Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Iya, Aruto merindukan ayahnya


__ADS_3

"Amika, jika perutmu suatu saat akan berubah ukuran apa kamu tidak mempermasalahkannya?", tanya Aruto lurus, namun masih mengelus perut istrinya.


"Aku tidak tau..", balas Mika.


"Amika, sejak awal aku sudah mengatakan bahwa aku pria yang sangat sibuk dan tidak tertarik sedikitpun terhadap wanita, apalagi harus repot-repot mengurus seorang istri. Kamu tau maksudku?"


"Um.. Kamu, akan tetap membawaku ke lembaga penyalur tenaga kerja?"


"Tidak. Bukan seperti itu. Aku akan memberimu dua pilihan. Apa kamu tetap bersedia menjadi istriku atau kamu ingin aku lepaskan?"


"Aru, jangan mencoba mengecewakanku seperti apa yang dilakukan Ricky kepadaku"


"Hm.. Prasangkaanmu memang selalu liar yah?!", ejek Aruto tersenyum ramah.


"Maksud dia apa sih? Masalah dengan Shelin saja aku belum bisa memahaminya, sekarang dia malah memberiku dua pilihan yang membingungkan", batin Mika menatap serius ke arah suaminya.


Di samping itu, Aruto sedang bergelud dengan pikirannya sendiri. Dia sangat mencintai Mika dan ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya. Namun bila mengingat kesibukannya kembali, dia menjadi tak berdaya.


Mendengar dua pilihan yang Aruto berikan saja sudah membuat Mika kecewa apalagi jika dia akan melanjutkan lagi ucapannya. Sudah cukup bagi Aruto melihat kesedihan Mika. Sekarang, yang terpenting adalah bagaimana caranya Aruto akan membahagiakan Mika setelah ini.


"Mungkin, kata-kata serius harus aku kesampingkan dulu", batin Aruto membuat keputusan.


Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah restoran AYCE (All You Can Eat), kebebasan dalam memilih dan mengambil makanan sepuasnya. Kesenangan tersendiri untuk memanjakan perut sepuas-puasnya. Mika akan sangat bahagia jika diajak kesini.


"Aru, ini- restoran- All- you-you-you-can eat sepuasnya kan?", tanya Mika terbata-bata.


"Kamu suka?"


"Iya! Tentu saja!", balas Mika tegas.


"Masuklah jika kamu sudah sangat kelaparan"


"Baiklah kalo begitu. Aku akan jadi kucing yang langsung menyerobot makanan di depan mata! Miao!!", sahut Mika bersiap ancang-ancang.


"Eeiitts! Dasar tamak", sinis Aruto seraya langsung meraih pergelangan tangan Mika dan perlahan menautkan jemarinya ke jemari tangan kiri Amika.


"Kamu kan istriku, harus aku gandeng supaya gak malu-maluin orang", ejek Aruto.


"Whats?!", Mika merasa aneh sendiri.


"Ayo", ajak Aruto.


Mereka berdua bergandengan tangan memasuki restoran. Bersama mendatangi kasir, kemudian Aruto sendiri yang akan memesankan paket menu setelah kasir memberitahukan bahwa masih ada tempat kosong untuk mereka berdua.


"Amika, seberapa muat perutmu untuk diisi makanan di sini?"


"Sebanyak mungkin", balas Mika unjuk Gigi.

__ADS_1


"Baiklah", balas Aruto santai. Setelah memesan paket menu yang cocok, Staff pun memandu mereka berdua menuju meja kosong.


Setelah segalanya dipersiapkan, Aruto akan mulai memanggang daging di grill pan dengan perasaan tenang. Mika sendiri hanya terus menelan ludahnya yang hampir saja mulai kering.


"Mika, ingat ya. Jangan tamak. Makan pelan-pelan dan nikmatilah disetiap gigitannya", sindir Aruto.


"Ayolaah..", sahut Mika hingga seluruh tubuhnya bergetar ingin bisa segera melahap apapun yang berada di hadapannya.


"Jangan sembarangan ambil makanan. Kamu harus makan daging dulu sebelum yang lainnya!!", Aruto mulai bergidik melihat respon Mika.


"Daging lama matangnya, sedangkan ada banyak camilan di sini. Boleh ya, satu?", pinta Mika manis.


"Satu?", sinis Aruto.


"Aahh.. Aku tau, inikah katamu jika perutku akan berubah ukuran setelah makan disini?"


"Ahahaha.. Tidak masalah Aru, perutku sangat bisa menyesuaikan segala jenis makanan. Apapun makanan enak yang aku suka pasti akan habis aku makan"


"Nih, satu daging panggang dulu buatmu", balas Aruto tidak mempedulikan alasan Mika.


"Yay!! Siap bos!", Mika langsung tanggap.


Acara makan-makan pun sangat menyenangkan. Agak kesal juga melihat Mika yang suka main srobot ambil makanannya karena sudah tidak sabar.


Akhirnya, Mika merasa sangat puas telah memanjakan perutnya di sana, sedangkan Aruto sudah merasa kenyang hanya melihat Mika makan sebanyak itu. Tapi, Aruto juga ikut makan dong ya.


Segala dessert pun juga telah habis dimakan Mika. Aruto saja sampai tidak percaya melihat kegigihan Mika untuk antusias menghabiskan makanan yang dia pesankan untuknya. Dia jadi merasa tersanjung. (Haha)


"Aku jadi seperti orang mabuk. Benar-benar kenyang sekali", balas Mika.


"Jangan bilang kamu akan ke kamar mandi. Karna sia-sia jika makanan mahal ini hanya kamu muntahkan begitu saja", gerutu Aruto.


"Tenang saja.. Oughh.."


Mika teler dan merasa hendak pingsan. Dia menyandarkan sejenak kepalanya di atas meja untuk menurunkan kadar kekeyangannya.


"Mika, jangan tidur di sini. Kita harus segera beranjak sebelum diusir satpam"


"Apa?!", seketika Mika mengangkat kepalanya. "Apa kamu tidak punya uang untuk membayar ini semua?", lanjutnya.


"Bodoh", Aruto langsung menyentil dahi Mika.


"Kan sudah dibayar di kasir tadi, Amika", sahutnya lagi seraya hendak beranjak.


"Tunggu sebentar..", Mika tidak berdaya.


"Waktu kita sudah habis di sini, ayo kita pulang", pinta Aruto sembari mendekatinya.

__ADS_1


Dia mulai mengalungkan lengan Mika di lehernya dan memapahnya berjalan keluar restoran.


"Apa-apaan kamu ini, Amika"


"Aru.. Mataku kayak banyak obat nyamuknya. Ouugh.. Aku kekenyangan", keluh Mika.


"Astaga..", Aruto pun meletakkan Mika di belakang mobil dalam posisi berbaring. Dia menarik nafas sejenak di depan setir mobilnya.


Mika pules dengan perut sudah terisi penuh.


Aruto mulai menyalakan mobil dan berjalan mundur untuk keluar dari tempat parkir kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.


"ngeeng.. Whuss"


Sangat hening karena Mika sudah tidak di alam dunia, dia sedang terbuai dengan kekeyangannya sendiri.


Beberapa jam perjalanan terus berlangsung, hingga Aruto menghentikan mobilnya di suatu tempat. Tempat yang sangat asing dan sunyi. Sebuah pemakaman.


Mika membuka mata saat Aruto mematikan mesin mobil, "Apa kita sudah di rumah?", tanyanya.


"Tidak", balas Aruto menoleh dan tersenyum.


"Lalu, kita ada di mana sekarang?"


"Sebuah pemakaman, Mika"


"Pe-makaman?"


"Apa kamu mau ikut?"


"Iya"


Aruto membuka bagasi mobil dan mengambil bunga tabur yang sudah dia beli saat pergi bersama kedua ajudannya.


"Bisakah aku yang membawanya?", pinta Mika.


Aruto menyerahkannya dengan senang hati. Dia dan Mika berjalan menuju pintu masuk pemakaman. Sejenak memberi salam sembari melepas alas kaki, kemudian masuk ke dalam wilayah makam.


Melihat Aruto yang berjalan di depannya dengan pundak sedikit layu, membuat Mika cemas. Mika perlahan meraih tangan Aruto dan menggandengnya.


"Ada apa, Mika?"


"Tidak", Mika menggeleng, lalu melanjutkan, "Apa ada makam seseorang yang ingin kamu kunjungi?"


"Iya", balas Aruto singkat. Dia tersentuh dengan kepedulian Mika kepadanya, bahwa Mika ingin menguatkan hatinya yang sedang bersedih.


"Aru..", Lirih Mika merasa sedih.

__ADS_1


Aruto mendatangi makam ayahnya yang berjejer diantara makam lainnya. Makam yang terlihat hijau dan segar karena ada yang merawatnya di sana. Walaupun, Aruto sendiri sangat jarang berkunjung.


"Ayah..", sapa Aruto.


__ADS_2