kasih Dok," ucap Artha, kemudian bertanya lagi, "lalu, apakah dia sudah sadar?"


"Sudah, tapi saat ini sedang tidur. Karena pengaruh obat yang kami berikan," terang dokter lagi, yang membuat Artha bernafas lega. Karena akhirnya Alex bisa diselamatkan.


"Perawat akan menyiapkan ruangan untuknya, supaya bisa beristirahat dengan tenang dan lebih nyaman."


Artha menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh dokter. Dia juga masih merasa was-was, karena belum mengetahui. Siapa sebenarnya yang saat ini berada di dalam tubuhnya Alexander Noir.


"Apakah benar, jika Alexander Noir itu adalah anakku? lalu, bagaimana sekarang nasib Tuan Besar?"


Sepertinya Artha masih meragukan cerita yang disampaikan oleh Benjiro tadi, yang mengatakan bahwa Alexander Noir adalah anak biologisnya. Dan bukannya anak Rian Noir, adik angkatnya itu.


"Jadi, selama ini Rian justru merawat dan menjaga anakku," gumam Artha lagi, yang mulai menyambungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.


Mengaitkan antara cerita Benjiro, dengan cerita Rian dan Reina pada waktu itu.


Sayangnya, baru sekarang dia menyadari. Dan semuanya itu sudah terlambat. Karena saat ini, Reina sudah menjalani kehidupannya bersama dengan Rian Noir. Sebagai seorang istri bertahun-tahun yang lalu.


Sudah bisa dipastikan bahwa, perasaan Reina Matsushima saat ini, pasti sudah berubah. Dengan seiring berjalannya waktu, Reina pastinya mencintai Rian Noir. Yang saat ini sudah menjadi suaminya, bahkan sekarang juga sudah ada Yukito. Adiknya Alex.


"Hhh..."


Artha membuang nafas panjang, saat memikirkan semua hal tersebut.


"Sekarang Aku harus fokus dengan tubuhnya Alex, dan juga keberadaan Tuan Besar Nhao Zhiro." Artha bertekad untuk menjaga tubuh alex upaya tetap baik-baik saja, meskipun jiwa dan roh nya adalah milik orang lain. Yaitu miliknya Nhao Zhiro, yang merupakan tuan Besar-nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2