Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Wanita cantik dengan Highheels


__ADS_3

"Aru, cepatlah.."


"Iya". Melihat Mika jogging tampil cantik membuatnya tidak bersemangat di pagi hari ini. Padahal, seluruh tubuhnya tertutup jaket longgar selutut dan celana training panjang. Tapi, apa yang sedang menganggu pikiran Aruto?


"Aruto! Kakimu itu panjang tapi kenapa kamu tidak bisa berlari dengan benar, hah?", ejek Mika seraya terus berlari dengan sesekali menengok ke arah suaminya yang tertinggal di belakang.


"Sudah kubilang jangan menguncir rambutmu seperti itu, tapi tetap saja kamu lakukan. Ini membuatku kesal"


Mika terus melanjutkan joggingnya. Kuncir kudanya bergoyang kesana kemari dari balik tudung jaketnya. Semangat pagi membuatnya menikmati moment tersebut.


Tiba-tiba, tidak sengaja dia menabrak seorang pria di depannya yang sedang berdiri untuk istirahat sejenak.


"Bug"


"Au! Maaf", ucap Mika sungkan. Kepalanya yang sedikit terhantuk kaget membuat tudung jaketnya pun terlepas.


Aruto langsung menangkap kedua mata Mika dengan kedua telapak tangannya, menariknya mundur untuk segera menjauh dari pria yang baru saja dia tabrak.


"Sudah kubilang kan, jangan menguncir rambutmu seperti ini", sahut Aruto seraya melepas kuncir rambut Mika dan mengeraikannya kembali. Kemudian menutupkan kembali tudung jaketnya.


"Kamu ini kenapa?!", tolak Mika.


"Jangan memperlihatkan lehermu di hadapan orang umum. Kamu mengerti?!"


"Hah? Maksudnya apa, Aru?" Tanya Mika manyun tidak mengerti.


"Udah. Ayo jalan lagi", ucap Aruto seraya menawarkan telapak tangan kanannya. Mika pun menerima tangan suaminya. Kemudian mereka berdua berlari saling beriringan.


Selesai jogging bersama, Mika dan Aruto berhenti dan duduk dipinggiran trotoar jalan. Beberapa kali meneguk air mineralnya untuk melepas dahaga.


"Permisi kak..", sapa Seorang ibu yang sedang menggendong anak kecil menghampiri keberadaan Mika dan Aruto.


"Iya bu?", balas Mika sungkan.


"Bisa tolong titip anak saya sebentar, soalnya tali sepatu saya lepas"


"Eh?", Mika teraneh-aneh sendiri namun dia pun langsung menerima anak kecil tersebut. Anak kecil yang masih berusia 6 bulan sehingga terlihat sangat lucu sekali.


"Mika, kamu berani gendong anak kecil?", tanya Aruto heran.


"Jangan meremehkanku", balas Mika menyipitkan matanya. "Aku sudah biasa gendong anaknya kakakku yang sekarang usianya sudah 1 tahun. Hff.. jadi kangen dia", lanjutnya.


"Ucucucu.. kamu lucu sekali Hana.. Aunty jadi kangen banget sama kamu", tanpa sadar Mika meliling anak kecil itu sebagai keponakannya.


"Maaf kak, namanya bukan Hana. Dia cowok kok. Namanya Nara", balas si ibu yang sudah selesai mengikat sepatu.


"O iya, maaf ya bu. Saya hanya kangen sama keponakan sendiri, hehe"

__ADS_1


Melihat sorot mata Mika yang sayu sedikit melamun namun berekspresi gembira nan tulus, mensiratkan bahwa memang benar Mika sangat merindukan keberadaan keluarganya. Namun, apa yang mau dikata, Mika selalu mengelaknya.


"Nara.. ciluk baa!!", canda Mika sekali lagi setelah anak kecil itu kembali digendongan sang ibu. Nara tertawa.


"Ba ba ba.. Nara.. Kamu suka aku ya? Hihi.. Ayo ketawa lagi, ciluk baa!!", Mika terus memainkan candaanya hingga tanpa sadar dia bahagia dan terbuai dengan naluri kasih sayangnya yang selalu dia berikan kepada keponakannya.


"Makasih ya kak, sudah bikin anak saya seneng", ucap si Ibu.


"Tidak apa-apa bu, saya suka anak kecil soalnya. Lucu dan gemesin", sahut Mika dengan sesekali mencubit canda pipi Nara.


Setelah beberapa saat bercanda dan mengobrol, Ibu beranjak pergi dan Mika melanjutkan jalannya kembali.


"Mika, mau kemana?"


"Aku lapar", balasnya sambil melet.


"Haa ah.. Itu aja kamu belum hamil lho, udah keingat makan mulu. Gimana jadinya kalo kamu hamil, aku gak mau kalo kamu jadi gendut", ejek Aruto.


"Kalo gitu gak usah ham-, ham.. ham, ehehe.. Ayo, Aru! Pagi-pagi nyoto kan seger", Mika keceplosan mengatakan kata-kata yang hampir menusuk hati suaminya lagi, namun dia langsung mengeremnya dan mengalihkan topik ke yang lain.


"Kenapa gue jadi sering kalah debat sama gadis ini, heh?! Lagian, ngapain juga gue bahas tentang hamil-hamil segala. Kacau nih pikiran!", gerutu Aruto di dalam hati. Garis hitam selalu menghantui pikirannya dan membuatnya tidak berdaya menerima perlakuan Mika.


"Sebenarnya, ngapain aja sih gue!!"


Beberapa jam pun berlalu, Mika dan Aruto pulang ke rumah. Disambut oleh dua ajudan kesayangan tuan Bos, Joya dan Moya.


"Pagi Joya Moya", sapa Mika ramah dan ceria.


"Semangat sekali sepertinya, Non", balas Joya.


"Iya, habis jogging tadi, iya kan Aru?"


Semakin hari, sikap Mika terlihat sangat menyenangkan. Energic dan cheerful. Aruto pun tidak menyangka bahwa gadis cuek dan suka gerundel seperti Mika bisa semenyenangkan itu.


"Aku harus menjaga kebahagiaannya", batin Aruto tersenyum


"Oya, Joya Moya. Nih, aku bawain sarapan buat kalian berdua?"


"Sa-sarapan, Non? Se-se-seumur hidup tuan Bos tidak pernah sepeduli itu ke kita, Nona Mika", balas Joya tersanjung.


Aruto hanya terus menggaruk kulit kepalanya karena gatal, iya memang karena gatal. Emang karena apa lagi coba?, Malu kesindir sama kebaikan Mika?, uhuk!!.


Mereka berdua berjalan masuk ke rumah. Tak disangka mobil expander putih miliknya datang dan hendak masuk ke dalam halaman rumah. Moya segera membukakan pintu gerbang kembali.


"Bos, sepertinya, Nona Shelin datang", ucap Joya melalui earphonenya dan segera terhubung di earphone milik tuan Bos.


"Apa?!"

__ADS_1


"Ada apa, Aru?", Mika ikut kaget mendengar jawaban Aruto.


"Mika, sebaiknya kamu masuk kamar dan kunci pintunya"


"Kenapa?"


"Nanti aku jelasin, okei", balasnya ramah seraya mendorong pundak Mika untuk segera naik ke lantai dua.


"Kenapa?!"


"Pegang ipad ini dan selesaikan komikmu"


"Aru!!"


Aruto bergegas menuju depan rumah dan segera menyambut kedatangan Shelin. Benar adanya, Shelin Gerald datang ke rumah Aruto, sendirian dan tampil beda.


Wanita cantik itu mulai turun dari mobil dengan highheels dan dress slimsuitnya, tidak lupa sehelai pasmina memeluk lembut pundak cantiknya. Kaca mata hitam segera ia silakan di kepala dan tampak bola mata indah berlensa kontak menghipnotis dua ajudan Aruto.


"Nona Shelin?", Sapa Moya.


"Mana Aruto?"


"Sebentar, akan saya panggilkan"


Langkahnya bak seorang model membuatnya percaya diri melangkahkan kakinya memasuki rumah Aruto tanpa rasa sungkan. Seperti sudah menganggapnya sebagai rumah sendiri.


Dia duduk dan langsung menyilangkan kakinya, Aruto sudah menunggunya dengan bersandar dibalik dinding ruang tamu.


"Aruto, aku membawa kembali mobilmu"


"Untuk apa?", tanya Aruto santai.


"Haah", sejenak Shelin mengambil nafas, kemudian melanjutkan "Gue masih tidak percaya elo akan berhenti menikahi gadis-gadis untukku, Aruto"


"Kau melakukannya seperti hendak berpisah dengan gue, Apa gue melakukan kesalahan sehingga elo berhenti menikah demi gue?"


"Gue sibuk, Shelin"


"Kesibukanmu apa? Hah? Selalu menjadikan kesibukan sebagai alasan. Gue paham betul tentangmu, mana bisa elo menyembunyikan sesuatu dari gue"


"Aku sudah punya is-"


Shelin langsung menyela, "Nikahi gue!", ucap Shelin tanpa beban. Meski keraguannya sangat nyata, tapi keinginannya bulat demi bisa memiliki Aruto seutuhnya, sebelum dia benar-benar menjadi milik orang lain.


"Apa?"


"Jika kau lelah menikahi gadis-gadis itu untukku, maka nikahilah gue, Aruto", ucap Shelin sekali lagi.

__ADS_1


"Shelin, jangan bercanda"


__ADS_2