
"Bagaimana bisa kamu memahamiku jika kamu terus menciumku dengan paksa?", elak Mika.
Mika menghapus ciuman yang masih basah di bibirnya dan menghapus air matanya yang mengalir. Kedua tangannya mengepal kesal dan berani mendorong pundak Aruto dengan tinjunya.
"Seberapa keras kamu mencoba itu tidak akan berpengaruh padaku!"
"Jlep! Mulut gadis ini benar-benar tajam", batin Aruto tidak percaya.
"Cukup sakit untuk didengar tapi semakin membuatku tertantang"
"Amika!", panggil Aruto dengan sigap langsung mendahuluinya dan menahan pintu kulkas.
"Apa lagi?"
"Ayo ikut aku", ajak Aruto
"Kerling kerling"
"Kerling kerling"
Sebuah panggilan masuk di ponsel Aruto. Aruto yang masih saja perang omelan dengan Mika seketika menghentikannya.
Dia yang masih kurang peka perhatian kepada Mika langsung beranjak pergi dan mengangkat panggilan tersebut.
"Dasar! Pria yang super sibuk kek gitu kok mau kasih perhatian lebih sama gue. Pembohong!", gerutu Mika.
Mika membuka isi kulkas dan hanya mendapatkan air mineral, buah-buahan dan sayuran segar.
"Bener. Gak ada camilan apapun di sini"
Terpaksa Mika mengambil buah-buahan tersebut beserta air mineralnya. Dia pun berjalan kembali ke kamar.
"Mika, apa kita bisa online di sini?" tanya Fanya.
"Ada sih wifi, tapi aku gak tau passwordnya", Jawab Mika sambil tertawa kemudian meletakkan apa yang dia bawa di atas karpet berwarna pink.
"Ngapain pake wifi? kuota internetmu kan selalu melimpah Fanya", timpal Astha.
"Ssttt! Dasar kamu Astha, elo gak tau yang namanya the power of nebeng? Gratisan itu lebih dari segalanya tau!"
"Kalo kamu mau online wifi, kamu bisa pake itu laptop Fanya. Aku baru sekali sih pake, tapi aku lebih suka mainan HP", sahut Mika seraya membuka aplikasi WAnya.
"Baiklah, akan aku pake", jawab Fanya.
Mika fokus melihat-lihat isi pesan WA. Bahkan saat pacarnya WA, dia membukanya dengan santai.
"Ricky..", gumam Mika.
"Apa aku harus memberitahunya kalo aku sudah menikah. Eh, menikah?. Aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar sudah menikah. Huff"
__ADS_1
Mika membalas pesan WA Ricky dengan sikap yang biasa saja, seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
Ricky merindukan Mika, Mika tersenyum. Mereka sangat jarang untuk bertemu satu sama lain, tapi cukup rutin untuk berkirim pesan melalui WA. Bercanda dan berbagi cerita bersama.
Mika merasa sangat bersalah kepada Ricky, karena dia telah menikah tanpa sepengetahuannya. Gadis itu akan dirundung kecemasan dan perasaan tidak tenang karena itu.
Walaupun mereka berdua seumuran, Mika masih mencoba untuk percaya kepada Ricky bahwa suatu saat mereka akan menikah bersama, entah kapan.
"Tapi, kalo aku punya harapan untuk menikah dengan Ricky, bagaimana dengan pernikahanku sekarang?", Mika mulai pusing.
"Mika ada apa?", tanya Astha yang sedang mengupas buah jeruk. Dia ternyata sedari tadi memperhatikan ekspresi Mika.
"Kamu masih mengharapkan Ricky?"
"Astha, Gue bingung.. Kenapa hidup gue semakin rumit saja jika harus terus aku pikirin", keluh Mika.
"Lebih baik kamu jujur aja sama Ricky bahwa kamu sudah menikah, Mika"
"Tapi, aku ingin bisa menikah dengan Ricky"
"Whats?!", Fanya ikut turun bicara.
"Kamu kan sudah menikah, Mika. Apa kamu bermaksud ingin meninggalkan suamimu itu?", lanjutnya.
"Aku tidak bisa mempercayainya. Dia sangat asing bagiku, meskipun dia kaya, ganteng dan tampak pria yang sangat cerdas, aku yakin dia masih punya niat jahat kepadaku"
"Mika.. Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu. Siapa tau kalo kamu sudah kenal dekat dengannya maka perlahan-lahan rasa sayangmu akan muncul dengan sendirinya" Nasehat Fanya.
"Coba dipikir sedikit aja deh Mika. Ricky jarang sekali menemui, dia seperti pria yang kurang bertanggung jawab dan rasa beraninya juga masih dipertanyakan" ucap Astha
"Juga, wanita itu kan punya batas usia untuk menikah kalo cowok mah bebas mau menikah diusia berapapun. Sepasang kekasih jika sudah lama menjalin hubungan pasti salah satu pihak akan menanyakan tentang pernikahan, lalu jika pihak satunya seolah beralasan berarti memang perlu dipertanyakan itu, Mika", sahut Fanya.
"Thanks Gals, kalian memang selalu bisa memberiku nasehat dan santai menanggapi masalahku ini", ucap Mika
"Aku akan mencoba menanyakan lagi kepada Ricky kalo gitu"
"Good Girl", puji Fanya.
Fanya kembali fokus membuka sosmednya di laptop milik Mika. Dia melihat sebuah postingan yang menarik perhatiannya.
"Mi-Mika! Sini deh!", panggil Fanya mendadak.
"Ada apa?", tanya Mika sambil meninggalkan ponselnya di kasur tidurnya.
"Lihat ini! Ada kompetisi sketsa anime. Lomba membuat komik strip fanfic anime, Mika"
"Eeh?"
"Kamu harus ikut Mika, kamu kan pandai sekali menggambar. Sibukkan aja dirimu dengan ikutan ini. Pasti ini bisa sedikit menghibur hatimu"
__ADS_1
"Seriously? Sibuk kok menyenangkan, mager itu baru menyenangkan", Mika melenguh
"Dasar Mika! Ayo semangat donk", ucap Fanya tetap memaksa.
"Oke deh akan gue coba"
"Yay!! Mika selalu bisa membuat hati kita lega", sambung Astha menyeringai.
"Apa sih yang enggak buat kalian berdua", balas Mika tersenyum ramah dengan sangat tulus.
Fanya dan Astha pun langsung menghampirinya dan memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Sabar yah Mika, badai pasti berlalu"
"Jangan merasa sendiri, karna kami selalu ada untukmu selamanya"
"Terima kasih my best forever"
"Tok tok tok"
Suara pintu kamar Mika karena ada seseorang yang sedang mengetuknya. Mika merasa tidak bersemangat, namun Fanya dan Astha tersenyum usil.
"Ciiee.. Dicariin tuh", goda Fanya.
"Ppfff", balas Mika.
Mika berjalan dan membuka pintu kamarnya, dan benar, Aruto lah yang mengetuk pintu kamarnya.
Aruto mencoba iseng untuk melihat keadaan Mika, jika pintu tidak dibuka berarti Mika dan kedua temannya telah tidur. Tapi, ternyata Mika belum tidur karena dirinya membukakan pintu.
"Ku-kupikir kamu sudah tidur?", tanya Aruto menjadi canggung.
"Mau apa?", tanya Mika sinis.
"Eehh.. Jangan gitu donk Mika. Angkat lesung pipimu itu dan berikan dia senyum", ucap Fanya ikut mendekat dan menggerakkan pipi dan membuatkan senyum di bibir Mika.
Fanya melirik kepada Astha untuk mengambilkan paper bag yang berisi hadiah untuk Mika. Seketika Astha paham dan membawakannya untuknya.
Fanya punya rencana. Dia tiba-tiba menyerahkan paper bag itu kepada Aruto.
"O o o oppa. Ini hadiah dari kami berdua, mohon diterima yah", ucap Fanya sedikit grogi.
"Kalian mau apa?", tanya Mika curiga.
Astha langsung mendorong Mika keluar kamar hingga jatuh dipelukan Aruto. Tanpa basa basi lagi Fanya langsung mengunci pintu kamar Mika dari dalam.
"Kalian mau apa?!", tanya Mika semakin tegas.
Aruto hanya bisa heran dan bingung dengan apa yang sedang terjadi. Dia yang sedang tidak berniat untuk mengganggu Mika jadi bingung sendiri hendak berbuat apa.
__ADS_1
Bingung..
"Fanya! Buka pintunya. Fanyaaa!!!"