Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Bertemu dengan Suami dan Pacar


__ADS_3

"Hufff"


Mika hanya bisa terus menghela nafas, mengingat apa yang selama ini dia lakukan dirasa sia-sia saja dan memberinya banyak penyesalan. Gadis yang sangat takut akan takdir masa depan, akhirnya akan terus merasakan kecemasan di dalam hatinya.


"Padahal aku dan Ricky sudah kenal dekat sangat lama. Kenapa endingnya begini?"


"Aku memang tidak terlalu dalam untuk menyukainya, tapi hatiku tidak bisa dibohongi bahwa aku sangat menyukai Ricky"


"Aku harus bisa merelakan semuanya. Supaya hatiku bisa lega"


Mika menatap langit yang bersih, ada satu awan yang sendirian di sana seperti dirinya. Melihat awan tersebut, Mika bisa sedikit tersenyum.


"Aku, tidak sendirian di sini", gadis itu kemudian memejamkan matanya untuk sejenak bernyanyi. Lagu Alive dari Naruto.


...Dare datte shippai wa suru nda...


...(Semua orang pernah melakukan kesalahan)...


...hazukashii koto janai...


...(Ini bukanlah sesuatu yang memalukan)...


...kono kizu o muda ni shinai de...


...(Jangan sia-siakan segala luka perihmu)...


...waratte arukereba ii...


...(Tetaplah tertawa dan semua kan baik-baik saja)...


...takusan no koukai o matotte...


...(Dengan segala penyesalan kita akan meninggalkannya)...


...aji no aru hito ni naru sa...


...(Aku akan menjadi orang yang berperasaan)...


...kanashimi mo kaze ni kaete...


...(Walaupun kesedihan menjelma menjadi angin)...


...tsuyoku susunde ikereba ii...


...(Tetaplah kuat dan semua akan baik baik saja)...


Mika sangat menyukai menyanyi, tapi dia tidak memiliki suara yang merdu untuk didengar oleh orang lain. Meski begitu, dia selalu percaya diri melakukan apa saja yang dia sukaiĀ  Setidaknya, itu bisa menyenangkan hatinya sendiri.


"Suaramu jelek sekali, Amika", ejek Aruto yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


"Kamu?"


"Ngapain kamu di sini? Bukankah kamu sedang ada kegiatan dengan dua bestimu itu?"


Sementara itu, Ricky mencari keberadaan Mika yang telah melarikan diri darinya. Meski dia memberikan kekecewaan yang sangat besar bagi Mika, dia tetap akan menghiburnya dan membuat Mika pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Kemana dia pergi?", gumamnya.


Ricky akhirnya melihat Mika sedang duduk di ayunan dengan seorang pria berdiri di sampingnya. Tidak terlihat akrab tapi sepertinya mereka telah mengenal satu sama lain.


"Ami!", panggil Ricky menghampirinya.

__ADS_1


"Ri-Ricky?", tanya Mika menoleh.


"Kok kamu lari sih tadi?, aku kan jadi bingung nyariin kamu. Syukurlah bisa ketemu di sini", ucap Ricky santai.


Aruto terdiam dengan tatapan tajam ke arah Mika, seolah tatapannya menghakiminya secara penuh. Mika yang masih bersedih mendapat satu masalah lagi.


Aruto yang sebagai suaminya bertemu dengan Ricky, si pacar Mika.


"Siapa dia, Ami?", tanya Ricky polos.


"Ami? Cih! Panggilan sayang", gumam Aruto sinis.


"Ahahaha.. bukan siapa-siapa", seketika Mika berdiri dan memotong pergulatan mata Aruto terhadap Ricky.


"Mika, katakan diriku siapa bagimu!", pinta Aruto.


"Mika?", tanya Ricky heran mendengar pria itu memanggil nama pacarnya. Ternyata Mika dan pria yang Ricky belum ketahui memang sudah saling kenal.


"Ka-kalian ini siapa? Jangan menggangguku!", Mika beralasan karena kebingungan mengatasinya, sehingga dia berencana untuk segera menghindar.


"Ami?"


"Mika!"


"Se-sebaiknya aku pergi dulu", ucap Mika latah.


"Mika!"


"Ami?"


Ucap Aruto dan Ricky bersamaan, mereka berdua pun sama-sama menangkap tangan Mika.


"Jangan!!", bentak Mika


"Ami, siapa dia?", tanya Ricky lebih lembut.


"Tuhan.. tolong saya, aku benar-benar sangat bersalah disini, tapi selamatkan saya dari mereka berdua", batin Mika sungguh-sungguh.


"AMIKA!!"


"Kerling kerling"


"Kerling kerling"


Tiba-tiba ponsel Aruto berbunyi. Sedikit kesal akan gangguan tersebut, namun Aruto pun mengangkat panggilannya dan sedikit menjauh dari mereka berdua.


Mika akhirnya bisa menghela nafas lega. Di samping itu, Ricky memberikan perhatian lebih untuk Mika. Dia tidak ingin lagi membahas pria itu dihadapan Mika.


"Ami, kamu gakpapa? Maaf ya, kalo aku membuatmu kecewa"


"Umm.."


Ricky dan Mika pun akhirnya sejenak mengobrol kembali. Sedangkan, Aruto masih fokus menanggapi panggilannya.


Shelin melakukan panggilan telepon kepada Aruto. Dia menanyakan keberadaannya kemudian berencana memintanya untuk datang di standnya berada.


"Aruto, datanglah ke stand gue. Gue lagi ada di alun-alun nih. Ada yang ingin aku tunjukkan"


"Alun-alun?"


"Kenapa? Gak mau?, Gue bisa nyuruh dua bohimku untuk jemput elo kalo elo gak mau"

__ADS_1


"Elo suka sekali ngrepotin, heran deh gue. Gue kan lagi sibuk sekarang. Jangan ganggu gue, Shelin!"


"Dah ya. 15 menit gak dateng, suruhanku akan segera menjemputmu!", Shelin langsung menutup telfonnya.


"Shelin! SHELIN!!"


"Shelin?", Mika menoleh mendengar panggilan itu.


"Keterlaluan! Gue harus ke sana sekarang juga sebelum dua suruhannya datang ke rumah dan tau kalo gue sedang tidak di rumah, melainkan di sini. Bisa berabe nanti"


Aruto hendak menghampiri Mika tapi hatinya sudah keburu malas dan menjadi acuh akhirnya dia langsung meninggalkannya.


"Dia pergi", gumam Mika.


"Ami, setelah ini kamu mau kemana? Kalo mau pulang, aku akan mengantarmu", ucap Ricky.


"Aku.. di sini sebenarnya bersama Fanya dan Astha. Jadi, setelah ini aku akan menemui mereka", ucap Mika tertunduk.


"Sudah gak usah bersedih ya. Percaya dirilah menghadapi masa depanmu, aku akan selalu mendukungmu, Ami", ucap Ricky tanpa beban.


"Ricky, apa setelah ini kita akan putus?"


"Apa?"


"Umm.."


"Aku tidak ingin putus denganmu Mika. Ya sudah kalo gitu. Kabari aku ya kalo kamu sudah luang nanti. Aku akan pergi sekarang"


"Umm.."


Aruto berjalan mencari stand milik Shelin. Menyusuri jalan setapak sambil melihat ke sekeliling. Akhirnya dia menemukannya.


"Shelin, ada urusan apa elo sama gue?"


"Sini! Gue sudah punya banyak target untuk jadi agen kita. Daripada elo gue suruh ke kantor, mending disini aja langsung"


"Gue sedang males nikah, Shelin. Lagian, gue itu gak asal-asalan nikahi anak orang. Harus bener-bener dari orang yang membutuhkan uang"


"Wkwkwk.. Aruto males nikah? Salah denger gue? Gak biasanya gitu", sindir Shelin tidak peduli dengan alasan Aruto.


"Haish! Berikan fotonya kalo gitu!", Aruto tidak ingin memberikan alasan lagi. Hatinya sedang galau pikirannya pun jadi malas.


"Nih" Shelin memberikan ponselnya kepada Aruto dan memperlihatkan foto-foto gadis yang dipotret oleh dua bohimnya saat mereka mendatangi stand tersebut.


Aruto sangat malas melihat-lihat foto gadis tersebut, ada sekitar sembilan gadis yang terus dia geser hingga dia tiba-tiba menemukan Mika di sana. Seketika dia kaget dengan mata yang terbelalak.


"Mika?", sebutnya.


"Ada apa Aruto? Itu beberapa gadis yang akan menjadi targetmu untuk elo nikahi. Beberapa gue juga sudah mendapatkan identitas mereka. Lihatlah catatan gue kalo elo mau"


"Se-sebentar."


"Kapan dia bisa disini? Baru aja? Iya, bahkan pacarnya sedikit terfoto di sini", batin Aruto.


Aruto sedikit curiga. Dia masih fokus memandangi foto Mika dan memang benar itu foto dia. Tanpa sepengetahuan Shelin, Aruto langsung menghapus foto tersebut.


Aruto membaca identitas hasil tulisan Shelin, tapi dia tidak mendapati identitas Mika di sana. Dia bersyukur, meski sedikit ada perasaan khawatir.


"Baiklah. Gue akan bawa buku catatan ini dan gue tidak perlu foto mereka", pungkas Aruto kemudian berjalan meninggalkan Shelin.


Shelin menatap kepergian Aruto, dia berkacak pinggang dan tersenyum karena hatinya merasa lega dan senang.

__ADS_1


__ADS_2