Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Mencium dengan Paksa, lagi


__ADS_3

“Terima kasih untuk makanannya”


“Apa? Aku.. salah denger?”, batin Aruto.


Segaris senyum kecil terlukis di wajah Aruto, dia tersanjung mendengar ucapan terima kasih dari Mika. Hatinya berbunga-bunga hingga tanpa sadar dia terpaku menatap Mika yang telah kenyang sambil mengelus perutnya yang membuncit.


“Mika?! Apa kamu hamil? You’re pregnant?” tanya Fanya.


“Wh-wh-wh-whaaat?!” Astha melonjak kaget mendengar ucapan Fanya.


“Eeeeh.. Sembarangan kalian bicara. Aku hanya merasa kenyang. Kennyang. Paham?!”, balas Mika tegas.


“Hahaha.. gomen gomen”, ucap Fanya merasa bersalah.


“Kalian kok dari tadi berdiri aja? Gak duduk?”, tanya Mika heran.


“Ehehe..”, jawab Fanya dan Astha kompak sambil melirik kepada Aruto, seolah menyalahkannya kepada Aruto yang terlihat garang dan sadis.


“Mengurus Mika saja sudah repot malah tampak dua gadis yang sama menyebalkannya dengan Mika”, gerutu Aruto di dalam hati.


Aruto pun mempersilahkan Fanya dan Astha untuk duduk di sofa, tapi melarangnya untuk duduk di sofa dua seaternya. Karena sofa itu adalah singgasananya yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.


Fanya dan Astha duduk sendiri di sofa singlenya masing-masing. Merasa canggung karena Aruto yang tampak seorang raja duduk menyilangkan kakinya dan menyandarkan kepalanya di singgasananya tersebut sambil melipat tangan.


“Sudah petang begini, ngapain kalian datang berkunjung? Gak ada kerjaan?”, ucap Aruto ketus.


“Ehehe..”, Fanya dan Astha tidak berani menjawab.


“Maaf ya kalo kalian WA tapi aku gak sempet balasnya. Banyak kejadian menyebalkan sehingga membuatku tidak sempat pegang HP”, ucap Mika melirik tajam ke arah Aruto.


“Mika, kami ke sini mau menginap”, ucap Astha.


“Iya. Besok kan hari minggu. Kita ingin bersenang-senang bersamamu Mika”, imbuh Fanya.


“Tentu saja”, balas Mika menyetujuinya.


“Ka-ka-kaliann?”, Aruto semakin kesal. Banyak tanda kesal bermunculkan di kepala Aruto. Mika pun tidak mempedulikannya.


“Kalo begitu, ayo aku ajak ke kamarku”, ajak Mika.


“Mika! Amika?! Kamu mengacuhkanku?”, tanya Aruto 


“Gak usah didengarin ya gals”, pinta Mika seraya mendorong kedua temannya untuk segera naik dan masuk ke dalam kamarnya.


“AMIKAA!!”


“Gals, ini kamar gue. Bagus kan?”


“Oh my Ghost.. Daebak!! Bagus banget kamar kamu Mika, luas lagi”


“Benar-benar kamar cewek yang sangat sempurna. Suaminya ternyata sangat perhatian, Mika. Dia sangat memahami apa yang diinginkan para gadis di kamarnya”, sahut Astha.


“Sudah. Jangan membahas dia”, timpal Mika.

__ADS_1


“Okei. Mika, kami membawa sesuatu untukmu”


Fanya menunjukkan sebuah paper bag berisi sesuatu yang sangat rahasia. Memberikannya kepada Mika supaya Mika bertanya-tanya dan penasaran. 


Fanya dan Astha saling bermain mata dan menahan rasa tawanya. 


“Apa ini?”


Mika mengambil barang tersebut dan menariknya ke atas dengan kedua tangannya. Melihat sebuah pakaian yang tidak biasa baginya, dia langsung menjerit histeris.


“Mu-mukyyaaa!! I-ini apaan Fanyaaaa!!!”


“Hehe.. ini namanya pakaian dalam seksi. Hadiah dari kita berdua”


“Kau gila ya?! Mana mungkin aku mau pake beginian?!”


“Eehh.. jangan menolak. Jika kamu menolaknya aku akan memberikannya kepada suamimu”


“Fanya Astha, gue bisa usir kalian berdua ya kalo mencoba memprovokasi gue!!”


“Ya jangan donk. Kita disini kan mau pesta piyama bersama. Masa tega sih disuruh pulang. Jangan ya Mika”, ucap Fanya merajuk.


“Baiklah baik. Gue singkirin aja nih pakaian kotor. iiuuhh..”


“Kalo gitu ayo kita segera ganti dengan baju piyama”, ajak Astha.


Mika dan kedua sahabatnya mulai berganti pakaian tidur. Mereka tidak malu melihat satu sama lain saat berganti pakaian bersama. Saat Mika mencoba mengangkat kaos hitamnya untuk dia lepas ke atas, dia baru sadar bahwa pakaian yang dia kenakan ternyata berbeda dari sebelumnya.


“Mika ada apa?”


“Ti-tidak”, jawab Mika kosong


“Mika?”


“Gak, gak mungkin. Gak mungkin kalo dia berani mengganti bajuku”, batin Mika.


“Ada apa dengannya?”, tanya Fanya terheran-heran bersama Astha.


“Gak! Enggak Mungkin!! Engggaakk!!”


“Dasar Amika, teriakannya sampai menggetarkan ketenanganku”, gerutu Aruto. Dia masih berdiam diri di singgasananya sambil terpejam kesal mengatasi kebandelan Mika.


Aruto selalu senang duduk di singgasananya, karena dari tempatnya tersebut dia bisa melihat langsung ke arah kamar Mika yang tepat berada di hadapannya di lantai dua. Moment yang selalu dia tunggu adalah saat Mika berjalan keluar kamar dan menuruni tangga melingkarnya. Membuat Aruto kagum.


“Mika, kita haus nih”, ucap Fanya.


“Kalian kesini gak bawa minum sendiri?”, tanya Mika sinis dan masih kesal menanggapi pakaiannya.


“Iya kita kan bertamu di rumahmu yang mewah, pasti kami akan dijamu dengan sesuatu yang mewah juga”, balas Fanya santai.


“Ngarep banget”, sindir Astha


“Kalian jangan mengharapkan apa-apa di rumah ini. Di rumah ini itu gak ada apa-apanya. Malahan hantu, setan dan demit yang akan menghibur kalian”, ucap Mika.

__ADS_1


“Kok gitu sih?”


“Makanya, kalo kalian kesini harus bawa makanan dan minuman sendiri”


“Yah sia-sia donk kita ngarep dapat hidangan istimewa”, Fanya mengeluh.


“Emang HIK apa?”, gerutu Mika seraya berdiri dan hendak keluar kamar untuk mengambilkan minuman dan beberapa camilan yang ada di dapur.


“Mika, mau kemana?”, tanya Astha


“Aku akan mengambilkan minuman dan beberapa camilan. Kalo ada, kalo ada lho ya”, canda Mika sambil menyeringai.


Mika mulai menuruni tangga, dan benar Aruto begitu antusias mengarahkan pandangannya kepada Mika yang sedang menuruni tangga. 


Gadis cantik berambut wolfcut benar-benar menarik perhatian Aruto, si raja singa. Kakinya tanpa alas kaki begitu indah saat menuruni satu persatu anak tangga. Aruto terpana melihat kedatangan Mika.


Seperti biasa Mika mengacuhkan pandangannya dari Aruto. Meskipun langkahnya menjadi semakin grogi karena tatapan tampannya dari Aruto, Mika berusaha untuk teguh dan dingin. Apalagi, Aruto telah menggantikan bajunya. Mika harus berusaha lebih untuk menyembunyikan rasa malunya itu.


“Jika aku jatuh hati dengan gadis ini, apakah aku akan berhenti menikahi gadis lain?”, batin Aruto.


“Entah kenapa, rasanya berbeda. Hatiku benar-benar bergejolak”, Aruto pun berdiri.


“Jangan mendekat”, batin Mika semakin deg-degan.


Aruto berjalan menghampiri Mika yang semakin melangkah turun hingga sampai di lantai bawah. Mika mencoba untuk tenang dengan berpegangan dengan pilar tangga.


“Mau apa?”, tanya Mika memberikan tatapan tajam dengan bibir manyunnya.


“Kenapa gue jadi deg-degan”, batin Aruto yang sudah berada tepat di hadapan Mika.


“Minggir. Aku mau lewat”, ucap Mika acuh.


“Kapan aku boleh menyebutkan namaku kepadamu?”


“Eh?”


“Mika, kapan aku boleh menyebutkan namaku kepadamu?”, tanya Aruto lebih jelas


“Itu..”, Mika sendiri pun bingung. Dia semakin berjalan karena tidak bisa memberikan jawaban apapun kepada Aruto.


“Mika! Lihat aku dengan matamu”


“Tidak! Gak mau!”


“Mika. Aku akan memperbaiki sikapku untukmu”


“Enggak. Aku gak percaya”


“Mika!” Seketika Aruto menarik tangan gadis itu dan memberikan ciuman paksa kepadanya lagi. 


“Hentikan!”


Aruto tidak peduli, dia tetap memaksa memberikan ciuman kepada Mika, meskipun Mika terus memberontak. Aruto ingin menyentuh hati Mika dengan ciumannya, tapi Mika kembali menangis.

__ADS_1


__ADS_2